Obligasi Syariah Diproyeksi Jadi Instrumen dengan Permintaan Paling Tinggi

3 months ago 72

Liputan6.com, Jakarta Obligasi syariah diperkirakan akan tetap menjadi instrumen dengan permintaan paling tinggi hingga akhir 2025. Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Salvian Fernando, menyampaikan tingginya minat investor terhadap obligasi syariah salah satunya didorong oleh ketersediaan yang terbatas dibandingkan instrumen lainnya.

“Yang demandnya masih tinggi pertama tentu-pasti obligasi syariah. Demandnya biasanya paling tinggi. Kenapa? Karena supply terbatas,” ungkapnya  dalam sesi edukasi wartawan mengenai outlook pasar obligasi kuartal IV 2025, Selasa (30/9/2025).

Menurutnya, tingginya permintaan ini memberikan sinyal kuat bahwa pasar tetap memiliki keyakinan terhadap instrumen berbasis syariah. Kondisi ini juga memperlihatkan meskipun pasar obligasi secara keseluruhan sudah mengalami penguatan sejak awal tahun, investor masih menaruh minat tinggi pada instrumen yang berbasis prinsip syariah karena karakteristik dan keterbatasan pasokannya.

Salvian menilai momentum di kuartal IV akan tetap menjadi periode penting bagi investor ritel untuk memanfaatkan peluang yang ada, termasuk pada obligasi syariah yang permintaannya sangat besar. 

Ia juga menekankan bahwa pola minat pasar terhadap instrumen syariah sudah berlangsung konsisten dalam beberapa tahun terakhir dan masih akan berlanjut pada akhir 2025.

Peluang Investasi saat Rupiah Melemah dan Koreksi Imbal Hasil Obligasi

Sebelumnya, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah selama sepekan. Rupiah ditutup di sekitar level 16.700, tetapi masih di bawah titik tertinggi pada 2025 di kisaran 16.870 pada April.

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS itu sebagian didorong oleh penguatan data Amerika Serikat (AS) baru-baru ini yang menyebabkan indeks dolar AS menguat ke 98,5, dibandingkan titik terendah pada bulan ini di 96,6. Hal itu didorong kekhawatiran investor global terhadap perubahan kebijakan domestik seperti defisit fiskal yang lebih lebar dan reshuffle kabinet baru-baru ini.

Selain itu, pemangkasan suku bunga yang mengejutkan oleh Bank Indonesia memberikan tekanan positif pada mata uang.

Bank Indonesia (BI) telah meningkatkan komitmennya untuk menjaga stabilitas mata uang melalui berbagai langkah yang diambil, baik di pasar domestik maupun luar negeri.

"Berdasarkan langkah-langkah yang diambil oleh BI, kami melihat bahwa fokus telah bergeser ke arah pertumbuhan domestik di mana lebih banyak keleluasaan telah diberikan kepada mata uang, namun BI kemungkinan akan melanjutkan intervensi aktif untuk menekan lonjakan volatilitas nilai mata uang,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (28/9/2025).

Defisit Fiskal jadi Perhatian

Berita utama terbaru yang memengaruhi mata uang termasuk estimasi defisit fiskal yang lebih luas dari sebelumnya 2,48% menjadi 2,68% pada 2026. Meskipun defisit telah melebar, estimasi tersebut tetap di bawah batas atas 3%.

Pasar sedang memantau pengeluaran yang diusulkan, khususnya terkait transparansi dan apakah pengeluaran akan condong ke inisiatif-inisiatif produktif.

Dalam jangka pendek, defisit yang diusulkan lebih tinggi kemungkinan akan meningkatkan jangka waktu premi hingga rincian lebih lanjut dirilis.

Secara keseluruhan, rupiah telah melemah sejak bulan lalu, tetapi BI telah melakukan intervensi untuk menjaga stabilitasnya.

"Kami yakin mata uang ini masih dapat melihat stabilitas sebagai skenario dasar, namun volatilitas dapat kembali jika DXY menguat akibat data AS yang mengejutkan,”.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |