Liputan6.com, Jakarta - Suasana siang itu di Watulangkah, Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Sleman, tampak tenang. Jalanan yang membelah kawasan tersebut tidak seramai pusat Kota Yogyakarta. Namun, di sebuah kios sederhana di tepi jalan, pelanggan datang silih berganti.
Setiap beberapa menit, selalu ada warga yang datang. Ada yang hendak transfer uang, membayar tagihan, mengambil uang tunai, hingga melakukan berbagai transaksi perbankan lainnya. Di hari Minggu sekalipun, ketika sebagian besar orang memilih beristirahat, pelanggan tetap berdatangan. Kios itu adalah Zonalink, Agen BRILink milik Imam Nur Rahman (30).
Dalam sehari, sekitar 200 transaksi dilakukan di kios mungil itu. Pelanggannya pun beragam, mulai dari petani, pedagang, pekerja, hingga orang tua yang belum terbiasa menggunakan layanan perbankan digital.
Namun di balik ramainya transaksi itu, Imam menjadi benteng pertama pencegahan penipuan bagi masyarakat. Sudah bertahun-tahun melayani masyarakat, Imam mengaku sering menemukan calon korban penipuan yang datang ke tempatnya.
"Waduh kalau penipuan sering banget, banyaaak," ujarnya sambil tertawa kecil.
Modus yang ditemui pun terus berkembang. Mulai dari giveaway palsu yang mengatasnamakan artis hingga ancaman penyebaran foto hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI).
Hampir Kehilangan Rp15 Juta karena Motor Online
Salah satu kasus yang paling diingat Imam terjadi ketika seorang anak muda hampir kehilangan Rp15 juta akibat transaksi jual beli motor secara online. Korban saat itu percaya kepada seseorang yang menawarkan motor dengan harga menarik. Namun sebelum motor dikirim, korban diminta mentransfer sejumlah uang dengan berbagai alasan.
"Ada orang dia bilang beli motor online. Terus mau dicargoin. Tapi harus transfer ini itu dulu," kenang Imam.
Beruntung, transaksi tersebut berhasil dicegah sebelum uang berpindah tangan. Ibu dari pemuda tersebut datang menemui Imam untuk menyampaikan rasa terima kasihnya.
"Untungnya enggak jadi. Ibunya sampai ke sini, mohon-mohon ke saya, bilang terima kasih."
Seorang Ibu yang Diancam dengan Video AI
Kasus lain yang membekas dalam ingatannya seorang ibu yang terlihat gelisah datang ke kiosnya. Ibu ini berniat mengirim sejumlah uang usai mendapat ancaman dari seseorang yang mengaku memiliki foto dirinya dalam kondisi tidak pantas. Setelah ditelusuri, Imam menduga foto tersebut merupakan hasil manipulasi teknologi kecerdasan buatan atau AI.
"Ada ibu-ibu datang mau transfer karena diancam. Saya tanya kenapa. Ternyata fotonya diedit jadi mohon maaf kurang senonoh dan diancam akan disebar," ujarnya.
Meski sudah dijelaskan, sang ibu tetap diliputi rasa takut dan tetap ingin mentransfer. Imam pun tak menyerah, ia berusaha menenangkan dan memberi penjelasan yang lebih masuk akal dan membuat ibu itu berpikir.
"Saya bilang, 'Ibu, itu penipuan. Kalau ibu transfer sekarang, memangnya penipunya pasti enggak bakal nyebar? Kan bisa saja setelah ditransfer tetap disebar," jelas Imam.
Ibu itu pun berpikir sejenak hingga akhirnya mengurungkan niatnya mengirim uang.
Penipuan Giveaway Artis
Selain ancaman foto palsu, Imam juga kerap menemukan korban yang percaya dengan giveaway artis. Salah satunya adalah seorang pria yang mengaku memenangkan hadiah Rp50 juta dari seorang artis terkenal. Namun untuk mencairkan hadiah itu, ia diminta mentransfer sejumlah uang terlebih dahulu.
"Bapak-bapak bilang dapat giveaway artis Rp50 juta, tapi diminta transfer Rp3 juta dulu," kata Imam.
Tak langsung melarang, Imam memilih memberikan penjelasan yang mudah dipahami pada pelanggan.
"Saya bilang, enggak ada orang yang mau kasih Rp50 juta cuma-cuma ke orang yang enggak dikenal. Bahkan saudara sendiri saja belum tentu. Sekaya-kayanya artis, Rp50 juta itu uang besar."
Cara Imam Mencegah Nasabah Jadi Korban Penipuan
Menghadapi calon korban penipuan, Imam mengaku tidak pernah langsung memarahi atau melarang mereka melakukan transaksi. Pengalamannya selama bertahun-tahun sebagai Agen BRILink mengajarkannya bahwa pendekatan yang paling efektif adalah memberikan penjelasan yang logis dan mudah dipahami.
"Pencegahannya karena kita sudah terbiasa. Jadi kita kasih penjelasan yang masuk akal dulu. Biar mereka mikir sendiri dan akhirnya sadar," ujarnya.
Dengan cara itu, banyak pelanggan yang awalnya bersikeras melakukan transfer akhirnya mengurungkan niatnya. Pelanggan perlahan mulai menyadari ada kejanggalan dalam transaksi yang akan dilakukan. Meski begitu, tidak semua orang mudah diyakinkan. Dalam beberapa kasus, Imam menemui pelanggan yang tetap kukuh ingin mengirim uang meski sudah diberikan berbagai penjelasan.
Dalam situasi seperti itu, Imam memilih mengambil sikap tegas. Ia meminta nasabah untuk pergi ke agen BRILink lainnya.
"Kalau masih ngeyel, saya bilang silakan kalau mau ke tempat lain. Itu sudah kata-kata terakhir saya," katanya.
Tanda-tanda Pelanggan Terjerat Modus Penipuan
Sebagai orang yang setiap hari berhadapan langsung dengan masyarakat, Imam mengaku mulai hafal tanda-tanda seseorang yang sedang berada dalam jebakan penipu. Biasanya mereka datang dengan wajah bingung, terlihat ragu-ragu, atau sibuk berbicara melalui telepon.
"Ciri-cirinya biasanya orang ketipu itu bingung. Atau enggak sambil nelpon. Kayak masih ragu-ragu mau ngapain. Kalau orang yang memang tahu tujuannya biasanya fokus," jelasnya.
Menurut Imam, ekspresi wajah dan sorot mata sering kali menjadi petunjuk awal.
"Dari mimik muka, sorot mata, kelihatan" tambah Imam.
Selain dari ekspresi wajah dan perilaku pelanggan, Imam juga memiliki pengamatan lain yang cukup menarik. Menurutnya, calon korban penipuan justru sering kali bukan pelanggan tetap yang sudah ia kenal.
"Kebanyakan orangnya itu yang enggak saya kenal, hampir enggak pernah saya lihat sebelumnya," ujarnya.
Ia menduga hal itu berkaitan dengan kondisi korban yang biasanya sedang berada di bawah tekanan atau arahan pelaku penipuan. Dalam situasi seperti itu, korban cenderung memilih melakukan transaksi di tempat yang jauh dari lingkungan tempat tinggalnya agar tidak bertemu orang yang dikenal.
"Kalau misalnya lagi ditodong atau diarahin penipu, mungkin dia enggak akan pilih agen yang dekat rumah. Bisa jadi dia cari tempat yang lebih jauh karena merasa lebih aman atau enggak ketemu orang yang dikenalnya," kata Imam.
Karena itu, ketika ada pelanggan baru yang datang dengan gelagat kebingungan, terburu-buru, atau terus berkomunikasi lewat telepon saat hendak melakukan transfer, Imam biasanya akan lebih waspada dan mencoba menggali tujuan transaksi tersebut terlebih dahulu.
Imam Selalu Memastikan Transaksi Tetap Aman
Bagi Imam, menjadi AgenBRILink bukan sekadar membantu masyarakat melakukan tarik tunai, transfer, atau pembayaran tagihan. Ia merasa memiliki tanggung jawab yang lebih besar, yakni memastikan setiap transaksi dilakukan dengan aman dan tidak merugikan nasabah.
Karena itu, ia selalu menerapkan prosedur yang ketat sebelum memproses transaksi. Mulai dari mencocokkan nomor rekening, memastikan nama penerima, memeriksa virtual account, hingga mengonfirmasi nominal yang akan dikirim. Menurutnya, langkah sederhana tersebut menjadi cara paling efektif untuk mencegah kesalahan maupun potensi penipuan.
“Alhamdulillah sampai saat ini masih aman, karena saya sampai saat ini masih menerapkan SOP, konfirmasi semua rekening, nama, virtual account, jumlah. Ketika sudah pasti, uang saya terima, baru transaksi,” ujarnya.
Kehati-hatian itu terlihat dalam kesehariannya melayani pelanggan. Meski antrean transaksi terus berdatangan, Imam tidak terburu-buru memproses permintaan nasabah. Ia beberapa kali terlihat mengonfirmasi kembali tujuan transaksi sebelum uang disetorkan dan diproses.
Meski lebih memakan waktu, kebiasaan untuk selalu melakukan konfirmasi ulang itu terbukti membantu banyak pelanggan. Tak sedikit transaksi mencurigakan yang berhasil dicegah sebelum uang berpindah ke tangan pelaku penipuan.
Di tengah maraknya berbagai modus kejahatan digital, peran AgenBRILink seperti Imam menjadi semakin penting. Mereka tidak hanya menghadirkan layanan perbankan yang lebih dekat dengan masyarakat, tetapi juga menjadi tempat bertanya, berkonsultasi, dan mendapatkan perlindungan dari berbagai modus penipuan yang terus berkembang.
BRI Imbau Nasabah Verifikasi Informasi
Pengalaman Imam menghadapi berbagai kasus penipuan menunjukkan bahwa modus kejahatan digital terus berkembang. Jika dulu pelaku banyak menggunakan undian atau hadiah palsu, kini mereka memanfaatkan teknologi hingga menyetuh sisi psikologis untuk menekan korbannya.
Korban biasanya dibuat panik, takut, atau tergesa-gesa sehingga tidak sempat berpikir panjang sebelum mengirim uang. Modusnya pun beragam, mulai dari telepon, pesan singkat, aplikasi percakapan, email, hingga media sosial.
Corporate Secretary BRI, Dhanny Purnomo, mengingatkan masyarakat untuk tidak pernah memberikan data pribadi maupun data perbankan yang bersifat rahasia kepada siapa pun. Data tersebut meliputi PIN, password, kode OTP, maupun informasi pribadi lainnya.
"Setiap permintaan data rahasia nasabah dapat dipastikan merupakan indikasi penipuan. Masyarakat diharapkan selalu melakukan verifikasi informasi melalui kanal resmi BRI," ujar Dhanny.
Ia mengimbau masyarakat untuk memastikan setiap informasi yang diterima berasal dari kanal resmi BRI, baik melalui website resmi, media sosial resmi, maupun Contact BRI 14017 atau 1500017.
Di tengah berbagai modus yang semakin beragam, kewaspadaan menjadi hal yang penting. Seperti yang dilakukan Imam di kios kecilnya di Gamping, terkadang satu pertanyaan sederhana atau sedikit waktu untuk berpikir ulang bisa menjadi pembeda antara transaksi biasa dan upaya penipuan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8256902/original/046737600_1781175388-Rakernas_Apdesi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8256899/original/013596100_1781174982-741940.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5559990/original/038897500_1776655094-cuci_darah__3_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8248000/original/037953600_1781109186-WhatsApp_Image_2026-06-09_at_16.17.29.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8255941/original/009773000_1781133892-1001345873.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8231407/original/080885800_1781091846-07.27_____07.30_3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8222109/original/004826600_1781082157-737032.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8220054/original/022676000_1781079796-VID-20260609-WA0115.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8219930/original/081075200_1781079717-736044.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8144570/original/011814900_1780997461-VID-20260609-WA0042.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8138592/original/035931100_1780990903-1000836873.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8127164/original/080575300_1780978705-IMG_7562.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8078272/original/086814400_1780924039-gamelan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8066303/original/049490300_1780910940-1001340088.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8061345/original/057878100_1780905535-WhatsApp_Image_2026-06-08_at_00.13.10__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7836138/original/024120000_1780656855-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8038190/original/079747100_1780880372-Jepretan_Layar_2026-06-05_pukul_07.58.19.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7991239/original/027718000_1780829112-25._BYD_Tech_Culture_Fest_Medan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7973817/original/064778100_1780810584-851c2549-dee4-44b6-baa4-effd22f2f146.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7921972/original/008525400_1780754421-IMG_20260605_195921.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2408415/original/054935400_1542192174-Pasar-saham-Indonesia5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522592/original/086641300_1772769941-1001716059.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5280801/original/097453400_1752281943-AP25189527502082__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509252/original/080084700_1771669777-Lokasi_anggota_Brimob_diduga_aniaya_pelajar_MTs_di_Tual_Maluku.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509994/original/069472800_1771813365-IMG-20260223-WA0007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5873691/original/093224900_1778774366-Bukan_lilin_biasa____tapi_apa_yang_membuatnya_istimewa_____Swipe_dan_temukan_jawabannya______scentedca__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1285023/original/047248200_1468217217-20160711-Layanan-Samsat-Keliling-HEL3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545819/original/058042400_1775210778-IMG_20260403_161322.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4140041/original/079196900_1661823451-30_agustus_2022-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502545/original/040891600_1770987061-IMG-20260213-WA0013.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1817916/original/096432200_1514865744-20180102-IHSG-FF2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537841/original/020270100_1774468938-IMG_20260313_113512_559.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5359436/original/029861900_1758670607-WhatsApp_Image_2025-09-24_at_06.35.24_209b2d99.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3356528/original/090932500_1611299592-20210122-IHSG-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5539459/original/042034000_1774601091-Depositphotos_233856638_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1401511/original/009072700_1478763262-20161110-Hari-ini-IHSG-di-buka-menguat-di-level-5.444_04-AY2.jpg)