Sentimen Geopolitik Timur Tengah hingga Rupiah Melemah Membayangi Investor

1 day ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Pasar keuangan global masih dibayangi sentimen geopolitik di Timur Tengah. Pekan ini menandai periode dua bulan di mana konflik di Iran belum berakhir. Investor global melihat ketidakpastian utama mengenai durasi konflik ini. Gencatan senjata meskipun masih berlaku hingga saat ini, belum ada perkembangan berarti yang terlihat dalam beberapa hari terakhir.

Prospek penyelesaian cepat secara bertahap memudar, terutama karena Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan untuk membahas operasi militer AS dengan Komando Pusat AS. Gencatan senjata yang telah diperpanjang sejauh ini belum menghasilkan perkembangan positif antara diskusi antara AS dan Iran terkait pencapaian kesepakatan, dengan kedua belah pihak tetap teguh pada tuntutan mereka tanpa kompromi yang cukup.

"Intinya bagi pasar aktivitias di Selat Hormuz tetap sangat terbatas dan terus menganggu pasokan energi global,” demikian seperti dikutip dari riset PT Ashmore Asset Management Indonesia, Sabtu (2/5/2026).

Di sisi lain, pertemuan terbaru dari the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS sesuai yang diharapkan. The Fed mempertahankan suku bunga acuan 3,5%-3,75%. Namun, anggota dewan the Fed tampak lebih terpecah sekarang karena empat anggota komite menyatakan perbedaan pendapat. “Pesan dari FOMC juga lebuh tegas terhadap inflasi yang tinggi, karena pasar memperkirakan kemungkinan penurunan suku bunga tahun ini semakin kecil,” demikian seperti dikutip.

Nada hawkish the Fed telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun lebih tinggi yakni naik 13 basis poin atau bps menjadi 4,43% dan tenor dua tahun naik 17 bps menjadi 3,95% pada pekan ini.

Selain itu, nada the Federal Reserve (the Fed) tampak lebih hati-hati dan terpecah karena situasi secara keseluruhan tetap sangat tidak pasti. Kemungkinan peningkatan aktivitas militer Amerika Serikat (AS) di Iran yang mendorong harga minyak lebih tinggi lagi di atas USD 125 per barel.

Rupiah Tembus 17.300 terhadap Dolar AS

Dari sentimen domestik, rupiah melemah dan mencapai di atas 17.300 terhadap dolar Amerika Serikat menyita perhatian. Pelemahan rupiah terutama didorong meningkatnya risiko perang Iran dan kekhawatiran inflasi global yang sangat berkorelasi dengan lonjakan harga energi.

Di antaranya, kekhawatiran inflasi selain kepercayaan yang lemah telah memicu tekanan. Namun, Bank Indonesia telah  menekankan kesediaan untuk mendukung stabilitas mata uang.

Salah satu instrumen yang dipakai adalah Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencatatkann penerbitan besar senilai Rp 155,5 triliun pada April. Selain itu, imbal hasil obligasi bertenor 12 bulan yang mencapai 6,218% berdasarkan lelang terbaru berpotensi menarik lebih banyak aliran dana asing.

Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia (IndoGB) juga mengalami peningkatan minggu ini sejalan dengan imbal hasil global, dengan tenor 10 tahun meningkat 7 bps menjadi 6,85% dan tenor 2 tahun meningkat 13 bps menjadi 6,32% minggu ini.

"Secara keseluruhan, menjelang liburan, investor ekuitas domestik mengambil posisi yang lebih defensif karena akhir pekan sebelumnya cenderung menambah volatilitas dengan perkembangan perang Iran,” demikian seperti dikutip.

Investor Global Cermati Negosiasi AS-Iran

Investor global mengawasi perkembangan atau prospek dimulainya kembali pembicaraan formal antara AS dan Iran, di samping proposal konkret untuk mencapai kesepakatan. Salah satu indikator nyata tetaplah aktivitas pengiriman di Selat Hormuz.

"Pasar masih mengadopsi sikap hati-hati karena resolusi cepat masih diragukan, namun masih ada faktor pendorong besar bagi Trump untuk menginginkan inflasi terkendali lebih cepat karena peringkat persetujuan Trump terus menurun dan mencapai titik terendah sejak masa jabatan keduanya, sementara pemilihan paruh waktu semakin dekat,”

Ashmore terus merekomendasikan investor untuk tetap aktif dan melakukan diversifikasi portofolio investor.

“Dalam kondisi saat ini, Ekuitas Syariah USD EM Ashmore serta dana Sukuk EM dapat memberikan tingkat diversifikasi yang dibutuhkan karena menyediakan eksposur alokasi negara yang unik yang tidak mudah ditemukan di pasar,” demikian seperti dikutip.

Reksa dana ini memiliki fleksibilitas untuk menggeser alokasi secara bertanggung jawab ketika siklus pasar berkembang, sambil tetap memberikan alpha kepada investor dengan eksposur terhadap tema-tema penting seperti rantai pasokan AI di negara-negara seperti China, Taiwan, Korea Selatan, dan India, di samping eksposur komoditas yang kuat di Amerika Latin dan Afrika Selatan.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |