AS dan Israel Serang Iran, Pasar Global Bersiap Hadapi Gejolak Besar

8 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Pelaku pasar global bersiap menghadapi potensi gejolak besar setelah Amerika Serikat (AS) bersama dengan Israel mengonfirmasi telah meluncurkan “operasi tempur besar” di Iran. Langkah ini dinilai memiliki dampak yang jauh lebih luas dibanding sejumlah ketegangan geopolitik sebelumnya.

Presiden AS Donald Trump menyatakan militer Amerika telah memulai “major combat operations” di Iran. Beberapa kementerian di bagian selatan ibu kota Iran, Teheran, dilaporkan menjadi target, menurut sumber pejabat Iran.

Selama ini, pasar cenderung mampu menyerap berbagai guncangan geopolitik dan ekonomi, termasuk kenaikan tarif impor AS menjadi 15% serta penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Namun kali ini, sejumlah analis menilai dampaknya bisa lebih besar.

“Ini jelas memiliki dampak yang lebih besar dibanding Venezuela,” kata Co-Chief Investment Officer Santa Lucia Asset Management Florian Weidinger dikutip dari CNBC, Sabtu (28/2/2026).

“Venezuela hanya relevan bagi pihak yang membutuhkan jenis minyak berat tertentu,” ujarnya kepada CNBC.

Selat Hormuz Jadi Kunci, Harga Minyak Berpotensi Melonjak

Menurut analis, risiko terbesar bukan semata pada produksi minyak Iran, tetapi pada potensi gangguan di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia.

“Venezuela adalah cerita soal produksi. [Iran] adalah cerita soal chokepoint,” ujar Kenneth Goh, Direktur Private Wealth Management UOB Kay Hian di Singapura.

Sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari melewati Selat Hormuz pada 2025, atau sekitar 31% dari total perdagangan minyak laut global, berdasarkan data Kpler.

Weidinger memperkirakan harga minyak bisa melonjak tajam pekan depan. “Anda akan melihat minyak bergerak naik dengan lebih keras,” katanya.

Dalam kondisi risk-off, investor biasanya beralih ke aset aman seperti dolar AS, yen Jepang, dan emas.

Potensi Risk-Off dan Reaksi Awal Pasar

Sejumlah ekonom memperkirakan pembukaan pasar awal pekan akan diwarnai tekanan.

Alicia García-Herrero, Kepala Ekonom Asia-Pasifik Natixis, memperkirakan indeks saham global bisa turun 1% hingga 2% atau lebih. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) berpotensi turun 5–10 basis poin, sementara harga minyak dapat melonjak 5% hingga 10%.

Namun ia mengingatkan investor agar tidak mengambil posisi spekulatif berlebihan sebelum melihat respons Iran.

Sebelumnya, pada Juni 2025 ketika Israel menyerang fasilitas nuklir Iran, pasar saham sempat anjlok di awal sesi sebelum pulih setelah dipastikan Selat Hormuz tidak terganggu.

“Pola itulah yang kemungkinan akan menjadi referensi pasar pada Senin,” kata Goh.

Konflik Singkat atau Berkepanjangan? Ini Penentunya

Investor kini menanti apakah operasi militer AS akan berlangsung singkat atau berkembang menjadi konflik regional yang berkepanjangan.

David Roche dari Quantum Strategy menilai dampak pasar sangat bergantung pada durasi konflik dan kemungkinan Iran menutup Selat Hormuz.

Jika konflik berlangsung singkat dan terkendali, lonjakan minyak dan tekanan risk-off bisa bersifat sementara. Namun jika berubah menjadi operasi jangka panjang selama tiga hingga lima pekan dengan tujuan perubahan rezim, pasar bisa bereaksi negatif secara signifikan.

Konflik berkepanjangan juga dinilai akan sangat berdampak pada pasar Asia, mengingat ketergantungan kawasan tersebut pada pasokan energi dan stabilitas jalur perdagangan.

Billy Leung, Investment Strategist Global X ETFs, memperkirakan saham global akan dibuka melemah dengan volatilitas tinggi, terutama pada sektor-sektor siklikal dan berisiko tinggi.

Kini, fokus pasar tertuju pada satu hal: bagaimana respons Iran dan apakah Selat Hormuz tetap terbuka.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |