Lomba 'Kolek' dan 'Ketinting' Upaya Warga Lintas Pulau di Batam Merawat Tradisi Jelang HUT RI

2 weeks ago 21

Liputan6.com, Jakarta - Jelang Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, ada yang berbeda di Pulau Belakang Padang, Batam, Kepulauan Riau.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, warga setempat menggelar lomba sampan layar atau kolek dan ketinting (sampan bermesin diesel). Kegiatan yang diikuti peserta dari berbagai pulau di Kepri, termasuk Tanjung Balai Karimun, Buru, Tanjungpinang, hingga Bintan ini adalah tradisi rutin yang mengakar sejak lama dalam rangka memperingati HUT RI.

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengapresiasi antusiasme warga. Menurutnya, event seperti ini memberi dampak positif pada perekonomian lokal.

"Kegiatan ini menggerakkan UMKM, pedagang, dan sektor pariwisata. Pemerintah Kota akan berupaya memperbaiki fasilitas pelabuhan dan akses menuju lokasi agar tahun depan lebih meriah," ucapnya, Minggu (10/8/2025).

Dulu Negara Tetangga Ikut Berpartisipasi

Tokoh masyarakat Belakang Padang, Hasim, mengungkapkan bahwa lomba sampan layar sudah ada sejak tahun 1980-an. Dulu, sebelum aturan lintas batas diperketat pada akhir 1990-an, kegiatan ini negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

"Kami berharap ke depan bisa mengundang kembali peserta dari negara-negara serumpun Melayu seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei. Ini bisa menjadi wisata budaya perbatasan yang go international,” ujarnya.

Dalam kegiatan ini, tercatat 37 sampan layar dan 15 ketinting berlaga di tiga kategori. Mulai dari kru 9 orang, 7 orang, hingga 5 orang.

Riuh sorak penonton di tepian laut menjadi bukti bahwa tradisi ini tetap hidup dan dicintai warga. Dengan semangat kemerdekaan, masyarakat Belakang Padang tidak hanya merayakan HUT RI, tetapi juga menjaga denyut budaya maritim yang telah diwariskan lintas generasi — dari pesisir Kepri hingga ke perbatasan negeri.

Penghormatan pada Budaya Lama Masyarakat Pesisir

Dalam kesempatan yang sama, Anggota DPR RI Komisi III, Endipat Wijaya, bersama Wakil Ketua I DPRD Batam Aweng Kurniawan, sebagai penggagas berharap semua pihak terus melestarikan warisan budaya maritim perbatasan Indonesia-Singapura.

Ke depan, dia berjanji kegiatan serupa akan digelar dengan format yang lebih inklusif tanpa label partai tertentu.

“Acara sebagus ini jangan sampai terkotak-kotak. Semua partai, semua warga, bahkan pihak kepolisian dan unsur masyarakat bisa ikut. Kita ingin persatuan Indonesia terasa di Belakang Padang," ujarnya.

Apalagi, katanya, lomba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan bentuk penghormatan terhadap budaya lama masyarakat pesisir.

"Sampan layar itu tradisi lama yang harus dijaga. Harapan kami, kegiatan ini bisa berkembang menjadi event wisata laut yang mendatangkan pengunjung dari dalam dan luar negeri,” kata Aweng.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |