Rilis Data Pekerjaan AS Desember 2025 Bayangi Wall Street Pekan Ini

3 days ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah data ekonomi salah satunya data pekerjaan akan dirilis pada pekan ini yang akan membayangi bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street. Rilis data ekonomi ini akan kembali ke sesuai jalur setelah gangguan beberapa bulan karena penutupan pemerintah atau shutdown pemerintah Amerika Serikat (AS) selama 43 hari yang berlangsung hingga pertengahan November 2025.

Mengutip Yahoo Finance, Senin (5/1/2026), pada Jumat, laporan pekerjaan Desember akan menunjukkan perlambatan perekrurtan pada Desember 2025. Ekonom memprediksi jumlah pekerjaan di sektor nonpertanian akan tumbuh 55.000, turun dari kenaikan pekerjaan pada November 2025 sebesar 64.000.

Tingkat pengangguran yang mencapai angka tertinggi dalam empat tahun sebesar 4,6% pada November akan turun sebesar 0,1%.

Selain itu, laporan penggajian swasta bulanan dari ADP, data pemutusan kerja bulanan dari Challenger, Gray and Christmas dan laporan mingguan tentang klaim pengangguran awal akan melengkapi fokus pada pasar tenaga kerja untuk memulai bulan ini.

"Semua data ketenagakerjaan ini akan dipantau secara cermat untuk melihat dampaknya terhadap spekulasi kalau the Federal Reserve akan memangkas suku bunga saat rapat akhir bulan ini, meskipun data dari CME Group pada Jumat menunjukkan pelaku pasar memperkirakan peluang 85% kalau the Federal Reserve (the Fed) akan mempertahankan suku bunga dalam kisaran saat ini 3,5%-3,75%,” demikian seperti dikutip.

Dari sentimen the Federal Reserve (the Fed), investor juga akan waspada terhadap pengumuman apapun dari Presiden AS Donald Trump tentang nominasinya untuk menggantikan ketue the Fed Jerome Powell yang masa kepemimpinannya berakhir pada Mei 2026. Presiden Donald Trump mengatakan pada akhir bulan lalu berharap akan menunjuk pengganti Powell pada awal Januari.

Sentimen Lainnya

Data aktivitas sektor jasa dan sentimen konsumen akan melengkapi kalender data ekonomi pada pekan ini. Sementara rilis laporan keuangan masih sedikit, dengan Constellation Brands (STZ), Albertsons (ACI), Jefferies Financial Group (JEF), dan Applied Digital (APLD) sebagai nama-nama yang paling menonjol yang akan melaporkan hasil kuartalan.

Bank-bank besar diperkirakan memulai musim laporan keuangan secara serius dalam waktu kurang dari dua minggu.

Terlepas dari atau mungkin karena  pasang surut tahun ini, 2025 cukup baik bagi investor.

Indeks acuan S&P 500 naik lebih dari 16% sepanjang tahun, sementara Nasdaq Composite memimpin kenaikan dengan lonjakan lebih dari 20%. Hal ini setelah penurunan tajam pada April yang mengancam akan membuat pasar jatuh ke pasar bearish dalam hitungan hari.

"Ekonomi menunjukkan kekuatan yang luar biasa dengan mengatasi inflasi yang lebih tinggi, pasar tenaga kerja yang melambat, lebih sedikit pemotongan suku bunga daripada yang diperkirakan semula, dan kenaikan tajam dalam tingkat tarif efektif," tulis Chief Technical Strategist LPL Financial, Adam Turnquist.

Nvidia (NVDA), pembuat chip dominan secara global, melihat sahamnya naik lebih dari 30%, sementara raksasa "Magnificent Seven" lainnya, Google (GOOG), memimpin kelompok raksasa teknologi, naik lebih dari 60%. Perlu dicatat, kedua saham ini adalah satu-satunya anggota Magnificent 7 yang mengungguli S&P 500 tahun lalu.

Prediksi Kinerja Wall Street

Sebelumnya, sejumlah pengamat di Wall Street memperkirakan pasar saham Amerika Serikat (AS) akan terus meningkat pada 2026. Survei Strategi Pasar CNBC menunjukkan target rata-rata S&P 500 untuk tahun ini adalah 7.629, yang menyiratkan potensi kenaikan sebesar 11,4%. 

Sektor teknologi menjadi perdagangan terbaik 2025, memimpin pasar secara keseluruhan menuju kenaikan tajam karena investor terus berinvestasi pada saham-saham AI. Indeks S&P 500 naik lebih dari 16% tahun lalu, menandai kenaikan tahunan ketiga berturut-turut. Nasdaq melonjak lebih dari 20% tahun lalu, dan Dow Jones yang terdiri dari 30 saham naik sekitar 13%. Ketiga indeks acuan tersebut mencapai rekor tertinggi tahun lalu. Demikian mengutip CNBC, Sabtu (3/1/2026).

“Kami pikir akan ada rotasi bolak-balik yang berkelanjutan antara sektor teknologi dan non-teknologi, tetapi secara keseluruhan kita akan bergerak lebih tinggi,” kata CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield.

Kinerja Wall Street Pekan Lalu

Hatfield mengatakan reli akan “lebih seimbang” karena bank-bank regional berkinerja lebih baik dan saham-saham teknologi dengan valuasi mahal seperti Tesla mulai tertinggal.

"Ada tema-tema selain teknologi yang sangat mungkin berhasil tahun ini,” ia menambahkan.

Ia memiliki target akhir tahun 8.000 untuk S&P 500.

Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street bervariasi pada perdagangan saham Jumat, 2 Januari 2025. Pada hari pertama perdagangan 2026, indeks S&P 500 menguat seiring saham-saham semikonduktor menjadi indeks tetap stabil.

Mengutip CNBC, indeks S&P 500 ditutup menguat 0,19% ke posisi 6.858,7. Indeks Nasdaq terpangkas 0,03% menjadi 23.235,63. Dua indeks saham acuan itu sebelumnya menunjukkan tren positif yang solid pada awal hari, dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik 0,7% dan 1,5% pada puncak. Sementara itu, indeks Dow Jones bertambah 319,10 poin atau 0,66% menjadi 48.382,39.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |