Investor Sensitif terhadap Data Ekonomi AS

11 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Pasar keuangan kembali normal dengan aktivitas perdagangan yang kembali meningkat pada pekan pertama Januari 2026. Pasar saham domestik mengalami likuiditas yang cukup dengan rata-rata transaksi harian yang tinggi pekan ini. Di mana reli terjadi di berbagai sektor saham dan investor asing terus membeli saham.

Di antara 11 sektor saham, sektor saham bahan baku dan industri masing-masing melonjak 6,2% dan 6,19%. Sementara itu, sektor saham teknologi bebani pasar dengan merosot 0,61%.

Di sisi lain, investor asing beli saham USD 106 juta atau Rp 1,78 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.822). Selain itu, harga nikel melonjak yang mendorong saham-saham terkait nikel melesat dengan katalis utama termasuk rencana kuota penambangan lebih ketat pada 2026.

Pelaku pasar global di pasar LME juga mengambil posisi yang memicu pergerakan harga yang besar sebelum merosot. Selain saham, lelang obligasi pemerintah Indonesia pertama menunjukkan permintaan yang kuat mencapai Rp 90 triliun dari total pemerintah menerbitkan sekitar Rp 40 triliun dengan tingkat imbal hasil yang lebih dekat ke penawaran terendah.

"Hal ini telah mendukung kepercayaan dan sentimen di pasar obligasi domestik,” demikian seperti dikutip dari riset PT Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (11/1/2026).

Sementara itu, di pasar global, pasar memulai tahun ini dengan nada mirip akhir tahun lalu dengan aset berisiko masih berkinerja baik. Akan tetapi, investor semakin sensitif terhadap rilis data dari Amerika Serikat (AS).

Sentimen The Fed

Mengingatkan data telah tertunda sejak penutupan pemerintahan AS, investor terus memantau dan menunggu data lebih lanjut yang akan dirilis untuk memberikan gambaran tentang lowongan pekerjaan memperkuat pandangan kalau pasar tenaga kerja AS terus mendingin tetapi tetap kuat.

“Pasar sedang menunggu data lebih lanjut seperti tingkat pengangguran yang diperkirakan tetap tinggi 4,6%,” demikian seperti dikutip.

Pekan ini, Gubernur the Federal Reserve (the Fed) Stephen Miran percaya suku bunga harus turun 150 basis poin (bps) pada 2026 untuk mendukung pasar tenaga kerja. Di sisi lain, ada lebih banyak anggota the Fed dengan pandangan berbeda tentang inflasi dan risiko pengangguran.

Selain itu, politik di the Fed terus menjadi faktor penentu dalam jangka pendek, dengan berakhirnya masa jabatan ketua the Fed Powell pada Mei 2026 di mana pimpinan berikutnya mungkin lebih cenderung untuk melakukan pemangkasan suku bunga lebih agresif.

“Secara keseluruhan, data AS mungkin akan mendorong volatilitas dan sentimen risiko dalam jangka pendek karena pasar mencerna kondisi ekonomi untuk sisa tahun ini,” demikian seperti dikutip.

Stabilitasi Rupiah jadi Pertimbangan BI

Untuk Indonesia, angka inflasi terbaru menunjukkan tingkat lebih tinggi dari yang diperkirakan (tingkat tahunan tertinggi sejak April 2024) terutama didorong oleh harga pangan dan emas.

Namun, ini masih dalam kisaran target bank sentral antara 1,5%-3,5%. Di sisi lain, tekanan tetap ada pada mata uang dengan koreksi yang berkelanjutan.

“Dalam jangka pendek, stabilitas rupiah tetap menjadi pendorong utama keputusan Bank Indonesia pada pertemuan berikutnya dua minggu lagi,” demikian seperti dikutip.

Seiring hal itu, Ashmore merekomendasikan untuk menyeimbangkan kembali portofolio investor ke arah saham karena potensi kenaikan tetap ada pada 2026.

“Katalis utama termasuk efek pengganda yang lebih besar karena suku bunga pinjaman secara bertahap menurun untuk mendukung aktivitas investasi,” demikian seperti dikutip.

Selain itu, kondisi saat ini berbeda dari awal tahun lalu, khususnya likuiditas yang lebih melimpah yang didukung kebijakan domestik, suku bunga rendah yang diperkirakan berdampak terhadap ekonomi riil serta pengeluaran fiskal lebih signifikan.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |