MSCI Umumkan Rebalancing Besok, Ini Dampaknya ke Pasar Saham RI

9 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai pengumuman rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 masih akan memberikan pengaruh signifikan terhadap arus dana asing dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Menurutnya, banyak fund global hingga kini masih menjadikan indeks MSCI sebagai acuan utama dalam menentukan alokasi investasi.

"Rebalancing MSCI tetap memiliki pengaruh besar terhadap arus dana asing dan pergerakan IHSG karena banyak fund global masih menjadikan indeks MSCI sebagai acuan," kata Reydi kepada Liputan6.com, Senin (11/5/2026).

Reydi mengatakan rebalancing MSCI tetap menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi aliran modal asing ke pasar saham Indonesia. Perubahan bobot maupun keluarnya saham dari indeks berpotensi memicu aksi jual dalam jangka pendek, terutama dari investor institusi global yang mengikuti komposisi MSCI.

Meski demikian, dampaknya dinilai tidak sebesar beberapa tahun sebelumnya. Pasar disebut mulai mengantisipasi isu-isu seperti free float, likuiditas saham, hingga high shareholder concentration (HSC) pada sejumlah emiten.

"Namun dampaknya saat ini cenderung lebih terbatas karena pasar sudah mulai mengantisipasi isu free float, likuiditas, dan HSC di saham-saham tertentu. Jika ada pengurangan bobot atau exclusion, potensi tekanan jual asing tetap cukup besar dalam jangka pendek," ujarnya.

Potensi Tekanan Jual Asing Masih Terbuka

Menurut Reydi, apabila dalam pengumuman nanti terdapat pengurangan bobot atau exclusion saham tertentu, tekanan jual asing masih cukup besar berpotensi terjadi. Kondisi tersebut dapat menjadi sentimen negatif jangka pendek bagi IHSG. 

Ia menambahkan, perhatian investor global saat ini juga tertuju pada kualitas struktur pasar modal Indonesia, khususnya terkait free float saham dan likuiditas perdagangan.

"Hasil rebalancing MSCI berpotensi menjadi sentimen negatif jangka pendek, terutama jika kembali memunculkan kekhawatiran soal kualitas free float dan struktur pasar Indonesia," jelasnya.

Investor Fokus ke Foreign Flow  

Di sisi lain, Reydi menilai dampak negatif rebalancing MSCI kemungkinan hanya bersifat sementara apabila pasar melihat reformasi yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berjalan konsisten.

Menurutnya, investor kini lebih mempertimbangkan arah foreign flow, stabilitas nilai tukar rupiah, serta prospek kinerja emiten dibanding hanya efek rebalancing indeks semata.

"Namun, jika pasar melihat reformasi BEI dan OJK mulai berjalan konsisten, tekanan tersebut biasanya lebih bersifat temporary. Investor saat ini lebih fokus pada arah foreign flow, stabilitas rupiah, dan prospek earnings emiten dibanding hanya efek rebalancing," pungkasnya. 

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |