Ini Emiten Lighthouse yang IPO di BEI Sepanjang 2025

2 days ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 26 perusahaan berhasil melakukan initial public offering (IPO) sepanjang tahun 2025, atau jauh di bawah target awal 45 emiten yang ditetapkan di awal tahun. 

Meskipun begitu, Direktur Utama BEI Iman Rachman menyampaikan bahwa di antara 26 emiten yang melantai tersebut, terdapat 6 perusahaan yang tergolong sebagai emiten lighthouse. Perusahaan apa saja itu yang masuk dalam kategori lighthouse IPO pada 2025? Berikut daftarnya.

Bangun Kosambi Sukses

PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini, Senin 13 Januari 2025. Pada perdagangan perdananya, saham CBDK sentuh auto reject atas (ARA) dengan kenaikan 25 persen ke posisi 5.075.

Dalam rangka IPO, anak usaha PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) yang dikendalikan taipan Aguan dan Grup Salim ini menawarkan 556,89 juta saham dengan harga Rp 4.060 per saham. Dengan demikian, perseroan mengantongi Rp 2,3 triliun dari IPO.

Emiten Berikutnya

Yupi Indo Jelly Gum

PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) telah menggelar penawaran umum perdana saham (IPO) dan mengumpulkan dana segar sebesar Rp2,04 triliun yang terdiri dari hasil IPO dan divestasi pemegang saham sebelumnya, salah satunya PT Sweets Indonesia (PTSI). Pada Selasa, (25/3/2025), perseroan mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI).

YUPI mencatatkan sebanyak 8.544.488.700 saham di BEI yang terdiri dari saham pendiri yang tidak ditawarkan 7.690.039.800 saham dan penawaran umum atau initial public offering (IPO) sebanyak 854.448.900 dengan nilai nominal Rp 50 per saham. Adapun harga perdana yang dipatok sebesar Rp 2.390 per saham. Perseroan menjadi emiten ke-11 yang catatkan saham perdana di papan utama BEI dengan kode saham YUPI.

Merdeka Gold Resources

PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) resmi melantai di bursa hari ini, Selasa, 23 September 2025. EMAS menjadi perusahaan tercatat ke-23 di BEI pada 2025.

Emiten pertambangan emas ini menawarkan sebanyak 1.618.023.300 saham baru dengan nilai nominal Rp 150 per saham, setara 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Harga penawaran ditetapkan Rp 2.880 per saham, sehingga total nilai penawaran mencapai Rp 4,66 triliun.

Dana hasil IPO setelah dikurangi biaya emisi akan dialokasikan untuk beberapa keperluan. Sebesar USD 20 juta atau sekitar Rp 329,2 miliar akan diberikan sebagai uang muka setoran modal bertahap kepada PT Pani Bersama Tambang (PBT) untuk mendanai modal kerja operasional seperti pembelian bahan baku, biaya listrik, dan karyawan.

Jumlah yang sama juga akan dipinjamkan kepada PETS untuk keperluan modal kerja serupa. Selain itu, sebagian dana akan digunakan untuk pelunasan lebih awal sebagian pokok utang USD 260 juta kepada PT Merdeka Copper Gold Tbk (MCG) guna mengurangi kewajiban utang.

Emiten Selanjutnya

Chandra Daya Investasi 

PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (9/7/2025). Chandra Daya Investasi menjadi perusahaan tercatat ke-17 di BEI pada 2025. 

Saham CDIA mengalami kelebihan permintaan (oversubscription) hingga 563,64 kali dengan total partisipasi 400.126 investor sepanjang masa penawaran.  CDIA melepas sebanyak 12,48 miliar saham atau setara 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO, dengan harga penawaran Rp190 per saham.

Dari penawaran umum perdana saham (IPO) tersebut, Chandra Daya Investasi berhasil meraih dana sebesar Rp 2,37 triliun. Dana tersebut rencananya akan digunakan sepenuhnya untuk memperkuat lini bisnis logistik serta kepelabuhan dan penyimpanan yang dijalankan oleh entitas anak.

Dalam prospektus, manajemen menyebutkan sekitar Rp 871,76 miliar akan disalurkan sebagai penyertaan modal kepada anak usaha di bidang logistik, yaitu CSI dan MIM, untuk pembelian kapal dan mendukung operasional.

Sementara sekitar Rp1,48 triliun akan digunakan untuk menyuntik modal ke CSP dan CCP, yang akan mengembangkan fasilitas tangki penyimpanan, pipa saluran etilena, serta infrastruktur pendukung lainnya.

Super Bank Indonesia

 PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank, bank dengan layanan digital yang didukung oleh Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank, dan GXS, resmi melangsungkan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (IDX) pada Rabu (17/12/2025).

Aksi korporasi tersebut menjadi tonggak strategis bagi Superbank dalam memperkokoh struktur permodalan sekaligus memperluas jangkauan layanan keuangan digital kepada masyarakat Indonesia.

Pada perdagangan perdana, pergerakan harga saham SUPA melonjak 24,41% ke level 790 atau 156 naik poin dari harga IPO di Rp 635 per saham.

Dalam penawaran umum perdana (IPO) ini, Superbank menetapkan harga saham sebesar Rp 635 per saham dengan menerbitkan sebanyak 4,4 miliar saham baru, atau setara 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dari aksi ini, perseroan berhasil menggalang dana sebesar Rp 2,79 triliun yang akan dimanfaatkan untuk mendorong ekspansi usaha serta memperkuat kapabilitas perbankan digital.

Berdasarkan prospektus, sekitar 70% dana hasil IPO akan dialokasikan sebagai modal kerja untuk memperkuat penyaluran kredit ke segmen underbanked, baik ritel maupun UMKM, yang menjadi fokus utama pertumbuhan Superbank. 

Adapun sekitar 30% sisanya akan digunakan untuk belanja modal, mencakup pengembangan produk pendanaan dan pembiayaan, digital payment systems, infrastruktur teknologi informasi, penguatan sistem operasional, serta investasi jangka panjang pada teknologi AI, data analytics, dan cybersecurity.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |