Strategi Investasi BlackRock 2026: Fokus AI, Pendapatan, dan Diversifikasi Portofolio

11 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - BlackRock, manajer aset terbesar di dunia, memasuki 2026 dengan rencana investasi yang jelas. Strategi tersebut dibangun di atas tiga pilar utama, yakni kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pendapatan (income), dan diversifikasi portofolio.

Kepala divisi equity exchange-traded funds (ETF) BlackRock, Jay Jacobs, menjelaskan bagaimana ETF menjadi instrumen penting dalam menyesuaikan strategi investasi di tengah perubahan pasar global. Saat ini, BlackRock mengelola dana investor lebih dari USD 13 triliun.

Jacobs menekankan bahwa investor tetap perlu fokus pada pertumbuhan, namun pendekatan yang lebih presisi akan semakin dibutuhkan dibandingkan eksposur pasar yang terlalu luas.

“Yang pertama adalah melihat apa saja peluang pertumbuhan terbesar di pasar saat ini,” kata Jacobs dalam acara ETF Edge dikutip dari CNBC, Minggu (11/1/2026).

“Di sinilah investor harus benar-benar fokus secara tajam untuk menemukan eksposur yang lebih terarah, seperti kecerdasan buatan, yang berpotensi berkinerja sangat baik dalam kondisi saat ini," tambah dia. 

Pandangan tersebut sejalan dengan annual outlook BlackRock untuk 2026 bertajuk “AI, income & diversifiers” yang dirilis awal pekan ini.

Belanja Infrastruktur AI Tetap Tinggi

BlackRock menilai AI masih berada dalam siklus investasi jangka panjang yang sangat intensif modal. Belanja infrastruktur tetap tinggi, sementara peningkatan produktivitas dan pertumbuhan laba didorong oleh investasi terkait AI. Perusahaan juga menilai tema AI belum menunjukkan tanda-tanda kejenuhan.

Saat ini, BlackRock menawarkan sejumlah ETF berbasis AI, salah satunya iShares A.I. Innovation and Tech Active ETF, yang telah mengelola aset lebih dari USD 8 miliar. Selain itu, berbagai ETF AI lain juga tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Jacobs juga menyoroti tingginya konsentrasi pasar saham AS, di mana sejumlah saham teknologi berkapitalisasi besar menyumbang porsi imbal hasil yang sangat besar. Saham yang dikenal sebagai Magnificent Seven kini mencakup lebih dari 40 persen bobot indeks S&P 500.

“Konsentrasi tersebut bisa menjadi keunggulan, tapi juga bisa menjadi kelemahan,” ujar Jacobs.

“Saat ini tingkatnya sudah mencapai level tertinggi secara historis," tambah dia. 

Sisi Pendapatan

Kondisi ini mendorong investor menjadi lebih selektif dalam menentukan tingkat konsentrasi portofolio. Sebagian investor mulai memperluas eksposur, termasuk melalui pendekatan equal-weight, untuk mengelola risiko.

Dari sisi pendapatan, Jacobs menilai ekspektasi penurunan suku bunga acuan Federal Reserve menjadi alasan kuat menjadikan income sebagai fokus utama. Penurunan suku bunga berpotensi menekan imbal hasil instrumen berbasis kas, seperti pasar uang.

“Kita berada dalam lingkungan suku bunga yang sedang menurun. Kami memperkirakan akan ada beberapa kali penurunan suku bunga tahun ini. Karena itu, kita perlu mencari sumber pendapatan baru untuk mendiversifikasi portofolio dan menghasilkan pendapatan darinya,” kata Jacobs.

Diversifikasi

Pilar ketiga strategi BlackRock adalah diversifikasi. Volatilitas pasar yang semakin sering terjadi serta kepemimpinan pasar yang sempit membuat portofolio tradisional, seperti strategi 60:40 antara saham dan obligasi, dinilai kurang efektif dalam kondisi tekanan.

“Di mana sebenarnya Anda bisa mendapatkan diversifikasi yang nyata untuk portofolio?” ujar Jacobs. “Aset yang mampu bergerak berbeda dibandingkan saham dan obligasi.”

Menurut Jacobs, investor memang diuntungkan oleh kinerja kuat pasar saham AS dalam satu dekade terakhir. Namun, ia mengingatkan bahwa mengharapkan kinerja serupa ke depan akan berisiko.

“Dalam 10 tahun terakhir, indeks S&P 500 mencatatkan imbal hasil tahunan rata-rata sebesar 13,5 persen, dan banyak pihak memperkirakan angkanya akan lebih rendah ke depan,” tuturnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |