Bursa Asia Dibuka Menguat, Saham Korsel Moncer

23 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham di kawasan Asia dan Pasiifk mayoritas mencatatkan penguatan pada awal perdagangan Selasa (3/2/2026). Penguatan Bursa Asia ini setelah kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan India mengangkat sentimen investor.

Pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Washington dan New Delhi telah mencapai kesepakatan serta akan mulai menurunkan tarif satu sama lain menjadi pendorong utama kenaikan pasar saham di kawasan Asia-Pasifik.

Mengutip CNBC, Selasa (3/2/2026), Trump mengatakan Perdana Menteri India Narendra Modi setuju untuk meningkatkan pembelian produk AS, termasuk kemungkinan menghentikan pembelian minyak mentah Rusia demi memperkuat hubungan dagang dan energi antara kedua negara.

Lonjakan terlihat jelas di Bursa Korea Selatan (Kospi) yang naik lebih dari 5%, cukup kuat untuk memicu trading halt sementara di pasar saham. Mekanisme tersebut otomatis menghentikan program perdagangan elektronik ketika pergerakan harga berlangsung ekstrem, memberi kesempatan pasar meredam volatilitas sebelum dilanjutkan kembali.

Indeks saham Jepang juga mencatatkan penguatan, dengan Nikkei 225 naik lebih dari 2%, sementara Topix bertambah hampir 2%. Bursa Australia S&P/ASX 200 juga melonjak sekitar 1,3% di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral setempat.

Di pasar berjangka Hong Kong, kontrak Hang Seng menunjukkan tren positif di atas level penutupan terakhir, mencerminkan prospek optimisme yang menyebar ke seluruh wilayah Asia. Selain itu, perhatian investor tetap tertuju pada pergerakan harga emas dan perak setelah volatilitas harga logam mulia pekan lalu yang sempat mencatatkan penurunan tajam.

Wall Street Menguat, Data Manufaktur AS Dongkrak Sentimen Pasar

Sedangkan Indeks saham utama Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Senin, didorong data manufaktur yang menunjukkan pemulihan lebih kuat dari perkiraan serta kenaikan saham sektor teknologi dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Indeks S&P 500 menguat 0,54%, Dow Jones Industrial Average naik 1,05%, sementara Nasdaq 100 bertambah 0,73%. Pergerakan positif juga terlihat pada kontrak berjangka, dengan E-mini S&P naik 0,57% dan E-mini Nasdaq menguat 0,76%.

Penguatan pasar saham terjadi setelah rilis indeks manufaktur ISM Amerika Serikat periode Januari yang mencatatkan ekspansi tercepat dalam lebih dari tiga tahun. Indeks tersebut naik 4,7 poin ke level 52,6, jauh di atas ekspektasi pasar yang berada di 48,5. Capaian ini memperkuat optimisme investor terhadap prospek ekonomi AS.

Kinerja saham produsen chip dan perusahaan yang bergerak di sektor infrastruktur AI turut menopang penguatan pasar secara keseluruhan. Sentimen positif ini mengimbangi sejumlah tekanan yang muncul dari sektor lain.

Komentar The Fed

Namun demikian, komentar Presiden Federal Reserve Atlanta, Raphael Bostic, sempat menahan laju penguatan. Ia menilai ekonomi AS masih memiliki momentum yang sangat kuat sehingga bank sentral perlu mempertahankan suku bunga pada level yang agak ketat.

“Kami memiliki momentum ekonomi yang sangat kuat sehingga The Fed perlu menjaga kebijakan suku bunga tetap sedikit restriktif,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia belum melihat ruang pemangkasan suku bunga pada 2026.

Di sisi lain, saham sektor energi tertekan seiring anjloknya harga minyak mentah WTI lebih dari 4%. Penurunan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan negaranya tengah melakukan pembicaraan dengan Iran, sementara Kementerian Luar Negeri Iran berharap jalur diplomasi dapat mencegah konflik bersenjata.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |