BRMS Kantongi Pinjaman Sindikasi Bank USD 625 Juta, Ini Tujuannya

4 days ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Emiten PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan anak usahanya PT Citra Palu Minerals (CPM) telah menandatangani fasilitas pinjaman jangka panjang dengan sindikasi perbankan. Sindikasi bank tersebut antara lain Bangkok Bank Public Company Limited, Bank Permata, Bank Mega dan BCA pada Senin, (24/11/2025).

Total pinjaman yang didapatkan sekitar USD 625 juta yang masing-masing sekitar USD 425 juta atau sekitar Rp 7,09 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.688) untuk PT Citra Palu Minerals (CPM) dan USD 200 juta atau sekitar Rp 3,33 triliun untuk PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

"Fasilitas pinjaman tersebut memiliki jangka waktu enam tahun termasuk grace periode sekitar 10 bulan. Pinjaman itu akan jatuh tempo pada 31 Desember 2031,” ujar Chief Financial Officer & Direktur Bumi Resources Minerals, Charles Gobel seperti dikutip dari keterangan resmi, Senin, (24/11/2025).

Fasilitas pinjaman USD 425 juta untuk CPM yang digunakan dengan tujuan sebagai berikut:

1. Menyelesaikan konstruksi tambang emas bawah tanah pada kuartal ketiga 2027, dan meningkatkan kapasitas pemrosesan pabrik emas Carbon In Leach (CIL) yang pertama dari 500 ton ke 2.000 ton bijih per hari pada kuartal keempat 2026.

2. Mendanai keperluan modal kerja dan belanja modal dari CPM.

3. Melunasi pinjaman USD 120 juta dari Bank Mega.

Fasilitas pinjaman USD 200 juta untuk BRMS yang digunakan dengan tujuan sebagai berikut:

1. Melakukan aktifitas pengeboran dan eksplorasi oleh PT Gorontalo Minerals (GM) demi meningkatkan sumber daya dan cadangan mineral tembaga di Gorontalo.

2. Melanjutkan aktifitas eksplorasi oleh PT Linge Mineral Resources (LMR) demi meningkatkan sumber daya & cadangan mineral emas & perak di Linge, Aceh.

3. Melanjutkan aktifitas eksplorasi oleh PT Suma Heksa Sinergi (SHS) demi meningkatkan sumber daya & cadangan mineral emas & perak di Lebak, Banten.

Tujuan BRMS

Chief Executive Officer dan Direktur Utama Bumi Resources Minerals, Agus Projosasmito menuturkan, fasilitas pinjaman tersebut membantuk perseroan untuk mencapai tiga tujuan utama.

Pertama, pinjaman tersebut diperlukan untuk mendanai peningkatan kapasitas pemrosesan salah satu pabrik emas perseroan di Palu dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari yang akan diselesaikan pada bulan Oktober 2026. “Oleh karenanya produksi emas akan meningkat pada kuartal keempat 2026,” ujar Agus.

Kedua, pinjaman tersebut membantu perseroan untuk menyelesaikan konstruksi tambang emas bawah tanah di Palu.

"Hal ini akan berdampak terhadap peningkatan produksi emas BRMS secara signifikan pada semester kedua tahun 2027, mengingat prospek tambang emas bawah tanah tersebut memiliki kadar emas tinggi di kisaran 4,9 g/t,” kata Agus.

Ketiga, pinjaman tersebut digunakan untuk aktifitas pengeboran & eksplorasi di beberapa lokasi tambang di Gorontalo dalam 18 bulan ke depan.

"Kami berharap untuk dapat meningkatkan jumlah sumber daya dan cadangan mineral tembaga kami di Gorontalo, dan mengumumkan hasil pengeborannya pada semester pertama tahun 2027,” tutur dia.

BRMS Targetkan Produksi Emas Tembus 160.000 Troy Ounce pada 2028

Sebelumnya, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) mematok target ambisius untuk produksi emasnya dalam tiga tahun ke depan. Perusahaan menargetkan produksi emas dapat mencapai puncaknya hingga 160.000 troy ounce pada tahun 2027 dan 2028, seiring dengan dimulainya operasi tambang bawah tanah di Palu.

Target ini disampaikan oleh Manajemen BRMS dalam Laporan Pelaksanaan Public Expose Tahunan yang digelar pada 5 November 2025.

Dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Minggu (23/11/2025), BRMS memproyeksikan lonjakan signifikan dalam produksi emas, terutama didorong oleh peningkatan kadar emas dari tambang bawah tanah.

Tahun 2025: Target produksi emas berada di kisaran 68.000–71.000 troy ounce.

Tahun 2026: Target produksi dipatok sekitar 80.000 troy ounce. Produksi ini masih berasal dari proyek di Palu dan belum termasuk dari prospek emas lainnya.

Tahun 2027 & 2028: Produksi diekspektasikan melompat menjadi 90.000–160.000 troy ounce.

Lonjakan signifikan pada 2027-2028 diprediksi karena mulai beroperasinya tambang bawah tanah di Palu pada semester kedua 2027. Tambang bawah tanah ini diperkirakan memiliki rata-rata kadar emas yang jauh lebih tinggi, yakni sebesar 3.5 g/t−4.9 g/t.

Rencana Ekspansi

Untuk mencapai target tersebut, BRMS telah menyusun rencana ekspansi yang melibatkan lima aset utama perusahaan : PT Citra Palu Minerals (CPM), PT Gorontalo Minerals (GM), PT Suma Heksa Sinergi (SHS), PT Linge Mineral Resources (LMR), dan PT Dairi Prima Mineral (DPM).

Saat ini, BRMS sedang dalam proses mencari pendanaan besar melalui sindikasi Bank. Dana tersebut rencananya akan dialokasikan untuk:

  • Mengembangkan proyek tambang bawah tanah di Palu.
  • Pengeboran lebih lanjut di Gorontalo.
  • Pengembangan tambang emas di Aceh (LMR) dan Banten (SHS).

Selain itu, BRMS juga membuka opsi pendanaan lain, seperti penerbitan obligasi atau rights issue, terutama jika terdapat rencana akuisisi yang dapat memberikan kontribusi Laba, EBITDA, dan Penjualan bagi Perusahaan.

BRMS juga menyoroti potensi proyek lainnya, seperti proyek seng dan timah hitam di DPM yang memiliki kadar seng rata-rata di atas 10%, yang diklaim sebagai kadar seng tertinggi ketiga di dunia.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |