Tarif Impor Trump 15% Hantui Eksportir, Saham Apa yang Paling Terancam?

14 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Rencana kenaikan tarif impor Amerika Serikat (AS) yang dipatok Presiden Donald Trump sebesar 15% dinilai berpotensi memberi tekanan terhadap kinerja emiten berorientasi ekspor di Indonesia.

Pengamat Pasar Modal Reydi Octa, menggakan kebijakan tersebut dapat memengaruhi daya saing produk Indonesia di pasar AS, terutama bagi perusahaan yang menggantungkan sebagian besar pendapatannya dari negara tersebut.

Ia menilai dampak kebijakan ini cenderung negatif bagi emiten yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasar AS. Kenaikan tarif berisiko menggerus margin keuntungan karena harga produk menjadi kurang kompetitif dibandingkan negara pesaing.

"Dampaknya cenderung negatif untuk emiten yang pendapatannya sangat tergantung pasar AS. Margin bisa tergerus," kata Reydi kepada Liputan6.com, Senin (23/2/2026).

Sektor-sektor yang paling terdampak umumnya berasal dari industri tekstil, alas kaki, furnitur, hingga berbagai produk manufaktur. Jika kebijakan diterapkan secara luas, tekanan terhadap kinerja keuangan emiten di sektor tersebut diperkirakan akan semakin terasa dalam jangka pendek hingga menengah.

"Yang paling terdampak biasanya tekstil, alas kaki, furnitur, hingga produk-produk manufaktur," ujarnya.

Potensi Sektor Diuntungkan di BEI

Sebaliknya, sektor yang berorientasi domestik relatif lebih diuntungkan karena tidak bergantung pada pasar ekspor. Emiten perbankan, telekomunikasi, serta consumer staples dinilai lebih tahan terhadap gejolak akibat kebijakan tarif impor tersebut.

"Yang relatif diuntungkan adalah sektor berorientasi domestik seperti perbankan, telekomunikasi, consumer staples, karena tidak bergantung ekspor," ujarnya.

Selain itu, apabila terjadi pergeseran rantai pasok global (supply chain), kawasan industri dan sektor logistik berpotensi ikut dilirik dalam jangka menengah. Relokasi produksi atau perubahan jalur distribusi bisa membuka peluang baru bagi pelaku usaha di dalam negeri.

IHSG Berpotensi Volatil, Investor Disarankan Selektif

Kebijakan kenaikan tarif impor AS juga berpotensi memicu volatilitas jangka pendek di pasar saham, termasuk pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sentimen global yang muncul akibat kebijakan perdagangan tersebut dapat memengaruhi psikologi pasar dalam waktu singkat.

"Potensi volatilitas jangka pendek cukup besar karena sentimennya global. Tapi ini lebih ke sentimen daripada fundamental jangka panjang," ujar Reydi.

Dalam kondisi seperti ini, investor disarankan untuk lebih selektif. Strategi yang dapat ditempuh antara lain memilih emiten dengan basis pendapatan domestik, menghindari saham dengan eksposur ekspor tinggi ke AS, serta memanfaatkan momentum koreksi untuk mengakumulasi saham-saham berkapitalisasi besar dengan fundamental yang solid.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |