Liputan6.com, Jakarta - Tangis haru menyelimuti seorang ibu dari Cikalong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat (Jabar) bernama Reni Susilawati (35).
Ia tak menyangka niat awalnya untuk berkonsultasi tentang kondisi bibir sumbing anak ketiganya, Muhammad Azimat, justru berujung pada kesempatan emas.
Anaknya yang baru berusia 2 bulan 5 hari itu mendapatkan operasi gratis di RSUD R. Syamsudin Sh atau dikenal Bunut Kota Sukabumi.
"Awalnya saya hanya ingin konsultasi, tidak menyangka ternyata pas ke sini ada bakti sosial ini," ujar Reni, Sabtu 9 Agustus 2025.
Ia bersyukur seluruh biaya, termasuk operasi, ditanggung sepenuhnya melalui BPJS Kesehatan.
"Alhamdulillah, saya bahagia sekali anak saya bisa normal lagi," ucap Reni.
Kegiatan sosial ini diselenggarakan oleh UOBK RSUD R. Syamsudin, Sh dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-80 dan Hari Jadi UOBK RSUD R. Syamsudin, S.H. yang ke-105.
Bakti sosial ini merupakan hasil kolaborasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetika Indonesia (PERAPI) dan Smile Train Indonesia, sebuah organisasi internasional yang berfokus pada perawatan bibir sumbing.
Plt Direktur RSUD R. Syamsudin Sh, Yanyan Rusyandi, menjelaskan bahwa bakti sosial ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup 16 pasien yang telah terpilih melalui proses seleksi.
"Tujuan kami adalah memberikan perawatan bedah rekonstruksi yang tepat dan berkualitas, sehingga pasien dapat memiliki penampilan yang lebih normal, meningkatkan kepercayaan diri, dan mengurangi risiko gangguan kesehatan," ucap Yanyan.
Bakti sosial digelar empat hari mulai tanggal 14 hingga17 Desember 2018 dan didukung dokter spesialis bedah mulut dan maksilofasial.
Pentingnya Penanganan Dini Bibir Sumbing
Tim dokter gabungan dari UOBK RSUD R. Syamsudin Sh, PERAPI, dan Smile Train Indonesia akan melakukan skrining, evaluasi, operasi, dan perawatan pasca operasi para pasien yang dijadwalkan pada 9-10 Agustus 2025.
"Sebelum di operasi diperiksa dulu, kalau mmg tidak layak nti kita masukkan ke kesempatan berikutnya. Yang daftar itu 26 orang, yang konfirmasi 21, dan 16 orang yang lolos dan 14 orang akan dioperasi,” jelas Yanyan.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Aryanto Z. Habibie, SpBP-RE, MHKes dari PERAPI menjelaskan lebih jauh tentang bibir sumbing. Menurutnya, kondisi ini adalah kelainan bawaan yang diakibatkan oleh kegagalan pertumbuhan pada masa janin, terutama di trimester pertama.
Aryanto memaparkan ada tiga jenis kelainan sumbing pada wajah, yaitu sumbing bibir, sumbing langit-langit, dan sumbing gusi. Penanganan dini sangatlah krusial untuk mencegah berbagai masalah kesehatan yang bisa muncul.
"Jika bayi lahir dengan kondisi bibir sumbing, ia tidak bisa menghisap ASI secara optimal karena adanya celah, sehingga pertumbuhannya akan terganggu dan berisiko stunting," ucap dr. Aryanto.
Pentingnya Operasi Bibir Sumbing
Selain itu, kondisi ini juga dapat menyebabkan kelainan bicara dan masalah penampilan yang sering kali membuat orang tua minder, bahkan mengasingkan anak.
Dr. Aryanto juga menekankan pentingnya operasi bibir sumbing dilakukan sebelum anak berusia dua tahun. Jika tidak ditangani pada usia dini, anak akan mengalami kesulitan bicara dan suaranya akan sangat sengau.
Begitu pula dengan kelainan pada gusi yang jika tidak diperbaiki dapat menyebabkan pertumbuhan gigi tidak rapi, bahkan tumbuh ke dalam hidung.
"Satu hal lagi yang sering saya sampaikan pada orang tua, tolong hapus foto-foto anak saat masih bayi dengan kondisi sumbing. Karena jika sudah dewasa dan melihat foto-foto tersebut, mereka bisa merasa minder dan kurang percaya diri," tutup dia.