Liputan6.com, Kupang - Gubernur NTT Melki Laka Lena turut berbelasungkawa atas meninggalnya Prada Lucky Namo di Mbay, Nagekeo. Duka cita itu disampaikan Melki saat bersama istrinya mengunjungi rumah duka di Kota Kupang, akhir pekan kemarin, Minggu (10/8/2025).
Kedatangan Melki itu diterima orang tua Prada Lucky, Sersan Mayor Christian Namo dan ibu Sepriana Paulina Mirpey.
Gubernur yang juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini meminta TNI mengusut tuntas kasus kematian Prada Lucky dan siap mengawalnya. Melki juga memastikan keluarga Prada Lucky untuk mendapatkan keadilan.
"Saya mendukung langkah dan sikap orang tua dari Prada Lucky yang mendorong upaya hukum," ujarnya.
Melki berjanji bersama pimpinan TNI AD di NTT, Bali, dan Jakarta mengawal dan mendukung penuh proses hukum terhadap para pelaku.
Dia mengungkapkan sangat menghargai niat orang tua Prada Lucky agar kejadian serupa tidak lagi terjadi di kemudian hari.
"Kami menghargai niat orang tua Prada Lucky sehingga tidak ada kejadian lagi seperti yang dialami Prada Lucky," kata Melki.
Melki berharap agar tidak ada lagi kekerasan yang berakibat fatal dalam pola pembinaan baik saat di pendidikan maupun saat bekerja.
Fakta Baru
Sebelumnya Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), prajurit TNI Angkatan Darat yang bertugas di Batalyon Teritorial Pembangunan 834 Waka Nga Mere (Yon TP 834/WM) Nagekeo, tewas lantaran disiksa puluhan seniornya.
Prada Lucky meninggal dunia pada Rabu (6/8) siang. Dia sempat menjalani perawatan selama empat hari di RSUD Aeramo, Nagekeo.
Setelah dua hari disemayamkan di rumah duka, jenazah Prada Lucky dimakamkan pada Sabtu (9/8/2025) dengan upacara kemiliteran.
Jenazah Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), sudah dimakamkan, Sabtu 10 Agustus 2025, kemarin. Mendiang meninggal dunia setelah diduga dianiaya oleh sejumlah seniornya di barak Batalyon Teritorial Pembangunan 834 Waka Nga Mere, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Meski demikian, ibunda Prada Lucky, Sepriana Paulina Mirpey mengungkapkan sebuah fakta baru. Menurutnya, sejak Lucky dilarikan ke rumah sakit, tak ada kabar dari batalyon soal kondisi putranya itu.
Nomor handphone Lucky yang dihubungi di luar jangkauan. Disebut, handphone itu disita Dasintel.
Ia akhirnya menghubungi Dasintel dan berharap bisa berkomunikasi dengan anaknya. Kepadanya, ia dikabari jiwa Lucky dalam keadaan baik-baik saja.
"Dasintel membohongi saya. Dia bilang lucky sehat. Saat saya minta bicara dengan Lucky, dia selalu alasan kalau Lucky sedang istrahat. Padahal saat itu, Lucky sudah sekarat," cerita Sepriana.
Ia baru mengetahui kondisi Lucky saat anaknya itu berhasil kabur dari barak dan meminta bantuan ibu angkatnya mengobati lukanya.
"Lucky pinjam handphone mama angkatnya untuk video call. Saya kaget karena badannya penuh luka. Lucky bilang, kalau dia dianiaya seniornya," ungkap Sepriana.
Di rumah itu, mama angkatnya sempat mengobati luka Lucky seadanya.
"Kata Lucky, dia dipukul oleh Bamak (Badan Pembinaan Hukum Militer) dan Dasintel (Komando Daerah Intelijen). Namun, Lucky tak sempat menyebut nama pelaku secara spesifik," katanya.
Sesaat kemudian, ibu Lucky mendapat telepon dari batalyon dan meminta bantuan sang ibu untuk membujuk Lucky kembali ke barak.
"Karena saya kira pembinaan biasa, sehingga saya telpon lewat mama angkatnya suruh Lucky kembali ke barak," katanya.
Sesaat kemudian Lucky dijemput di rumah mama angkatnya oleh sekitar 15 orang seniornya dan dibawa ke barak. Di sana, Lucky diduga kembali disiksa hingga tak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit.