Warga Sukabumi Rogoh Rp 500 Juta Bangun Tanggul Sungai Cegah Banjir saat Pemerintah Hanya Meninjau

8 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Warga Sukabumi gotong royong untuk membangun tanggul sungai demi mengantisipasi banjir dan longsor. Bahkan, seorang warga di Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan harus merogoh kocek Rp 500 juta untuk membangun infrastruktur yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

Aksi warga ini merespons lambatnya pemerintah dalam menangani dampak bencana di Kabupaten Sukabumi memaksa warga untuk bertindak sendiri. Warga menilai kondisi di aliran Sungai Ciseureuh saat ini sangat memprihatinkan.

Abrasi hebat pasca banjir bandang tahun 2024 telah melenyapkan daratan seluas 20 meter, menyisakan deretan rumah warga yang kini dalam posisi menggantung di atas tebing sungai yang curam.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Sangrawayang Heris Sponga menyampaikan kekecewaan warga. Dia menyebut pemerintah hanya sekadar melakukan peninjauan lokasi tanpa membawa solusi konkret untuk menyelamatkan rumah-rumah yang terancam hanyut.

"Ini untuk meringankan pemerintah. Karena faktanya pemerintah cuma datang lihat-lihat, tapi nggak ada solusi. Pak Atok (pemilik lahan) berani berkorban hampir Rp 500 juta demi menyelamatkan warga. Kalau enggak dibeton sama ini, ini rumah pasti habis," kata Heris pada Minggu (8/2/2026).

Pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) beton tersebut akhirnya dilakukan secara swadaya. Ia mengungkapkan, langkah ini diambil bukan untuk mempersempit sungai seperti yang dituduhkan di media sosial, melainkan upaya terakhir agar delapan rumah warga di sekitarnya tidak amblas saat banjir susulan datang.

Tanah Pribadi yang Hilang

Ruyatna, warga Kampung Cisaat, menjadi saksi bagaimana ganasnya sungai tersebut menghanyutkan fasilitas MCK hingga kandang domba milik penduduk.

Ia menegaskan bahwa tanah yang kini dibeton memiliki legalitas kepemilikan yang sah, dan dulunya merupakan daratan berbukit sebelum habis tergerus arus.

"Sekarang ini sama yang punya lahan di tanggul, bukan menanggul sungai, tapi mengamankan aset beliau dan warga di sekitar pemukiman. Alhamdulillah warga terbantu," tuturnya.

Pemerintah Terhambat Anggaran

Di sisi lain, Camat Simpenan, Supendi, mengakui keterbatasan pemerintah dalam bergerak cepat. Ia berdalih bahwa mekanisme penganggaran memakan waktu lama, sehingga inisiatif warga yang ‘talangi’ tugas negara tersebut justru dinilai sangat membantu.

"Kami sebagai pemerintah tentu mendukung. Kalau menunggu anggaran tentu sangat lama prosesnya. Jadi ketika ada masyarakat berinisiatif, ya kita berterima kasih," ujar Supendi.

Padahal, dampak abrasi tersebut tidak hanya mengancam rumah warga, tetapi juga jembatan milik pemerintah provinsi yang merupakan jalur vital menuju kawasan Geopark Ciletuh.

Jika warga tidak berinisiatif membangun TPT sendiri, akses transportasi publik tersebut diprediksi akan turut terdampak parah.

Hingga saat ini, pembangunan TPT swadaya tersebut terus berjalan demi memastikan keselamatan warga, sembari menanti langkah nyata pemerintah yang tak kunjung tiba melebihi sekadar kunjungan lapangan.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |