Robert Kiyosaki Ramal Crash Pasar Saham Global, Tabungan Pensiun Baby Boomers Terancam Habis

16 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Penulis buku terkenal Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, kembali mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi kejatuhan besar di pasar saham global. Peringatan tersebut disampaikan ketika pasar mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan dari level tertingginya.

Dalam unggahan terbarunya di platform media sosial X, Kiyosaki mengatakan bahwa ia sebenarnya telah memperingatkan potensi krisis tersebut sejak lama.

Dalam Rich Dad’s Prophecy (2013) saya sudah memperingatkan bahwa crash pasar saham terbesar dalam sejarah masih akan datang. Pada 2026 saya berharap saya salah… tetapi saya khawatir crash itu sekarang sedang terjadi,” tulis Kiyosaki dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (15/3/2026).

Menurutnya, akar masalah dari krisis keuangan global 2008 sebenarnya belum pernah benar-benar diselesaikan. Karena itu, ia menilai krisis berikutnya berpotensi jauh lebih besar.

Sebagai catatan, krisis finansial 2008 dipicu oleh gelembung pasar perumahan di Amerika Serikat yang dipenuhi kredit berisiko tinggi serta instrumen keuangan kompleks yang terkait dengan kredit tersebut.

Setelah krisis itu, regulator memperketat aturan perbankan dan kredit perumahan. Namun sebagian pengamat menilai risiko finansial hanya berpindah ke sektor lain dalam sistem keuangan.

Tabungan Pensiun Generasi Baby Boomers Terancam

Pada krisis 2008, indeks saham S&P 500 tercatat anjlok sekitar 38,5%.

Jika penurunan serupa atau bahkan lebih besar terjadi kembali, dampaknya bisa sangat luas mengingat sebagian besar kekayaan masyarakat saat ini terhubung dengan pasar saham.

Kiyosaki memperingatkan bahwa kelompok yang paling berisiko terdampak adalah generasi baby boomers, yakni mereka yang kini mendekati masa pensiun.

“Tabungan pensiun baby boomers di seluruh dunia bisa lenyap karena dunia dipenuhi utang yang tidak bisa dibayar kembali,” ujarnya.

Risiko ini cukup besar karena banyak dana pensiun saat ini memiliki alokasi besar pada saham.

Di Amerika Serikat, misalnya, dana pensiun sektor swasta menempatkan hampir 70% asetnya pada saham. Sementara rumah tangga AS menyimpan sekitar 45,4% aset keuangannya dalam bentuk saham.

Namun Kiyosaki juga memberikan sejumlah saran kepada investor mengenai cara menghadapi kemungkinan krisis besar tersebut.

“Saya terus menyarankan investor untuk bersikap proaktif dan membeli emas, perak, Bitcoin, Ethereum, serta berinvestasi pada sumur minyak nyata,” tulisnya.

Emas dan Properti Dinilai Bisa Jadi Pelindung

Kiyosaki sejak lama dikenal sebagai pendukung kuat investasi emas dan perak.

Menurutnya, kedua logam mulia tersebut menjadi aset lindung nilai yang penting, terutama saat terjadi krisis ekonomi.

“Saya tidak membeli emas karena saya suka emas. Saya membeli emas karena saya tidak percaya pada The Fed,” katanya dalam sebuah wawancara pada 2021.

Emas dan perak sering dianggap sebagai safe haven karena nilainya tidak dapat dicetak secara bebas oleh bank sentral seperti mata uang fiat.

Selain logam mulia, Kiyosaki juga menyarankan investasi pada properti yang menghasilkan pendapatan, seperti properti sewa.

“Saya selalu menyarankan orang menjadi wirausaha, setidaknya memiliki usaha sampingan dan tidak bergantung pada keamanan pekerjaan. Kemudian berinvestasi pada properti yang menghasilkan pendapatan karena tetap memberi arus kas saat terjadi crash,” tulisnya.

Properti sering dianggap sebagai perlindungan terhadap inflasi. Ketika inflasi meningkat, nilai properti biasanya ikut naik dan pendapatan sewa juga cenderung meningkat.

Kiyosaki bahkan pernah mengungkapkan bahwa ia memiliki sekitar 1.500 properti sewa.

Bitcoin, Ethereum, dan Aset Alternatif

Selain emas dan properti, Kiyosaki juga dikenal sebagai pendukung kuat cryptocurrency, terutama Bitcoin dan Ethereum.

Ia mengakui bahwa harga kripto sering berfluktuasi tajam. Namun baginya, penurunan harga justru menjadi kesempatan untuk membeli.

“Saya sangat bullish terhadap Bitcoin sehingga saya terus membeli lebih banyak ketika harga Bitcoin turun,” ujarnya.

Kiyosaki menilai kelangkaan Bitcoin menjadi alasan utama mengapa aset ini menarik. Berbeda dengan mata uang tradisional, jumlah Bitcoin dibatasi maksimal 21 juta koin.

Ia bahkan menyatakan akan membeli lebih banyak Bitcoin ketika investor lain panik menjual aset mereka.

Namun demikian, Kiyosaki juga menekankan pentingnya diversifikasi investasi.

Selain saham, logam mulia, properti, dan kripto, ia juga menyoroti aset alternatif seperti karya seni sebagai penyimpan nilai yang sering diabaikan investor.

Menurutnya, karya seni memiliki pasokan terbatas dan sering diminati oleh kolektor global, sehingga berpotensi mempertahankan nilai bahkan saat pasar keuangan mengalami tekanan.

Dengan kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, Kiyosaki mengingatkan investor untuk mempersiapkan portofolio yang lebih beragam guna menghadapi potensi gejolak pasar di masa depan.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |