Pasar IPO India Tengah Booming, Perusahaan Global Lirik Bisnis Lokal

3 days ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Investor asing meski tahun ini cenderung mengurangi eksposur terhadap saham-saham di India, perusahaan global justru berlomba untuk mencatatkan unit bisnis di pasar penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) India yang tengah berkembang pesat karena tertarik dengan valuasi lebih tinggi.

Dikutip dari CNBC pada Selasa (25/11/2025), unit botol Coca-Cola India dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk melakukan IPO senilai miliaran dolar AS tahun depan. Sementara itu, CJ Darcl Logistics, cabang perusahaan logistik asal Korea Selatan, sudah mengajukan dokumen IPO.

Ke depan, para analis memproyeksi akan ada lebih banyak perusahaan global mencatatkan unit atau anak perusahaan yang beroperasi di India di pasar saham India. 

"Perusahaan multinasional sekarang lebih fokus pada langkah-langkah yang bisa meningkatkan valuasi,” ujar Akshay Gupta dari Prime Securities.

Ia merujuk pada perusahaan Jerman, Siemens, yang memisahkan bisnis India-nya menjadi dua dan mencatatkan unit energi mereka pada Maret 2025.

Meskipun Siemens Energy, induk dari Siemens Energy India, sudah menunjukkan kinerja yang luar biasa dan diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba (P/E) lebih dari 60 kali, Siemens Energy India diperdagangkan dengan rasio P/E yang jauh lebih tinggi, yakni 117 kali.

"Perusahaan di India sekarang memiliki divisi pasar modal di dalam treasury mereka untuk memastikan terciptanya valuasi,” tambah Gupta. Ia menjelaskan bahwa perusahaan global ingin memanfaatkan perbedaan valuasi yang ada di India. 

Contoh lainnya adalah LG Electronics India, yang baru saja melakukan IPO dan saat ini bernilai USD 12,6 miliar atau Rp 209,48 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.626). Sebagai perbandingan, menurut data LSEG, induk LG Electronics di Korea Selatan saat ini bernilai USD 10,1 miliar atau Rp atau Rp 167,90 triliun.

Setelah IPO, LG Electronics tetap memegang 85% saham di unit India-nya. Meskipun laba bersih unit India hanya sekitar sepersepuluh dari induknya, tetapi saham LG Electronics India dihargai jauh lebih tinggi oleh pasar karena perbedaan valuasi yang lebih besar.

Penjelasan Perbedaan Valuasi

Managing Director dari Ambit Investment Managers, Dhiraj Agarwal mengaitkan perbedaan valuasi ini dengan pertumbuhan pendapatan yang lebih cepat pada unit bisnis lokal, yang tumbuh dalam kisaran dua digit, dibandingkan dengan induk perusahaan global yang biasanya tumbuh dalam kisaran satu digit.

Menurut Agarwal, pasar India, dan juga sebagian pasar AS, cenderung "terlalu membayar" untuk perusahaan dengan pertumbuhan tinggi. Ia menyebut valuasi yang sangat tinggi untuk unit bisnis lokal ini sebagai “gelembung jangka pendek” yang pada akhirnya akan mengalami koreksi. 

Gupta menambahkan, perusahaan multinasional juga dicari sebagai peluang investasi karena regulasi tata kelola perusahaan yang mereka miliki.

Dilansir dari CNBC, para ahli menyebut, tingginya permintaan, ditambah dengan kuatnya likuiditas India yang didorong oleh pertumbuhan arus masuk dana ke pasar saham lewat reksa dana, menyebabkan banyak perusahaan multinasional mendapat valuasi premium.

"Selama bertahun-tahun, saham di India memang memiliki premium valuasi dibandingkan dengan saham perusahaan induk global di pasar lainnya. Ini berlaku untuk sektor konsumen maupun industri. Perubahan utama yang terjadi adalah meningkatnya kematangan pasar modal India," ujar VP dan Senior Institutional Portfolio Manager untuk Saham India di Templeton Global Investments, Hari Shyamsunder.

Investor Ritel Pilih Investasi Saham

Shyamsunder juga menjelaskan popularitas Sistematic Investment Plans (SIPs) yang melibatkan investasi sejumlah uang secara rutin, dan lonjakan peserta ritel telah menciptakan kolam likuiditas domestik yang dalam.

Pada Agustus, Reserve Bank of India mencatat investor ritel semakin lebih memilih investasi saham dibandingkan dengan instrumen tabungan tradisional, terutama melalui reksa dana.

Bank sentral mencatat bahwa porsi reksa dana dalam tabungan finansial rumah tangga meningkat signifikan, dari 0,9% pada 2011-2012 menjadi 6% pada 2022-2023. Selain itu, reksa dana juga mengalami pertumbuhan pesat dalam jumlah akun SIP baru, terutama dari kota-kota kecil. Bank sentral turut menyoroti meningkatnya partisipan wanita.

Para ahli menjelaskan likuiditas yang kuat ini membuka peluang berar untuk IPO. Dua IPO besar, yaitu Tata Capital dan LG Electronics dengan masing-masing valuasi berada di kisaran USD 3 miliar, berhasil terisi sepenuhnya dalam jendela lima hari berturut-turut pada Oktober. 

Menurut mereka, hal ini mempermudah perusahaan multinasional untuk mencatatkan operasi mereka di India dan memonetisasi sebagian kepemilikan mereka untuk mendapatkan keuntungan signifikan.

“Mencatatkan saham di India juga membantu memperkuat harga saham induk perusahaan karena unlock value dari operasi India yang berhasil,” kata Bhavesh Shah, MD dan Kepala Investment Banking di Equirus Capital.

Ia menambahkan perusahaan tetap dihargai tinggi oleh investor India setelah IPO di mana hal ini meningkatkan valuasi sum-of-parts dari perusahaan induk.

Likuiditas Pasar Keuangan

Hyundai Motor India dan LG Electronics keduanya melaksanakan IPO melalui penawaran untuk menjual saham yang sudah ada, bukan dengan menerbitkan saham baru, dan hampir tidak mengumpulkan modal baru. 

Setelah awal yang kurang menggembirakan, menurut data LSEG, kapitalisasi pasar Hyundai Motor India telah meningkat dari USD 17 miliar menjadi lebih dari USD 21 miliar.

Berdasarkan Prime Database yang berbasis di Mumbai, lebih dari dua pertiga dana IPO yang dihimpun di India pada 2025 telah digunakan untuk memperoleh dana dari investor yang keluar dari investasi mereka. 

Meski terdapat kritik yang mengatakan penawaran untuk dijual ini menunjukkan MNCs memindahkan risiko kepada investor domestik, perusahaan multinasional tetap memiliki sekitar 75% dari anak perusahaan India mereka meskipun sudah terdaftar, kata Pranav Haldea, Managing Director dari Prime Database Group.

Meskipun penjualan sebagian saham perusahaan induk ini mengurangi investasi asing bersih pada saat eksekusi, Shyamsunder dari Templeton mengatakan,kemungkinan strategi keluar ini dan penciptaan nilai dapat menarik investasi asing langsung (FDI) dalam jangka panjang.

"Listing ini membuktikan kedalaman dan likuiditas pasar keuangan India secara global," ujar dia.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |