Indeks Nikkei Jepang Cetak Rekor Baru Lagi, Sentuh 58.000 Usai Pemilu

1 day ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Nikkei 225 di Jepang menguat hingga sentuh rekor baru di tengah bursa saham Asia yang melesat Kamis, (12/2/2026). Indeks Nikkei 225 mencapai 58.000 untuk pertama kali dalam sejarah, dan memperpanjang reli setelah pemilihan umum (Pemilu). Kenaikan indeks acuan ini dipicu kepercayaan yang diperbarui pada politik domestik dan agenda ekonomi pemerintahan yang berkuasa.

Mengutip CNBC, indeks Topix menguat 0,68%.  Indeks acuan itu telah mencatat beberapa level tertinggi baru dalam beberapa hari terakhir. Pengamat menilai, hal itu didorong oleh apa yang disebut perdagangan Takaichi menyusul kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Sementara itu, perusahaan investasi global GMO mencatat kemenangan telak Takaichi dalam pemilihan cepat memberinya mandat multi-tahun yang luar biasa kuat untuk menjalankan kebijakan yang dipandang secara luas sebagai dukungan bagi pasar dan sektor korporasi Jepang.

Meskipun ekuitas telah menguat dan investor obligasi tampak tenang, GMO mencatat risiko intervensi dapat meningkat jika yen mendekati 160 terhadap dolar AS.

Pasar-pasar lain di Asia juga mengabaikan data penggajian AS yang lebih kuat dari perkiraan, yang telah meredam ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve dan menyebabkan saham-saham AS turun semalam.

Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 1,12%, sementara indeks Kosdaq untuk saham berkapitalisasi kecil bertambah 0,22%. Indeks ASX 200 di Australia menguat 0,42% pada awal sesi perdagangan. Indeks Hang Seng berjangka berada di posisi 26.2006, lebih rendah dari penutupan sebelumnya di 27.266,38.

Di wall street, indeks Dow Jones mengakhiri kenaikan dalam tiga hari berturut-turut setelah laporan pekerjaan Januari yang lebih baik dari perkiraan.

Kinerja Wall Street

Indeks saham unggulan tersebut kehilangan 66,74 poin, atau 0,13%, dan ditutup pada 50.121,40. S&P 500 hampir datar di 6.941,47. Nasdaq Composite turun 0,16% dan berakhir di 23.066,47.

Laporan penggajian non-pertanian Januari dari Biro Statistik Tenaga Kerja menunjukkan pertumbuhan pekerjaan sebesar 130.000 pada bulan Januari. Ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan kenaikan sebesar 55.000. Pertumbuhan pekerjaan pada bulan Desember direvisi ke bawah menjadi 48.000.

Pasar tenaga kerja yang kuat telah mengurangi kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve. Laporan pekerjaan ini menyusul data konsumen yang lebih lemah dari perkiraan yang dirilis pada hari Selasa. Laporan tersebut menunjukkan pengeluaran konsumen pada Desember stagnan, meleset dari perkiraan kenaikan bulanan sebesar 0,4% yang diprediksi oleh para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones.

Penutupan IHSG pada 11 Februari 2026

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan Rabu sore (11/2/2026) di zona hijau. Penguatan ini mencerminkan meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap prospek pasar modal Indonesia, didukung sentimen domestik dan global yang relatif positif.

IHSG ditutup menguat 159,23 poin atau 1,96 persen ke level 8.290,96. Sejalan dengan itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga naik 12,50 poin atau 1,51 persen ke posisi 841,94.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan penguatan IHSG ditopang oleh sejumlah faktor, mulai dari optimisme investor, laporan kinerja keuangan emiten, hingga faktor teknikal. Selain itu, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut memberikan sentimen positif.

"Penguatan IHSG antara lain didorong oleh meningkatnya optimisme investor akan pasar modal Indonesia, laporan kinerja keuangan emiten, serta faktor teknikal. Rupiah juga berlanjut menguat terhadap dolar AS," ujar Ratna Lim dikutip dari Antara, Rabu (11/2/2026).

Ratna memproyeksikan tren penguatan masih berlanjut pada perdagangan Kamis (12/2/2026). Menurutnya, IHSG berpeluang menguji area resistance di kisaran 8.350 hingga 8.400.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |