Utang APLN Menipis Berkat Strategi Optimalisasi Aset

6 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) dinilai mengambil langkah tepat melalui strategi optimalisasi aset yang secara konsisten dijalankan dalam beberapa tahun terakhir.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, melihat pembalikan kinerja APLN pada awal tahun ini merupakan cerminan dari eksekusi strategi yang matang dalam mengelola portofolio aset.

Dari rilis kinerja keuangan Kuartal I-2026 APLN mencatatkan penjualan dan pendapatan usaha mencapai Rp 2,9 triliun. Angka ini melonjak hingga 232 persen dibandingkan perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 874,5 miliar.

Pertumbuhan pendapatan yang signifikan tersebut juga berhasil membalikkan posisi keuangan Perseroan dari rugi bersih sebesar Rp 55,6 miliar pada Kuartal I-2025 menjadi laba bersih periode berjalan sebesar Rp 513,8 miliar pada periode sama pada tahun ini.

Kesuksesan APLN mengoptimalkan aset-aset matang dengan nilai tinggi menjadi kunci perbaikan fundamental perusahaan secara terus menerus. Sejak tahun 2017 APLN melepas portofolio propertinya untuk membiayai proyek-proyek baru dengan nilai tinggi dan memangkas utang dalam mata uang asing, khususnya dollar Amerika Serikat.

Beberapa aset yang didivestasi diantaranya adalah Central Park Mall, Neo Soho Mall, Pullman Ciawi Vimala Hills, hingga terbaru Deli Park Mall Medan. Menurut Wafi langkah monetisasi aset matang sangat membantu dalam mendorong pendapatan serta memperbaiki laba bersih secara keseluruhan.

"Saya melihat turnaround APLN di Kuartal I-2026 merefleksikan hasil dari strategi asset recycling dan optimalisasi aset. Monetisasi aset matang berhasil mendorong revenue dan sekaligus memperbaiki bottom line perusahaan," ujar Wafi, Rabu (6/5/2026).

Perbaikan Profil Risiko Perseroan

Pengaruh dari strategi optimalisasi aset ini juga merambah pada perbaikan profil risiko Perseroan. Melalui hasil penjualan aset, APLN secara bertahap mengurangi beban utang secara signifikan, termasuk pelunasan kewajiban dalam mata uang asing.

Menurut Wafi, langkah deleveraging menjadi krusial dalam meminimalkan risiko nilai tukar atau kurs yang sering kali menjadi beban bagi perusahaan dengan eksposur valas yang tinggi. Dengan berkurangnya tekanan bunga dan risiko kurs, menurutnya, struktur permodalan APLN saat ini berada dalam kondisi yang jauh lebih stabil.

Wafi menjelaskan, dalam konteks industri, skema asset recycling seperti yang diterapkan APLN dianggap sebagai salah satu praktik terbaik untuk menjaga kesehatan finansial, terutama saat menghadapi fase siklus yang menantang. Hanya saja dia mengingatkan, keberlanjutan kinerja ini akan sangat bergantung pada kemampuan Perseroan dalam menyeimbangkan monetisasi aset dengan pengembangan proyek baru.

Pasalnya peningkatan likuiditas saat ini memberikan APLN fleksibilitas yang lebih besar untuk melakukan pembiayaan kembali, menjaga kelancaran operasional, serta melakukan ekspansi secara selektif. Fundamental yang lebih kuat ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas neraca perusahaan dalam jangka panjang.

Dia menegaskan langkah-langkah strategis tersebut merupakan modal bagi stabilitas perusahaan di masa depan. Investor dan pelaku pasar akan terus memperhatikan konsistensi manajemen dalam mengeksekusi rencana bisnis ke depan.

"Langkah ini berpotensi meningkatkan kepercayaan investor, terutama dari sisi stabilitas neraca dan profil risiko. Namun, investor akan tetap menunggu konsistensi eksekusi serta kejelasan pendapatan di masa depan sebelum terjadi penilaian ulang yang signifikan terhadap nilai perusahaan," jelasnya.

Secara keseluruhan, Wafi melihat transformasi fundamental yang dilakukan APLN telah menempatkan Perseroan pada posisi pemulihan yang semakin kuat. Fokus pada penguatan likuiditas dan efisiensi beban utang menjadi pondasi utama bagi APLN untuk menghadapi dinamika ekonomi.

“Prospek bisnis perusahaan akan ditentukan oleh kemampuan dalam mengelola keseimbangan antara pendapatan dari aset yang ada serta percepatan pengembangan proyek-proyek baru yang potensial,” ujarnya.

APLN sendiri kini terus membangun dan mengembangkan proyek-proyek properti baru di berbagai kota di Indonesia. Seperti Jakarta, Bogor Bandung, Karawang, Balikpapan, Medan dan Bali. Selain proyek kawasan hunian, APLN juga membangun pusat perbelanjaan baru dan hotel baru yang akan menjadi sumber pendapatan berulang di masa depan.

“Kami terus berusaha mengoptimalkan peluang sektor properti dan konsumen yang terus bertumbuh setiap tahunnya. Melalui strategi yang tepat dan eksekusi yang disiplin, terukur dan matang, kami yakin APLN akan terus menunjukkan kinerja positif ke depan,” jelas Justini Omas, Corporate Secretary APLN.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |