Investor Ritel Kuasai 52% Transaksi Harian Pasar Modal pada Awal 2026

14 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan porsi investor ritel telah menyumbang 52 persen terhadap total rata-rata nilai transaksi harian pasar modal sepanjang 2026 hingga saat ini year to date (ytd). Nilai transaksi yang berasal dari investor ritel tercatat sekitar Rp 16 triliun per hari.

"Asing berkontribusi kira-kira 30 persen (terhadap transaksi harian) dan selebihnya adalah institusi domestik kita,” kata Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam acara Economic Outlook 2026, Kamis (12/2/2026).

Jeffrey menjelaskan, hingga saat ini pada 2026, rata-rata nilai transaksi harian di BEI mencapai sekitar Rp 32 triliun per hari. Angka tersebut meningkat dibandingkan rata-rata sepanjang 2025 yang sebesar Rp 18,1 triliun per hari.

Seiring dengan kenaikan aktivitas perdagangan, jumlah investor ritel per 11 Februari 2026 tercatat mencapai 21,3 juta. Sejak awal tahun hingga 11 Februari 2026, terdapat tambahan 1,3 juta investor baru. Sementara itu, sepanjang 2025 total penambahan investor mencapai 5,4 juta.

Terkait rencana penyesuaian ketentuan free float menjadi minimal 15 persen, BEI mengakui adanya kekhawatiran mengenai potensi tekanan dari sisi pasokan saham di pasar.

Jeffrey menyampaikan, pihaknya telah melakukan berbagai kajian untuk mengantisipasi dampak yang mungkin muncul agar penerapannya tetap terkendali.

Dari 956 perusahaan tercatat di BEI, sebanyak 268 emiten masih memiliki free float di bawah 15 persen. Namun, jika difokuskan pada 49 perusahaan, kelompok tersebut mewakili sekitar 90 persen kapitalisasi pasar dari seluruh emiten yang belum memenuhi ketentuan tersebut.

“Bagaimana 49 perusahaan ini bisa kita atur dengan baik supaya pasar kita tetap imbang. Oleh karena itu, kami menyediakan hot desk untuk perusahaan-perusahaan tercatat bisa berdiskusi dengan kami bagaimana timing-nya disesuaikan dengan kondisi pasar supaya mereka bisa menambahkan float di pasar tetapi tidak akan mengganggu kestabilan pasar,” jelas dia.

Upaya BEI

Di sisi lain, BEI juga memperhitungkan sisi permintaan yang dinilai terus menguat. Pertumbuhan signifikan jumlah investor ritel serta peningkatan aset investor ritel menjadi faktor yang menopang demand di pasar.

Tambahan permintaan juga diperkirakan datang dari kebijakan pemerintah yang memberi ruang lebih luas bagi institusi domestik untuk menempatkan investasi di pasar modal hingga 20 persen.

Jeffrey menambahkan, BEI terus berupaya menjaga kepercayaan investor asing sekaligus mendorong masuknya aliran dana baru dari luar negeri.

"Hari ini kita sama-sama bekerja keras untuk memastikan tidak hanya investor asing tetap ada di sini, tetapi bagaimana supaya lebih banyak lagi investor asing datang. Itu juga adalah potensi demand kita,” kata dia.

Ia menegaskan, BEI akan terus mencermati respons pasar terhadap berbagai kebijakan tersebut guna memastikan proses pembentukan harga (price discovery) berlangsung secara efisien.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga integritas dan transparansi pasar, serta memastikan mekanisme perdagangan berjalan secara teratur, wajar, dan efisien.

Investor Ritel Dominasi Pasar, HSBC Tetap Optimistis pada IHSG

Sebelumnya, pasar saham Indonesia menunjukkan kebangkitan signifikan sejak awal kuartal II 2025 didorong oleh saham-saham energi dan teknologi seperti emiten data center.

Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Investment Global Research, Herald van der Linde menilai kondisi ini masih menyisakan ruang kenaikan, didukung oleh valuasi yang menarik serta potensi arus masuk investor lokal maupun asing.

Dia menilai, pasar saham Indonesia sempat menjadi salah satu yang berkinerja terburuk pada awal tahun akibat kekhawatiran berlebihan terhadap pertumbuhan ekonomi dan ketidakpastian seputar struktur pasar.

“Pasar saham Indonesia sempat menjadi salah satu yang berkinerja paling buruk sejak awal tahun. Namun itu mulai berubah di awal April dan semakin menguat setelah akhir Juni,” ujarnya dalam media briefing, Jumat (8/8/2025).

Herald menjelaskan reli yang terjadi sejak dua bulan terakhir lebih banyak didorong oleh saham berkapitalisasi menengah (mid-cap), terutama dari sektor energi serta perusahaan yang terkait teknologi kecerdasan buatan (AI), seperti emiten data center PT DCI Indonesia Tbk.

Prospek Menengah IHSG

Dia menuturkan, pemulihan pasar juga dipicu oleh arus dana domestik. Investor ritel tercatat mendominasi sekitar 50% transaksi selama periode tersebut.

Selain faktor teknikal, HSBC juga melihat prospek jangka menengah IHSG masih menjanjikan, terutama karena valuasi yang tergolong rendah dibanding negara kawasan maupun historisnya sendiri. Saat ini, IHSG diperdagangkan di kisaran 12 kali price-to-earnings ratio (PER), sedikit di bawah rata-rata regional.

“Indonesia tetap menjadi pasar dengan nilai yang cukup menarik. Sebagian besar investor asing masih menunggu, tapi ada tingkat kepercayaan yang cukup besar bahwa pertumbuhan sedang pulih,” ia menambahkan.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |