Emiten BUDI Tebar Dividen Interim Rp 31,43 Miliar, Cek Jadwal Pembagiannya

2 weeks ago 23

Liputan6.com, Jakarta - PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI) akan membagikan dividen interim 2025 sebesar Rp 31,43 miliar. Pembagian dividen itu sesuai keputusan direksi yang telah disetujui dewan komisaris pada 11 November 2025.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Kamis (13/11/2025), PT Budi Starch & Sweetener Tbk membagikan dividen interim senilai Rp 7 per saham.

Perseroan membagikan dividen interim 2025 dengan mempertimbangkan data keuangan per 30 September 2025 antara lain laba bersih yang didapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 78,05 miliar, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 646,60 miliar, dan total ekuitas sebesar Rp 1,69 triliun.

Berikut jadwal pembagian dividen perseroan:

  • Tanggal cum dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 20 November 2025
  • Tanggal ex dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 21 November 2025
  • Tanggal cum dividen di pasar tunai pada 24 November 2025
  • Tanggal ex dividen di pasar tunai pada 25 November 2025
  • Tanggal daftar pemegang saham (DPS) yang berhak atas dividen tunai pada 24 November 2025 waktu 16:00
  • Tanggal pembayaran dividen pada 11 Desember 2025

Mengutip data RTI, harga saham BUDI ditutup stagnan di posisi Rp 234 per saham pada sesi pertama perdagangan Kamis pekan ini. Harga saham BUDI dibuka naik dua poin ke posisi Rp 236 per saham. Saham BUDI berada di level tertinggi Rp 238 dan level terendah Rp 230 per saham. Total frekuensi perdagangan 337 kali dengan volume perdagangan 12.118 saham. Nilai transaksi Rp 282,6 miliar.

Penutupan IHSG pada 12 November 2025

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat terbatas pada perdagangan Rabu, (12/11/2025). Kenaikan IHSG hari ini terjadi di tengah sektor saham consumer nonsiklikal dan infrastruktur pimpin penguatan. Selain itu, IHSG naik saat rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup naik 0,26% ke posisi 8.388,56. Indeks LQ45 menguat 0,50% ke posisi 846,91. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau. Investor asing beli saham Rp 1,23 triliun. Dengan demikian, sepanjang 2025, investor masih melepas saham Rp 37,32 triliun.

Dalam kakian Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, redenominasi dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan investor terhadap mata uang bisa dilakukan dalam kondisi ekonomi yang stabil.

“Dari dalam negeri, Rancangan Undang- Undang (RUU) Redenominasi Rupiah telah memasuki Prolegnas Jangka Menengah 2025-2029 sebagai inisiatif pemerintah,” demikian seperti dikutip dari Antara.

Sentimen IHSG

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) menekankan akan tetap fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi selama proses redenominasi berlangsung.

Dari mancanegara, meredanya perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dengan China dan sinyal berakhirnya government shutdown (penutupan pemerintahan) AS direspon positif oleh pelaku pasar.

Senat AS meloloskan RUU untuk mendanai pemerintah federal hingga Januari 2025, dan mengakhiri penutupan terpanjang dalam sejarah AS. RUU tersebut, yang disahkan dengan suara 60-40 persen dan didukung sebagian senator Partai Demokrat dan hampir semua senator Republik, akan dikirim ke DPR. Apabila lolos di DPR, RUU akan diserahkan kepada Presiden AS Donald Trump untuk ditandatangani menjadi UU.

Sektor Saham

Pada perdagangan Rabu pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 8.428,94 dan level terendah 8.377,49. Sebanyak 343 saham menguat dan 323 saham melemah. 147 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 2.682.643 kali dengan volume perdagangan 51,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 22,3 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.701.

Sektor saham bervariasi pada perdagangan Rabu pekan ini. Sektor saham consumer nonsiklikal naik 1,63%, dan catat kenaikan terbesar. Disusul sektor saham infrastruktur menanjak 1,56% dan sektor saham transportasi bertambah 1,47%. Kemudian sektor saham properti mendaki 1,03%, sektor saham industri melesat 0,57% dan sektor saham consumer siklikal naik 0,15%.

Sementara itu, sektor saham kesehatan merosot 1,06%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham energi melemah 0,52%, sektor saham basic turun 0,34%, sektor saham teknologi susut 0,14%, dan sektor saham keuangan terpangkas 0,02%.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |