Aset Masyarakat Asia Masih Didominasi Uang Tunai, Properti Kehilangan Dominasi untuk Pensiun

1 week ago 15

Liputan6.com, Jakarta - Semakin banyak orang yang memprioritaskan tujuan dan kualitas hidup dalam masa hidup yang lebih panjang seiring meningkatnya usia harapan hidup masyarakat  di Asia. Selain itu, portofolio masyarakat Asia masih didominasi oleh uang tunai, dan properti kini bukan menjadi prioritas utama untuk perencanaan pensiun.

Hal ini terungkap dalam Laporan Asia Financial Resilience and Longevity 2025 yang dirilis oleh Manulife Wealth & Asset Management (Manulife WAM).

Laporan tersebut menunjukkan meskipun masyarakat ingin hidup mandiri dan sehat di masa pensiun, banyak yang masih menghadapi tantangan untuk mencapai ketahanan keuangan jangka panjang.

Laporan ini berfokus di Hong Kong, Malaysia, Indonesia, dan Filipina, memperkuat komitmen Manulife terhadap persiapan menghadapi masa hidup yang lebih panjang. Komitmen ini tercermin melalui peluncuran Manulife Longevity Institute, sebuah platform global yang mendorong aksi agar masyarakat dapat hidup lebih lama, lebih sehat, dan lebih aman secara finansial.

Head of Asia Retirement, Manulife and Chief Executive Officer, Manulife Investment Management Hong Kong, Calvin Chiu, menuturkan, usia panjang mengubah cara masyarakat Asia memandang pensiun. Kini, pensiun bukan sekadar hidup lebih lama, tetapi hidup lebih baik. Kemandirian finansial, kesehatan, dan kesejahteraan menjadi tolok ukur kesuksesan di era baru ini.

Hidup Lebih Baik, Bukan Sekadar Lebih Lama

Mayoritas masyarakat Asia menempatkan kualitas hidup di atas panjang umur itu sendiri. Kurang dari 1 dari 10 responden ingin hidup lebih lama terlepas dari keadaan, sementara setengahnya menginginkan hidup yang bermakna, dan lebih dari sepertiga tidak ingin menjadi beban bagi orang lain.

"Saat membayangkan masa tua, mereka berharap tetap mandiri secara finansial, aktif secara fisik dan mental, serta menua dengan anggun sambil mempertahankan standar hidup yang diinginkan,” ujar Calvin seperti dikutip dari keterangan resmi, Sabtu (22/11/2025).

Kesejahteraan Keuangan Berdampak terhadap Mental saat Pensiun

Temuan ini menegaskan keinginan kuat untuk kemandirian dan kesejahteraan, di mana kesehatan dan stabilitas finansial dipandang sangat erat terkait.

Di keempat negara, tiga perempat responden percaya kesejahteraan finansial memengaruhi kesehatan fisik dan mental mereka, sementara 85% menyatakan kesejahteraan finansial berdampak pada kondisi mental saat pensiun.

"Orang Asia ingin menikmati usia panjang dengan martabat, tujuan, dan kebebasan,” Chiu menambahkan.

“Hal itu membutuhkan perubahan pola pikir—dari sekadar menabung untuk pensiun menjadi merencanakan untuk masa hidup panjang.”

Kesenjangan Kesiapan Finansial di Asia

Meski kesadaran meningkat, kurang dari separuh responden yakin memiliki dana yang cukup untuk pensiun dengan nyaman. Tingkat keyakinan bervariasi: hanya 48% di Hong Kong, tetapi mencapai 77% di Indonesia. Kelompok usia paruh baya (45–54 tahun) adalah yang paling pesimis, menandakan perlunya perencanaan finansial yang lebih proaktif.

Portofolio Masyarakat Asia

Portofolio masyarakat Asia masih didominasi oleh uang tunai, sekitar setengah dari investasi non-properti, mencerminkan sikap hati-hati terhadap risiko.

Banyak yang menghindari aset dengan imbal hasil lebih tinggi karena takut rugi dan kurang pengetahuan investasi. Sementara itu, properti yang dulu menjadi pilar utama perencanaan pensiun kini mulai kehilangan dominasi—hanya 3 dari 10 yang masih menganggapnya prioritas utama.

"Menahan terlalu banyak uang tunai dan hanya mengandalkan properti membuat orang rentan terhadap inflasi dan kekurangan pendapatan,” ujar Chiu.

"Ketahanan finansial harus dibangun melalui diversifikasi aset yang menghasilkan pendapatan dan tahan inflasi—dan dilakukan sedini mungkin.”

Pentingnya Nasihat: Arahan Profesional Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Laporan ini menemukan hubungan jelas antara nasihat finansial dan rasa percaya diri. Di keempat negara ini, mereka yang menggunakan jasa perencana keuangan jauh lebih yakin akan masa depan.

Di Indonesia, misalnya, 89% yang memiliki perencana keuangan mengatakan merasa siap secara finansial, dibandingkan 63% yang tidak memiliki perencana keuangan. Di Hong Kong, kesenjangan ini lebih besar: 62% yang memiliki perencana keuangan merasa percaya diri, sedangkan hanya 29% yang tidak.

"Saran dari profesional bisa membuat perbedaan besar,” tambah Chiu.

"Dengan bimbingan yang tepat, orang dapat beralih dari sekadar menabung menjadi berinvestasi aktif, sehingga memiliki kendali lebih atas pendapatan dan gaya hidup di masa depan.”

Lanskap Generasi dan Pasar di Kawasan Asia

Lanskap kawasan menunjukkan kemajuan sekaligus kesenjangan. Di Hong Kong, kurang dari separuh (48%) responden yakin memiliki dana cukup, Namun, banyak yang mengambil tindakan—dua pertiga (65%) berencana mengalihkan sebagian uang tunai ke investasi dengan imbal hasil lebih tinggi. Di Malaysia, tingkat kepercayaan sedang (58%), dengan minat kuat pada solusi pensiun yang memberikan pendapatan stabil dan perlindungan inflasi.

Masyarakat Indonesia Terbuka untuk Diversifikasi Aset

Di sisi lain, Indonesia muncul sebagai pasar paling percaya diri, dengan 77% yakin memiliki tabungan cukup. Masyarakat Indonesia juga lebih terbuka untuk diversifikasi, 69% kini bersedia berinvestasi untuk pendapatan daripada memiliki properti.

Filipina menunjukkan optimisme dan transisi: 52% merasa siap secara finansial, dan 73% kini lebih memilih investasi penghasil pendapatan dibanding properti (71%), menandakan pergeseran generasi dalam pola pikir pensiun.

Secara umum, temuan ini menekankan hidup lebih lama membutuhkan kebiasaan investasi baru, portofolio yang terdiversifikasi, dan fokus lebih kuat pada literasi keuangan.

Laporan ini juga menyoroti pandangan umum lintas generasi. Kelompok muda, paruh baya, dan lansia secara konsisten menempatkan masa pensiun bebas kerja sebagai prioritas utama.

Keinginan ini paling kuat pada kelompok muda (usia 25–34) sebesar 55% dan kelompok lansia (60+) sebesar 58%, sementara kelompok paruh baya (45–59) menunjukkan pandangan yang lebih seimbang, dengan banyak yang memilih untuk tetap bekerja sambil menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan.

Saatnya Bertindak: Membangun Kepercayaan Diri Jalani Hidup Panjang

Seiring meningkatnya harapan hidup, laporan ini mengajak individu, pemberi kerja, dan perencana keuangan untuk meninjau ulang strategi pensiun tradisional. Manulife WAM mendorong pendekatan holistik terhadap usia panjang—menggabungkan perencanaan finansial sejak dini, diversifikasi investasi, dan bimbingan profesional berkelanjutan agar masyarakat dapat menikmati masa pensiun yang lebih panjang dengan kualitas hidup yang lebih baik.

"Kehidupan yang panjang seharusnya menjadi sumber optimisme, bukan kecemasan,” ujar Chiu.

"Dengan kebiasaan finansial yang tepat dan bimbingan yang baik, masyarakat dapat mengubah hidup yang lebih panjang menjadi hidup yang lebih baik, itulah visi yang mendorong kami di Manulife.”

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |