Kolaborasi Suami Istri Bikin Usaha Tas Kulit Asal Sukoharjo Berhasil Lalui Masa-Masa Sulit

15 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Tidak sedikit usaha yang lahir dari sebuah rencana yang telah dipikirkan lama. Namun berbeda dengan Bingah Leather Craft yang merupakan usaha tas kulit asal Sukoharjo, Jawa Tengah ini justru tumbuh dari perjalanan panjang seorang perempuan yang sempat berjualan batik sambil bekerja kantoran. Dari sana, dirinya harus menghadapi berbagai tantangan hidup sebelum akhirnya menemukan jalan usahanya sendiri.

Diceritakan sang owner, Agustina Sulistyaningrum, bahwa, usaha yang kini menjadi sumber penghidupannya berawal dari aktivitas sampingan yang dijalankan di sela-sela pekerjaannya sebagai karyawan sebuah perusahaan distributor multimedia.

Perjalanan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Mulai dari usaha yang sempat berhenti karena kondisi keluarga, pandemi Covid-19 yang mengubah arah hidupnya, hingga persaingan produk impor yang membanjiri pasar menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi.

Di tengah berbagai kondisi tersebut, Agustina tidak berjalan sendirian. Dukungan serta upaya kolaborasi bersama sang suami menjadi salah satu faktor yang membuat Bingah Leather Craft tetap bertahan hingga saat ini.

Dari Jualan Batik Sambil Bekerja hingga Menemukan Peluang Tas Kulit

Jauh sebelum mendirikan Bingah Leather Craft, Agustina lebih dulu mengenal dunia usaha melalui penjualan kain batik. Saat tren batik sedang berkembang pada 2010, ia mencoba menjual berbagai produk batik sambil tetap bekerja sebagai karyawan.

Aktivitas tersebut dijalankan secara sederhana. Ia menawarkan produk kepada teman-teman dan memanfaatkan media sosial untuk menjangkau calon pembeli. Perlahan usaha itu berkembang dan mampu bertahan selama beberapa tahun. Namun perjalanan tersebut harus terhenti ketika ayahnya jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia. Kondisi keluarga membuat Agustina memutuskan menghentikan usaha yang telah dirintisnya dan kembali fokus pada pekerjaan utama.

Kesempatan untuk kembali berwirausaha datang pada pertengahan 2018 ketika seorang perajin menawarkan tas berbahan kulit kepadanya. Awalnya ia hanya mencoba menjual beberapa produk kepada teman-teman terdekat. Di luar dugaan, tas tersebut mendapat respons yang cukup baik dari pasar.

"Waktu itu saya ambil beberapa tas kulit dan coba menjualnya ke teman-teman. Ternyata malah laku, dari situ saya mulai berpikir untuk serius menjalankan usaha lagi," ujar Agustina, saat disambangi Liputan6 di rumah sekaligus galerinya, di Jalan Sejahtera, Dusun II, Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, Jumat (5/6).

Nama Bingah Lahir dari Kepuasan Pelanggan

Meningkatnya permintaan membuat Agustina mulai membangun identitas usahanya secara maksimal. Ia lantas mencari nama yang mampu mewakili harapan sekaligus pengalaman yang dirasakan para konsumennya. Inspirasi tersebut datang dari berbagai komentar positif pelanggan yang merasa puas setelah membeli produknya.

Banyak pelanggan mengaku senang dan menyukai tas yang mereka beli. Dari situlah muncul ide menggunakan kata "Bingah", yang dalam bahasa Sunda memiliki makna bahagia atau senang. Nama tersebut dipilih setelah berdiskusi dengan suaminya yang berasal dari Jawa Barat.

Menurut Agustina, nama tersebut menjadi gambaran sederhana tentang tujuan usahanya, yakni menghadirkan produk yang membuat pelanggan merasa puas saat menggunakannya.

"Saya sempat mencari, apa nama yang cocok ya, terus saya tanya ke suami, hingga muncul lah kata Bingah yang dalam bahasa Sunda itu artinya suka atau senang, dan sekarang jadi Bingah Leather Craft sebagai merek usaha saya," katanya.

Memilih Produk yang Awet dan Memiliki Umur Panjang

Agustina mengaku sengaja memilih produk berbahan kulit karena melihat kebutuhan masyarakat terhadap tas yang tahan lama. Pengalaman pribadi menggunakan berbagai jenis tas menjadi salah satu alasan yang memperkuat keputusannya.

Ia pernah membeli berbagai tas berbahan sintetis maupun kanvas yang tidak mampu bertahan lama. Sebaliknya, tas kulit yang dikenalnya justru memiliki daya tahan lebih baik dan tetap nyaman digunakan meski telah dipakai bertahun-tahun. Pandangan tersebut membuatnya yakin bahwa produk kulit memiliki peluang usaha yang lebih panjang dibandingkan produk fashion yang cepat berubah mengikuti tren.

Saat ini Bingah Leather Craft memproduksi berbagai tas berbahan kulit asli, mulai dari tas perempuan, sling bag, ransel pria hingga produk berbasis ecoprint yang mulai dikembangkan mengikuti kebutuhan pasar.

"Saya ingin punya usaha yang napasnya panjang. Produk kulit itu awet, kuat dan bisa dipakai dalam waktu yang lama," ujar Agustina.

Bertahan di Tengah Serbuan Produk Murah dari Luar Negeri

Tantangan terbesar yang dihadapi Bingah Leather Craft saat ini bukan lagi soal produksi, melainkan pemasaran. Agustina mengaku persaingan produk fashion semakin ketat, terutama setelah banyak produk impor masuk ke pasar Indonesia.

Menurutnya, banyak produk berbahan sintetis dari luar negeri yang dijual dengan harga jauh lebih murah, bahkan memiliki tampilan yang sekilas menyerupai kulit asli. Kondisi tersebut membuat sebagian konsumen lebih memilih produk murah dibandingkan produk lokal yang menggunakan bahan berkualitas.

Meski demikian, Agustina memilih tidak mengikuti arus tersebut. Ia tetap mempertahankan penggunaan bahan yang sesuai dengan identitas usahanya dan berusaha menjaga kualitas produk yang dihasilkan.

Baginya, mempertahankan keaslian produk menjadi hal penting agar usaha yang telah dibangun selama bertahun-tahun tidak kehilangan karakter.

"Saya tidak ingin menjual produk yang tidak sesuai dengan identitas usaha saya. Kalau saya ikut-ikutan, sama saja saya mengkhianati usaha yang sudah dibangun sejak awal," katanya.

Suami Jadi Partner Bisnis Andalan Agustina

Di balik perkembangan Bingah Leather Craft, ada peran Dede Muslim, suami Agustina, yang ikut terlibat dalam proses produksi. Keterlibatan tersebut bermula ketika pesanan mulai bertambah dan membutuhkan bantuan tenaga tambahan.

Dede mengaku awalnya tidak memiliki kemampuan menjahit produk kulit. Ia hanya memiliki pengalaman dasar menjahit pakaian. Namun seiring berkembangnya usaha, ia mulai belajar mengerjakan berbagai tahapan produksi secara mandiri.

Kini dirinya membantu berbagai proses mulai dari menjahit, memotong bahan, menempelkan lem hingga memastikan kualitas produk sesuai standar yang ditetapkan. Peran tersebut menjadi penting terutama ketika Bingah Leather Craft menerima pesanan dalam jumlah besar dari berbagai instansi maupun perusahaan.

"Awalnya saya tidak punya kemampuan menjahit kulit. Saya belajar di sini sambil membantu produksi dan sekarang ikut mengerjakan berbagai pesanan yang masuk," ujar Dede.

BRIncubator BRI Membantu Menumbuhkan Semangat dan Ide Baru

Di tengah tantangan usaha yang semakin dinamis, Agustina memperoleh kesempatan mengikuti program BRIncubator yang diselenggarakan Rumah BUMN Solo binaan BRI. Program tersebut menjadi salah satu titik penting yang membantunya melihat peluang baru dalam mengembangkan usaha.

Melalui berbagai pelatihan yang diberikan, Agustina mendapatkan materi seputar pemasaran, keuangan, pengembangan usaha hingga pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Salah satu materi yang paling berkesan baginya adalah penggunaan AI untuk membantu membuat foto produk yang lebih menarik. Sebelumnya, ia mengaku belum memahami bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk mendukung pemasaran usaha.

Menurut Agustina, pelatihan tersebut tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membantu membangkitkan kembali semangat untuk terus bertahan dan berinovasi di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.

Sementara bagi Dede, dukungan tersebut menjadi modal penting agar usaha keluarga yang mereka bangun bersama dapat terus berkembang di masa mendatang.

"Saya Insya Allah selalu siap untuk kolaborasi dengan istri di usaha Bingah Leather Craft ini. Harapannya usaha ini bisa terus berkembang dan melayani berbagai kebutuhan pelanggan," kata Dede.

"Waktu ikut BRIncubator saya jadi tahu pemanfaatan AI untuk foto produk. Ternyata sangat membantu dan membuat saya kembali punya semangat untuk mengembangkan usaha," ujar Agustina.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |