Rupiah Makin Melemah terhadap Dolar AS, Analis Ungkap Dampak ke Emiten

4 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Pelemahan rupiah yang menembus level 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa, 5 Mei 2026 menimbulkan tekanan nyata bagi kinerja emiten di pasar modal Indonesia. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada struktur biaya perusahaan, tetapi juga memengaruhi aliran dana asing serta strategi investasi pelaku pasar.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai, dampak pelemahan rupiah cenderung tidak merata dan sangat bergantung pada karakter bisnis masing-masing sektor.

Pelemahan rupiah memberikan tekanan paling besar pada emiten yang bergantung pada bahan baku impor. Sektor manufaktur dan consumer goods menjadi kelompok yang paling rentan terhadap kondisi ini.

"Pelemahan rupiah ke Rp 17.400 menekan margin emiten berbasis impor, terutama manufaktur dan consumer goods, karena biaya bahan baku naik sementara daya beli belum tentu kuat untuk menaikkan harga jual," kata Reydi kepada Liputan6.com, Rabu (6/5/2026).

Dia menuturkan, kenaikan nilai tukar secara langsung meningkatkan biaya produksi, terutama bagi perusahaan yang mengimpor bahan mentah dalam mata uang dolar AS. Sementara itu, ruang untuk menaikkan harga jual produk menjadi terbatas.

Hal ini disebabkan oleh daya beli masyarakat yang belum tentu cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga. Akibatnya, margin keuntungan perusahaan berpotensi tergerus.

"Sektor paling rentan adalah perbankan besar dan consumer, karena jadi benchmark investor asing," ujarnya.

Biangkerok Pelemahan Rupiah

Sebelumnya, Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assu’aibi menilai pelemahan ini bukan sekadar fluktuasi biasa. Ia menyebut tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik yang saling memperkuat.

Menurut Ibrahim, eskalasi konflik geopolitik menjadi pemicu utama. Ketegangan di Selat Hormuz yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran telah mengguncang pasar global, terutama sektor energi.

"Kita tahu bahwa sebelumnya Trump sendiri sudah menginstruksikan terhadap Angkatan Laut Amerika yang berada di Laut Oman, Laut Internasional untuk melakukan penguasaan terhadap Selat Hormuz yang sebelumnya dikuasai oleh Iran. Ini yang membuat ketegangan terbaru karena ada lebih dari lima kapal perang kecil Iran yang dibombardir dan hancur. Ini membuat ketegangan tersendiri di Timur Tengah," jelasnya.

Selain itu, konflik di Eropa Timur turut memperparah situasi. Serangan drone yang dilakukan Ukraina ke fasilitas kilang minyak Rusia disebut mengganggu produksi energi global. Dampaknya, pasokan minyak berkurang dan harga energi meningkat signifikan. Kenaikan harga minyak ini berimbas langsung pada Indonesia sebagai negara importir.

Kebutuhan dolar AS meningkat untuk memenuhi impor energi, sehingga menambah tekanan terhadap rupiah. Di sisi lain, inflasi global yang meningkat mendorong bank sentral seperti Federal Reserve untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Kebijakan ini biasanya memperkuat dolar AS dan membuat mata uang negara berkembang semakin tertekan.

Bos BI Ungkap Beberapa Sinyal Rupiah Bakal Kembali Menguat

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan prospek positif nilai tukar rupiah ke depan. Ia menilai, posisi rupiah saat ini masih undervalued dan berpeluang menguat seiring kuatnya fundamental ekonomi domestik.

Pernyataan itu disampaikan usai rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Menurut Perry, sejumlah indikator utama menunjukkan kondisi ekonomi nasional yang solid. Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,61%, inflasi terkendali, penyaluran kredit meningkat, dan cadangan devisa berada di level yang memadai.

“Fundamental kita kuat. Dengan kondisi seperti ini, rupiah semestinya stabil dan cenderung menguat,” ujarnya dalam keterangan, Rabu (6/5/2026).

Meski begitu, ia mengakui ada tekanan jangka pendek yang masih membayangi pergerakan rupiah. Tekanan tersebut, kata Perry, dipicu oleh faktor global dan kebutuhan musiman di dalam negeri.

Sisi Global

Dari sisi global, kenaikan harga minyak dan suku bunga di Amerika Serikat menjadi faktor utama. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 4,47%, diikuti penguatan USD terhadap sejumlah mata uang dunia.

Sementara dari dalam negeri, permintaan valas meningkat seiring kebutuhan repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan jemaah haji.

Menghadapi kondisi itu, Bank Indonesia telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas rupiah. Salah satu yang utama adalah memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Perry menegaskan, posisi cadangan devisa Indonesia saat ini cukup kuat untuk mendukung langkah stabilisasi tersebut.

“Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” katanya. 

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |