Liputan6.com, Jakarta - Suasana akhir pekan yang cerah di pantai-pantai selatan Gunungkidul, Minggu (10/08/2025) pagi, berubah menjadi kepanikan massal.
Puluhan wisatawan yang datang lebih awal untuk menikmati udara segar dan ombak yang cukup tenang mendadak panik karena tersengat ubur-ubur biru (Physalia utriculus).
Mereka berteriak kesakitan dan merasakan panas di bagian kaki tersengat.
Kaki Teras Panas sampai Pingsan
Dimi (10) warga Jogonalan, Klaten, menceritakan dia bersama neneknya berangkat dini hari demi bisa bermain di Pantai Sepanjang sebelum ramai. Saat ombak sedang bagus untuk berenang, ia tiba-tiba berteriak keras karena kakinya terasa panas seperti terbakar dan muncul bercak merah. Dia kemudian di bawa ke pos SAR setempat.
“Aku cuma main sebentar, terus kayak ada tali yang melilit kaki dan rasanya panas banget,” kata Dimi sambil memegangi kakinya yang masih memerah.
Bahkan, ada wisatawan lain yang sampai pingsan akibat reaksi alergi parah terhadap racun ubur-ubur. Sehingga harus dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Kejadian serupa juga menimpa Lalita, wisatawan asal Semarang, yang datang bersama keluarganya untuk menikmati pasir putih Pantai Kukup. Saat putranya sedang bermain air, tiba-tiba menangis histeris karena kakinya memerah dan bengkak. Dia langsung buru-buru membawa anaknya ke pos SAR untuk mendapatkan pertolongan cepat dari petugas.
Data SAR Satlinmas Korwil 2 Yogyakarta, sebagian besar korban sengatan ubur-ubur adalah anak-anak yang sedang bermain di air dangkal tanpa alas kaki.
Fenomena Kemunculan Ubur-Ubur Biru
Sekretaris SAR Satlinmas Korwil 2 Yogyakarta, Surisdiyanto, menyebut kemunculan ubur-ubur biru di selatan Gunungkidul biasanya terjadi antara Juni hingga Agustus. Mereka terbawa arus dan angin timur dari tengah laut.
"Mereka terbawa arus dan angin dari tengah laut, lalu terdorong ombak ke perairan dangkal hingga terdampar di pantai," kata Surisdiyanto.
Sengatan ubur-ubur dapat memicu nyeri hebat, bengkak, hingga reaksi sistemik seperti pusing dan pingsan.
Menurutnya, fenomena ini bukan pertama kalinya terjadi. Setiap musim angin timur, koloni ubur-ubur bermigrasi mengikuti pergerakan massa air. Angin yang bertiup kencang mendorong mereka menuju garis pantai, sementara gelombang membuat sebagian ubur-ubur terdampar di pasir atau terseret ke perairan dangkal yang sering menjadi tempat bermain anak-anak.
Belasan Wisatawan jadi Korban
Hingga pukul 09.30 WIB, tercatat 12 wisatawan di Pantai Kukup, 6 di Pantai Sepanjang, dan satu orang di Pantai Krakal menjadi korban sengatan.
Sejak pagi, tim SAR Satlinmas melakukan patroli dan penyisiran di sepanjang garis pantai untuk mengumpulkan ubur-ubur yang terdampar sekaligus memasang papan peringatan di titik-titik ramai.
Petugas SAR juga rutin berkeliling memberi imbauan kepada wisatawan agar tidak berenang terlalu jauh dari tepi pantai.
“Pertolongan pertama adalah membilas area yang terkena sengatan dengan air laut, mengangkat sisa tentakel menggunakan pasir atau kartu, lalu mengompres dengan air hangat,” imbuh Surisdiyanto.
Fenomena ini diperkirakan akan berlangsung beberapa minggu ke depan selama musim angin timur masih berlanjut. Wisatawan diimbau untuk selalu waspada, mematuhi arahan petugas, dan memastikan anak-anak tetap berada di area aman saat beraktivitas di tepi laut.