Rights Issue, SOTS Terbitkan 1,37 Miliar Saham

3 months ago 65

Liputan6.com, Jakarta - PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS), emiten bergerak di bidang usaha properti, perhotelan dan pariwisata mengumumkan rencana penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD I) atau rights issue.

Melansir dari keterbukaan informasi Bursa Efek indonesia (BEI), Selasa (23/12/2025), dalam rencana tersebut, Perseroan akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 1.375.000.000 saham baru dengan nilai nominal Rp 100 per saham. 

Saham baru ini akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan memiliki hak yang sama dengan saham Perseroan yang telah beredar sebelumnya, termasuk hak atas dividen.

Pelaksanaan PMHMETD I akan dilakukan setelah memperoleh persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) serta pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perseroan berencana meminta persetujuan pemegang saham dalam RUPS yang dijadwalkan berlangsung pada 28 Januari 2026.

Harga pelaksanaan serta jumlah final saham baru yang akan diterbitkan belum ditetapkan dan akan ditentukan sesuai dengan ketentuan Bursa Efek Indonesia. Seluruh ketentuan final terkait PMHMETD I akan diungkapkan lebih lanjut dalam prospektus setelah memperoleh persetujuan RUPS dan pernyataan efektif dari OJK.

Dana yang diperoleh dari aksi korporasi ini, setelah dikurangi biaya-biaya terkait, akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan serta pengembangan usaha Perseroan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Informasi final mengenai penggunaan dana tersebut akan disampaikan dalam prospektus PMHMETD I sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Perseroan juga menyampaikan bahwa pelaksanaan PMHMETD I berpotensi meningkatkan struktur permodalan dan mendukung pengembangan bisnis ke depan. Namun, pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya dalam rights issue ini akan mengalami penurunan persentase kepemilikan saham seiring dengan bertambahnya jumlah saham beredar

Penutupan IHSG 22 Desember 2025

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham Senin, (22/12/2025). IHSG hari ini menguat di tengah mayoritas sektor saham yang menghijau dan investor asing beli saham Rp 1,34 triliun.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 0,42% ke posisi 8.645,84. Indeks saham LQ45 bertambah 0,73% ke posisi 859,72. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau. Sejumlah sentimen membayangi IHSG pada awal pekan ini.

"Dari domestik, window dressing, Nataru dan dividen play menjadi sentimen positif menuju awal tahun," kata Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa seperti dikutip dari Antara.

Dari global, Reydi mengatakan sentimen yang menggerakkan pasar saham, yaitu seiring adanya proyeksi penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral global pada tahun 2026.

"Itu bisa buat pasar saham menguat dan memicu inflow asing masuk ke IHSG," ujar Reydi.

Di sisi lain, ujarnya pula, pelaku pasar tengah mencermati pergerakan dana asing menuju akhir tahun 2025, terutama dengan ekspektasi tren penurunan suku bunga lanjutan pada 2026, serta January Effect yang dapat membuat saham- saham.perbankan berpotensi diserbu oleh investor asing.

Sektor Saham

Pada awal pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 8.648,79 dan level terendah 8.609,38. Sebanyak 433 saham melemah sehingga bebani IHSG. Namun, 251 saham menguat dan 120 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan 2.959.488 kali dengan volume perdagangan 43,1 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 24,2 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.764. Investor asing beli saham Rp 1,34 triliun pada awal pekan ini. Dengan demikian, investor asing lepas saham Rp 21,5 triliun pada 2025.

Dari 11 sektor saham, enam sektor saham menguat. Sektor saham energi bertambah 2,5%, dan catat kenaikan terbessar. Sektor saham basic menguat 1,94%, sektor saham consumer siklikal menanjak 0,80%, dan sektor saham kesehatan menguat 0,62%.

Kemudian sektor saham transportasi melesat 0,59%, sektor saham industri naik 0,43%. Sementara itu, sektor saham teknologi merosot 2,89%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham properti melemah 1,31%, sektor saham infrastruktur susut 0,95%, sektor saham consumer nonsiklikal turun 0,24% dan sektor saham keuangan terpangkas 0,06%.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |