TFAS Bakal Lepas 2,2 Juta Saham Treasuri Mulai 19 Januari 2026

2 days ago 9

Liputan6.com, Jakarta - PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS) akan melepas saham treasuri maksimal 2.287.800 saham TFAS. Pengalihan saham hasil pembelian kembali atau buyback akan dimulai 19 Januari 2026.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (6/1/2026), PT Telefast Indonesia Tbk melepas saham treasuri sebanyak 2.287.800 mulai 19 Januari 2026-30 September 2026. Untuk melaksanakan aksi korporasi ini, perseroan telah menunjuk PT Panca Global Sekuritas.

“Pengalihan akan dilakukan pada harga yang sesuai dengan peraturan yang berlaku,” demikian seperti dikutip.

Sebelumnya perseroan menyebutkan, sejak 26 Maret 2020-30 September 2020, perseroan telah melakukan pembelian kembali atau buyback saham sebanyak 9.849.600 saham TFAS.

Pengalihan saham dilakukan untuk memenuhi ketentuan Pasal 15 POJK No. 30/2017 yang mengatur saham hasil buyback yang dikuasai oleh Perusahaan Terbuka selama jangka waktu tiga tahun sejak selesainya pembelian kembali saham, wajib mulai dialihkan dalam jangka waktu paling lama dua  tahun. 

Selain itu, ketentuan pasal 16 yang mengatur dalam jangka waktu paling lama satu tahun setelah berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, Perusahaan Terbuka wajib telah selesai mengalihkan saham.

Merujuk pada ketentuan pasal 17 huruf (a) POJK No. 30/2017, dan merujuk pada keterbukaan informasi Perseroan No. 355/OJK-TI/DIR/X/2025 15 Oktober 2025 perihal Rencana Pengalihan Kembali Saham Hasil Buy Back, Perseroan telah melepas saham treasuri sebesar 7.561.800 lembar saham dengan cara melakukan penjualan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 31 Desember 2025.

Pada perdagangan saham Selasa, 6 Januari 2026 pukul 09.37 WIB, harga saham TFAS merosot 2,61% ke posisi Rp 298 per saham. Saham TFAS berada di level tertinggi Rp 306 dan level terendah Rp 294 per saham. Kapitalisasi pasar saham perseroan Rp 496,67 miliar.

Kinerja IHSG pada 5 Januari 2026

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Senin sore dan mencatatkan level tertinggi sepanjang masa. Penguatan IHSG didorong sentimen positif dari stabilnya data perekonomian domestik serta pergerakan bursa saham regional Asia.

Pada Senin (5/1/2026), IHSG ditutup naik 111,06 poin atau 1,27 persen ke posisi 8.859,19. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 turut menguat 7,77 poin atau 0,91 persen ke level 859,77.

“Penguatan IHSG sejalan dengan bursa regional Asia dan juga dukungan katalis positif rilis data ekonomi dalam negeri, dimana posisi neraca perdagangan Indonesia bulan November 2025 mencatatkan surplus dan inflasi terjaga,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus alias Nico, dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mencatatkan surplus sebesar 2,66 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Selain itu, inflasi Desember 2025 tercatat sebesar 0,64 persen secara bulanan (mtm) dan 2,92 persen secara tahunan (yoy).

Data Ekonomi Dalam Negeri

Secara keseluruhan, laju inflasi Indonesia sepanjang 2025 dinilai tetap terjaga dan masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5 hingga 3,5 persen. Kondisi tersebut memberikan ruang optimisme bagi pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Dari mancanegara, pelaku pasar cenderung mengabaikan kekhawatiran geopolitik menyusul serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela. Fokus investor justru beralih ke data ekonomi China yang menunjukkan aktivitas bisnis masih berada di zona ekspansif.

Survei sektor swasta menunjukkan aktivitas bisnis China bertahan ekspansif selama tujuh bulan berturut-turut. Pada Desember 2025, indeks tercatat di level 52,0, sedikit menurun dibandingkan November 2025 yang berada di 52,1. Data tersebut mencerminkan dukungan dari aktivitas sektor jasa yang lebih kuat serta peningkatan kembali produksi pabrik.

Presiden China Xi Jinping juga mengisyaratkan kebijakan makro yang lebih proaktif pada 2026 guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 4.010.984 transaksi dengan volume 70,26 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp30,32 triliun. Sebanyak 446 saham menguat, 246 saham melemah, dan 114 saham stagnan.

Di kawasan Asia, bursa regional juga bergerak positif. Indeks Nikkei melonjak 2,97 persen, Shanghai Composite naik 1,38 persen, dan Strait Times menguat 0,52 persen.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |