Emiten WINS Bentuk Perusahaan Patungan untuk Perluas Bisnis Maritim

1 week ago 18

Liputan6.com, Jakarta - PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) resmi melakukan penyertaan modal dalam perusahaan patungan baru bernama PT Pulau Kelapa Perkasa, yang berfokus pada bidang pelayaran. Langkah ini menandai strategi perseroan untuk memperluas portofolio bisnis ke sektor maritim di luar layanan offshore yang selama ini menjadi inti usaha.

Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, (21/11/2025), perusahaan patungan tersebut berkedudukan di Jakarta Barat dengan komposisi kepemilikan WINS sebesar 45%. Perseroan menyampaikan pengambilalihan saham dilakukan pada 15 November 2025 sesuai ketentuan POJK terkait keterbukaan informasi material.

Direksi menjelaskan pendirian entitas baru ini merupakan bagian dari upaya diversifikasi usaha. Langkah ini sekaligus membuka ruang bagi sumber pendapatan baru di masa mendatang.

Melalui perusahaan patungan ini, WINS menempatkan ekspansi ke bisnis pelayaran sebagai salah satu arah strategis. Perseroan menegaskan bahwa tujuan dari langkah tersebut adalah untuk memperkuat ketahanan bisnis. 

WINS juga mengumumkan pendirian perusahaan baru bernama PT Marine Solution Management Services melalui salah satu entitas anaknya. Langkah ini tercatat sebagai informasi atau fakta material yang terjadi pada 17 November 2025.

Dalam keterbukaan informasi, Perseroan menjelaskan PT Marine Solution Management Services akan bergerak di bidang aktivitas pengelolaan kapal. Wintermar memiliki kepemilikan tidak langsung atas perusahaan baru tersebut sebesar 100%, dan pendiriannya telah memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia pada tanggal yang sama.

Penutupan IHSG pada 21 November 2025

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona merah hingga penutupan perdagangan Jumat, (21/11/2025). Koreksi IHSG hari ini terjadi di tengah sektor saham teknologi catat kenaikan terbesar.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup melemah tipis 0,07% ke posisi 8.414,35. Indeks saham LQ45 merosot 0,28% ke posisi 845,67. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Dalam kajian tim riset Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar tampaknya berhati-hati dalam mengambil posisi baru seiring kejatuhan aksi jual di pasar wall street. Hal ini karena data pekerjaan gagal mengklarifikasi prospek suku bunga jangka pendek sehingga harapan pelaku pasar terhadap pemangkasan suku bunga pada Desember 2025 oleh the Federal Reserve meredup.

Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan, menunjukkan penambahan 119.000 pekerjaan nonpertanian sepanjang September 2025, lebih dua kali lipat dari perkiraan kenaikan 50.000 pekerjaan.

Gubernur Fed Michael Barr mencatat bahwa The Fed harus berhati-hati dalam melanjutkan pemotongan suku bunga tambahan dengan inflasi yang masih di atas target.

“Di sisi lain, tekanan lebih lanjut datang dari meningkatnya ketegangan antara China dan Jepang atas Taiwan, termasuk rencana Beijing untuk menangguhkan impor makanan laut Jepang,” seperti dikutip dari Antara.

Sektor Saham

Pada perdagangan saham jelang akhir pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 8.432,60 dan level terendah 8.361,27. Sebanyak 274 saham menguat dan 352 saham melemah. 187 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 1.941.794 kali dengan volume perdagangan 34,8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 16,5 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.695.

Sektor saham bervariasi. Sektor saham teknologi bertambah 2,72%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saahm basic menguat 0,65%, sektor saham industri menanjak 0,85%.

Kemudian sektor saham siklikal melesat 0,65%, sektor saham kesehatan menguat 0,40%. Sementara itu, sektor saham transportasi merosot 0,60%, sektor saham infrastruktur melemah 0,58%, sektor saham keuangan turun 0,61%, sektor saham consumer nonsiklikal susut 0,49% dan sektor saham energi terpangkas 0,29%.

Bursa saham Asia Pasifik melemah pada perdagangan Jumat, 21 November 2025. Koreksi bursa saham Asia Pasifik terjadi seiring saham teknologi Amerika Serikat melemah. Selain itu, harapan investor akan penurunan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) pada Desember memudar.

Mengutip CNBC, indeks Nikkei 225 di Jepang turun 2,4% dan ditutup ke level 48.625,88. Indeks Topix stagnan.

Indeks Saham Acuan Lainnya di Asia

Saham SoftBank merosot lebih dari 10%. Selain itu, saham Advantest tergelincir 12,1%, saham Tokyo Electron melemah lebih dari 7%. Lalu saham Lasertec tergelincir lebih dari 5% dan Renesas Electron turun 2,65%.

Inflasi inti Jepang pada Oktober naik pada tingkat tertajam sejak Juli. Hal ini sejalan dengan perkiraan pasar pada Jumat pekan ini, yang mendukung argument kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan.

Indeks Kospi Korea Selatan memangkas kerugian hingga turun 3,79% dan ditutup ke level 3.853,26. Indeks Kosdaq turun 3,14% menjadi 863,95. Saham-saham unggulan antara lain Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing merosot hingga 5,77% dan 8,76%.

Indeks ASX 200 di Australia turun 1,59% menjadi 8.416,5. Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 2,38% dan ditutup ke posisi 25.220,02. Indeks Hang Seng Teknologi merosot 3,21% di posisi 5.395,49.

Saham Baidu melemah 5,79% dan Tencent tergelincir 1,77%. Saham BYD merosot 2,57%. Saham Nio dan Li Auto masing-masing turun lebih dari 4% dan 2%. Indeks CSI 300 di China merosot 2,44% ke posisi 4.453,6. Indeks Nifty 50 susut 0,34%.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |