Wall Street Cetak Rekor Baru, Saham Apple Pendorong Utama

9 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Wall Street mengawali Mei dengan positif. S&P 500 ditutup pada level rekor baru pada perdagangan Jumat (1/4/2026). Penguatan ini didorong oleh lonjakan saham teknologi, khususnya Apple, di tengah penurunan harga minyak global.

Indeks pasar luas tersebut naik 0,29% dan berakhir di level 7.230,12. Sementara itu, Nasdaq Composite melesat 0,89% hingga mencapai rekor penutupan di 25.114,44.

Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average justru mengalami penurunan sebesar 152,87 poin atau 0,31% ke level 49.499,27.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (2/5/2026), kenaikan signifikan terjadi pada saham Apple yang melonjak lebih dari 3% setelah perusahaan tersebut melaporkan kinerja keuangan kuartal kedua fiskal yang melampaui ekspektasi pasar, baik dari sisi laba maupun pendapatan.

Tak hanya itu, proyeksi pendapatan Apple untuk kuartal berjalan juga lebih baik dari perkiraan analis. Hal ini menutupi kekecewaan investor atas penjualan iPhone yang kembali berada di bawah ekspektasi untuk kedua kalinya dalam tiga kuartal terakhir.

Harga Minyak Turun, Sentimen Geopolitik Masih Membayangi

Di sisi lain pasar, harga minyak dunia mengalami tekanan setelah Iran dilaporkan menyampaikan tanggapan melalui mediator Pakistan terkait revisi terbaru dari Amerika Serikat atas draft kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Presiden Donald Trump mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap tawaran damai terbaru dari Iran.

“Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi saya tidak puas dengan itu,” ujarnya.

Meski sempat menyentuh titik terendah, harga minyak kemudian sedikit pulih. Kontrak berjangka minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) turun 2,98% ke level USD 101,94 per barel.

Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai acuan global melemah 2,02% menjadi USD 108,17 per barel.

Pergerakan ini terjadi setelah sesi sebelumnya mencatat rekor, di mana S&P 500 untuk pertama kalinya menembus level 7.200. Hal tersebut membantu S&P 500 dan Nasdaq mencatat kinerja bulanan terbaik sejak 2020.

Adapun Dow Jones mencatat performa bulanan terbaik sejak November 2024.

Prospek Wall Street Tetap Positif Meski Risiko Masih Ada

Kinerja kuat laba perusahaan pada kuartal pertama serta harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah menjadi faktor utama yang mendorong penguatan pasar saham sepanjang tahun ini.

Meskipun sempat tertekan saat pecahnya konflik antara AS dan Iran, ketiga indeks utama kini telah berada jauh di atas posisi awal tahun 2026.

David Krakauer dari Mercer Advisors menilai tren positif ini masih berpotensi berlanjut dalam jangka panjang.

Ia optimistis konflik Iran dapat segera mereda, yang berpotensi membuka kembali jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz. Selain itu, pertumbuhan laba perusahaan di AS maupun global dinilai akan tetap menjadi pendorong utama pasar saham.

“Selalu ada potensi munculnya berita baru atau penurunan sentimen yang bisa memicu koreksi jangka pendek. Namun secara keseluruhan, kami tetap bullish terhadap saham,” ujarnya.

Krakauer juga menyoroti sektor teknologi, khususnya investasi besar dalam kecerdasan buatan (AI). Ia mengingatkan bahwa tidak semua investasi tersebut akan menghasilkan keuntungan.

Namun demikian, ia tetap yakin bahwa peningkatan produktivitas dari teknologi akan terus menjadi faktor pendukung utama pertumbuhan pasar.

“Kami percaya bahwa cerita peningkatan produktivitas tetap kuat,” pungkasnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |