Liputan6.com, Jakarta - Saham perusahaan teknologi besar terpukul cukup keras, saat pasar memasuki mode aksi jual buntut pengenaan tarif impor baru oleh Amerika Serikat terhadap 180 negara.
Melansir CNBC International, Sabtu (5/4/2025) saham kelompok perusahaan yang dikenal sebagai Magnificent Seven telah mengalami penurunan selama dua sesi perdagangan terakhir, kehilangan nilai pasar gabungan sebesar USD 1,8 triliun.
Saham Apple mengalami penurunan paling tajam, hingga memangkas lebih dari USD 533 miliar kapitalisasi pasarnya.
Kebijakan tarif impor Presiden AS Donald Trump mengirimkan gelombang kejut di seluruh pasar global, memicu kepanikan yang meluas dan ketakutan akan perang dagang global yang akan mendorong ekonomi ke dalam resesi.
Banyak saham telah dijual dengan kecepatan yang tidak terlihat sejak Covid-19, dengan Nasdaq mengalami minggu terburuknya sejak Maret 2020.
Tesla adalah perusahaan yang paling merugi dari tujuh perusahaan dalam hal persentase, anjlok lebih dari 10% selama sesi perdagangan hari Jumat (4/4). Produsen mobil listrik tersebut mengalami penurunan kapitalisasi pasar lebih dari USD 89, sehingga penghitungan dua harinya menjadi lebih dari usd 139 miliar.
Nvidia telah kehilangan gabungan USD 393 miliar selama dua sesi perdagangan terakhir.
Apple adalah perusahaan yang paling banyak mengalami penurunan berdasarkan nilai pasar dalam grup tersebut. Pembuat iPhone tersebut berada di bawah tekanan karena tarif baru menargetkan beberapa lokasi manufaktur sekundernya di luar China dan mencatat penurunan terburuk dalam satu hari dalam lima tahun pada hari Kamis.
Nilai pasar Meta juga anjlok lebih dari USD 200 miliar selama dua sesi perdagangan terakhir, sementara Amazon turun USD 265 miliar.
Saham Oracle hingga Palantir Ikut Tersungkur
Sementara itu, Alphabet dan Microsoft mengalami kerugian persentase terkecil tetapi masih kehilangan lebih dari $139 miliar dan USD 165 miliar dalam nilai pasar, masing-masing, selama dua hari terakhir.
Nama-nama lainnya di seluruh sektor teknologi ikut mengalami penurunan tajam. Oracle anjlok hampir 9% minggu ini, sementara AppLovin dan Palantir Technologies anjlok lebih dari 19% dan 13%. Salesforce anjlok hampir 11%.
S&P 500 Hingga Dow Jones Anjlok Imbas Balasan China Atas Tarif Impor AS
Pasar saham Amerika Serikat terpukul setelah China membalas dengan tarif baru atas barang-barang impor dari AS.
Melansir CNBC International, Sabtu (5/4/2025) saham Dow Jones Industrial Average melemah 2.231,07 poin, atau 5,5%, menjadi 38.314,86 pada hari Jumat. Ini menandai penurunan terbesar sejak Juni 2020 selama pandemi Covid-19.
Ini menyusul penurunan 1.679 poin pada hari Kamis dan menandai pertama kalinya Dow Jones kehilangan lebih dari 1.500 poin pada hari-hari berturut-turut.
Saham S&P 500 juga merosot 5,97% menjadi 5.074,08, penurunan terbesar sejak Maret 2020.
Adapun saham Nasdaq Composite, yang menaungi banyak perusahaan teknologi yang menjual ke China dan juga memproduksi di negara itu, anjlok 5,8% menjadi 15.587,79. Penurunan ini menyusul penurunan hampir 6% pada hari Kamis dan membuat indeks turun 22% dari rekor Desember, pasar yang lesu dalam terminologi Wall Street.
Di luar sektor teknologi, saham Boeing dan Caterpillar, yang dikenal sebagai eksportir besar ke China mengalami penurunan terbesar di bursa Dow, masing-masing turun 9% dan hampir 6%.
"Meskipun pasar mungkin mendekati titik terendah dalam jangka pendek, kami khawatir tentang dampak perang dagang global terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang," kata Emily Bowersock Hill, CEO dan mitra pendiri di Bowersock Capital Partners.
Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump mengguncang pasar global dalam beberapa pekan terakhir dengan serangkaian kebijakan baru tarif impor. Langkah tersebut mendorong respon balasan dari China dengan tarif baru lainnya.