Cerita Dzaky Jahit Mulut Saat Prabowo ke Lampung

19 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Aksi jahit mulut yang dilakukan mahasiswa saat menyambut kunjungan Presiden Prabowo Subianto di Lampung menjadi perhatian publik. Salah satu peserta aksi, Dzaky Oktarian, mengungkap cerita di balik keputusan berani tersebut, mulai dari proses persiapan hingga reaksi keluarganya.

Dzaky merupakan anggota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Lampung. Ia menjadi salah satu mahasiswa yang menjahit mulutnya sebagai bentuk protes simbolik dalam aksi unjuk rasa di kawasan Tugu Adipura, Kota Bandar Lampung, Rabu, 10 Juni 2026.

"Kondisinya kurang lebih baik. Karena tadi kena anestesi juga dan enggak terlalu dalam jahitannya. Jadi memang aksi simbolis saja," kata Dzaky saat diwawancarai Liputan6.com, Kamis (11/6/2026).

Dia menjelaskan terdapat empat titik jahitan yang dipasang di bagian kanan dan kiri bibirnya. Jahitan tersebut dipasang oleh seorang perawat dan dilepas sekitar pukul 15.00 WIB setelah terpasang selama kurang lebih empat jam.

Sebelum menjalani aksi, Dzaky mengaku melakukan sejumlah persiapan, termasuk berpuasa sehari sebelumnya sesuai saran tenaga kesehatan untuk meminimalkan risiko pembengkakan dan infeksi.

Meski telah mendapatkan anestesi, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Lampung itu mengaku tetap merasakan nyeri saat proses penjahitan berlangsung.

"Perih memang, tapi setelah dianestesi rasanya seperti ditarik saja," ujarnya.

Dzaky mengakui sempat muncul rasa takut dan keraguan sebelum menjalani aksi yang baru pertama kali dilakukannya tersebut. Terlebih, aksi itu menjadi perhatian banyak media dan masyarakat.

"Sempat ada keraguan karena ini baru pertama kali dan dilihat banyak orang. Tapi saya anggap ini bentuk ekspresi, jadi saya siap," ungkapnya.

Di sisi lain, keluarganya juga sempat khawatir mengetahui rencana aksi tersebut. Bahkan, menurut Dzaky, keluarga sempat melarangnya mengikuti aksi jahit mulut.

"Yang pasti keluarga khawatir. Mereka mendukung aktivitas organisasi saya, tapi untuk aksi seperti ini memang sempat melarang," jelasnya.

Meski demikian, Dzaky tetap menjalankan aksinya bersama rekan-rekannya. Ia menegaskan seluruh peserta menyetujui aksi tersebut tanpa adanya paksaan.

"Semua hasil diskusi bersama. Tidak ada paksaan. Kami mencari cara agar aspirasi yang disampaikan lebih diperhatikan dan tidak mudah dilupakan," kata dia.

Aksi jahit mulut mahasiswa LMND Lampung tersebut viral di media sosial dan menjadi salah satu sorotan dalam rangkaian kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Provinsi Lampung.

Simbol Kritik Kondisi Demokrasi

Sebelumnya, kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Provinsi Lampung pada Rabu (10/6/2026) diwarnai aksi demonstrasi mahasiswa yang tergabung dalam LMND Lampung. Massa menggelar aksi simbolik jahit mulut di kawasan Tugu Adipura, Kota Bandar Lampung.

Pantauan Liputan6.com di lokasi menunjukkan sejumlah mahasiswa berdiri di sekitar bundaran Tugu Adipura sambil membentangkan spanduk bertuliskan "Rakyat Menjerit, Nilai Tukar Melejit" dan "Wujudkan Pendidikan Gratis, Ilmiah, dan Demokratis".

Aksi tersebut menarik perhatian pengguna jalan yang melintas di pusat Kota Bandar Lampung. Sejumlah peserta tampak menjahit bibir mereka menggunakan benang sebagai bentuk protes terhadap kondisi demokrasi dan kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.

Selain membawa spanduk, massa aksi juga mengibarkan bendera merah dan menyampaikan orasi secara bergantian. Aparat kepolisian tampak berjaga di sekitar lokasi untuk mengamankan jalannya aksi sekaligus mengatur arus lalu lintas.

Aksi berlangsung bertepatan dengan agenda kunjungan Presiden Prabowo ke Lampung untuk meresmikan sejumlah fasilitas pelayanan publik dan menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) HIPMI.

Koordinator Lapangan aksi, Josua Sitorus, mengatakan aksi jahit mulut merupakan simbol kondisi demokrasi yang menurut mereka tengah mengalami kemunduran.

"Jahit mulut ini sebenarnya simbolis. Kami melihat bagaimana suara-suara sipil dibungkam. Padahal masyarakat sipil hanya memiliki suara dan pikiran kritis untuk menyampaikan aspirasi," kata Josua kepada wartawan di sela aksi, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, aksi tersebut menjadi bentuk kritik terhadap berbagai persoalan yang dinilai tengah dihadapi masyarakat, mulai dari sulitnya lapangan pekerjaan, tekanan ekonomi, hingga kebijakan pemerintah yang dianggap kurang menyentuh kebutuhan rakyat.

"Kami ingin menunjukkan bahwa rakyat sedang menghadapi banyak kesulitan. Ada anak muda yang belum mendapatkan kepastian kerja, ada masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," ujarnya.

Dalam aksi tersebut, LMND Lampung menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah.

Pertama, mendesak penerapan pajak kekayaan terhadap kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi guna mengurangi kesenjangan ekonomi.

"Kami melihat ketimpangan ekonomi semakin nyata. Karena itu, sudah saatnya negara menerapkan pajak kekayaan terhadap kelompok yang menguasai sebagian besar aset nasional," kata Josua.

Kedua, mahasiswa mendesak pemerintah mewujudkan pendidikan gratis, ilmiah, dan demokratis. Menurut mereka, akses pendidikan yang setara masih menjadi persoalan di berbagai daerah.

Ketiga, menghentikan apa yang mereka sebut sebagai remiliterisasi di ruang-ruang sipil. Massa menilai keterlibatan unsur militer dalam sejumlah sektor sipil perlu dievaluasi.

Selain itu, mereka juga menyoroti kondisi ekonomi nasional, termasuk melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan berbagai program pemerintah yang dinilai perlu dievaluasi dari sisi keberlanjutan anggaran.

Dia menilai pemerintah perlu lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk sektor pendidikan dan kesehatan.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |