Ini 6 Emiten dengan Kapitalisasi Pasar Terbesar di BEI pada Akhir 2025 

2 days ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Menutup tahun 2025, konsentrasi kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bertumpu pada saham-saham berkapitalisasi besar. Sepanjang November 2025, deretan 50 emiten dengan nilai pasar terbesar tercatat menyumbang sekitar 74% dari total kapitalisasi BEI.

Dari 50 emiten tersebut, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) memimpin jajaran teratas. Melansir data Bursa Efek Indonesia (BEI), berikut 6 emiten dengan kapitalisasi terbesar sepanjang November 2025.

Barito Renewables Energy

Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menempati posisi teratas sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia pada November 2025. Kapitalisasi pasar BREN tercatat mencapai sekitar Rp 1.281 triliun atau setara 8,20% dari total kapitalisasi 50 saham terbesar.

Bank Central Asia

Di posisi kedua, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan kapitalisasi pasar sebesar Rp 1.009 triliun dengan kontribusi sekitar 6,46%. Emiten perbankan swasta terbesar di Indonesia ini masih menjadi salah satu penopang utama kapitalisasi pasar BEI.

Dian Swastatika Sentosa

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berada di peringkat ketiga dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp 847,22 triliun. Angka tersebut setara dengan sekitar 5,42% dari total kapitalisasi kelompok 50 saham terbesar di BEI.

Chandra Asri Pacific

Selanjutnya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menempati posisi keempat dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 640,18 triliun atau sekitar 4,10%. Emiten sektor petrokimia ini menjadi salah satu saham non-perbankan dengan nilai pasar terbesar di bursa.

Bayan Resources

Di peringkat kelima, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mencatatkan kapitalisasi pasar sekitar Rp587,50 triliun. Nilai tersebut merepresentasikan sekitar 3,76% dari total kapitalisasi 50 saham terbesar, seiring kuatnya dominasi sektor pertambangan batu bara di pasar saham nasional.

DCI Indonesia

Posisi keenam ditempati oleh PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 563,76 triliun atau sekitar 3,61%. Emiten pusat data ini menjadi salah satu saham teknologi dengan kapitalisasi terbesar di Bursa Efek Indonesia.

Pasar Modal Raih Capaian Positif Sepanjang 2025, Ini Tanggapan Asosiasi

Sebelumnya, pasar saham Indonesia membukukan performa solid sepanjang 2025. Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) yang juga menjabat Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), Armand Wahyudi Hartono menanggapi capaian pasar modal Indonesia pada 2025 Ia menyampaikan bahwa kinerja pasar saham nasional menunjukkan daya tahan yang kuat sepanjang 2025.

Ia menuturkan, pada paruh pertama tahun tersebut, pasar saham Indonesia sempat berada di bawah tekanan dan mengalami pelemahan tajam. Namun, memasuki semester dua 2025, kondisi berbalik dengan pemulihan yang cepat hingga mencatatkan sejumlah pencapaian tertinggi baru. 

Armand menilai, capaian positif ini tidak terlepas dari pertumbuhan pesat jumlah investor ritel. 

"Jadi tutup di 8.600-an. Dan yang berkembang itu tentunya investor ritel, sudah lebih dari 20 juta. Itu di luar dugaan kita semua, luar biasa lah. Padahal target 20 juta itu dulu kita bicarakan pada 2027," kata Armand kepada wartawan di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Selasa (30/12/2025).

Selain investor ritel, Armand juga menilai masih terbuka peluang bagi investor institusi untuk meningkatkan partisipasi di pasar saham domestik. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa asosiasi akan terus mendorong emiten agar meningkatkan kepercayaan investor. Dengan kualitas emiten yang semakin baik, ia optimistis aktivitas dan daya tarik pasar saham Indonesia akan terus meningkat. 

Pasar Modal Indonesia Raih Kinerja Positif Sepanjang 2025, IHSG Tumbuh 22,1%

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja pasar modal Indonesia menunjukkan capaian positif sepanjang 2025, meskipun pasar keuangan global diwarnai ketidakpastian, tensi geopolitik, hingga perlambatan ekonomi di sejumlah negara utama.

Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK Eddy Manindo Harahap menyampaikan hingga menjelang penutupan tahun, indikator utama pasar modal mencatat pertumbuhan yang signifikan. Hingga 29 Desember 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh 22,1 persen secara year to date dan ditutup pada level 8.644,26.

"Secara umum dapat saya sampaikan pasar modal Indonesia menunjukkan capaian yang cukup menggembirakan menjelang penutupan tahun 2025,” ujar Eddy dalam konferensi pers, Selasa (30/12/2025).

Selain IHSG, nilai kapitalisasi pasar melonjak mencapai Rp 15.810 triliun atau tumbuh 28,16 persen secara year to date. Dari pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup pada posisi 440,19 atau meningkat 12,1 persen sepanjang tahun berjalan.

Dari sisi penghimpunan dana, hingga 29 Desember 2025 tercatat 210 penawaran umum, termasuk 18 emiten saham baru yang telah memperoleh pernyataan efektif dari OJK, dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 268,14 triliun. Nilai tersebut melampaui target OJK sebesar Rp 220 triliun.

"Ini menjadi bukti nyata kepercayaan yang terus menguat terhadap pasar modal Indonesia,” kata Eddy.

Kinerja positif juga terlihat pada produk investasi lainnya. Penghimpunan dana melalui securities crowdfunding (SCF) secara akumulatif hingga 23 Desember 2025 mencapai Rp 1,808 triliun dengan melibatkan 971 penerbit.

Sementara itu, aset kelolaan reksa dana per 24 Desember 2025 tercatat sebesar Rp 1.039,71 triliun atau meningkat 24,16 persen secara year to date, dengan nilai aktiva bersih mencapai Rp 681,23 triliun atau tumbuh 36,45 persen.

Aktivitas Perdagangan Saham

Aktivitas perdagangan saham turut mencatatkan peningkatan, tercermin dari rata-rata nilai transaksi harian yang mencapai Rp 18,06 triliun atau naik 40,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi investor, jumlah Single Investor Identification (SID) per 23 Desember 2025 tercatat mencapai 20,2 juta, dengan penambahan 5,34 juta investor baru sepanjang tahun. Mayoritas investor individu didominasi generasi muda berusia di bawah 40 tahun yang mencapai lebih dari 79 persen dari total SID.

Di sisi pengembangan instrumen baru, perdagangan karbon secara akumulatif sejak diluncurkan pada 26 September 2023 hingga 24 Desember 2025 mencatat volume transaksi sebesar 1,6 juta ton CO₂ ekuivalen, dengan total nilai transaksi mencapai Rp 80,75 miliar. Hingga periode tersebut, sebanyak 150 perusahaan telah berpartisipasi sebagai pengguna jasa, dengan unit karbon yang masih tersedia mencapai 2,67 juta ton CO₂e.

Sementara itu, transaksi keuangan derivatif dengan underlying efek, baik single stock futures maupun indeks, sejak awal tahun hingga Desember 2025 mencatatkan total volume transaksi sebesar 9.907,18 lot, dengan frekuensi transaksi mencapai 4,4 juta kali dan jumlah kontrak sebanyak 480 kontrak.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |