Rentetan Kasus Bullying Mengerikan di Sekolah, Bukti Nyata Bahaya di Depan Mata

1 month ago 38

Liputan6.com, Jakarta - Aksi bullying alias perundungan di sekolah menjadi momok bagi para orangtua, apalagi mereka yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Bak jamur di musim penghujan, aksi perundungan tak bisa hilang begitu saja dari lingkungan sekolah hanya dengan pemberian hukuman dan sejenisnya. Diperlukan langkah nyata dari pemerintah dan pihak sekolah sekaligus orangtua siswa untuk memutus lingkaran setan aksi perundungan di sekolah

Betapa mirisnya para orangtua saat mendengar kabar ada anak setingkat SMP meninggal dunia di sekolah akibat berkelahi yang dipicu persoalan bullying. Seorang siswa di Lampung berinisial JR (13) tewas setelah ditusuk temannya sendiri, SR (13). Polisi menyebut aksi nekat pelaku dipicu karena kerap menjadi korban perundungan (bullying) oleh korban.

Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Yuni Iswandari Yuyun mengatakan, pelaku selama ini sering mendapat perlakuan kasar dari korban. Bentuk bullying tersebut bahkan sudah mengarah pada kekerasan fisik.

"Pelaku ini sering dibully oleh korban. Beberapa hari terakhir dia juga kerap diganggu, diajak berkelahi, bahkan pernah ditendang serta dipukul di area kepala," kata Yuni, Selasa (30/9/2025).

Yuni bilang, SR yang semula memilih diam akhirnya hilang kendali saat kembali diprovokasi korban. Emosi yang memuncak membuat peristiwa nahas tersebut tak terelakkan. Korban mengalami sejumlah luka tusukan gunting pada bagian vital tubuhnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Pesisir Barat, Iptu Fabian Yafi Adinata, membenarkan insiden yang terjadi di SMPN 12 Krui Tanjung Jati, Kecamatan Pesisir Selatan, pada Senin (29/9/2025), itu.

"Benar, pagi ini kami menerima laporan adanya seorang siswa SMP meninggal dunia akibat dianiaya teman satu sekolah, meski berbeda kelas," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (29/9/2025).

Fabian menjelaskan, korban yang merupakan warga Pekon Tanjung Setia itu meninggal dunia setelah mengalami luka tusukan di pelipis kanan, bagian belakang kepala, dan punggung.

Sementara pelaku berinisial SR (13), warga Pekon Pelita Jaya, telah diamankan polisi dan kini menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Pesisir Barat.

"Barang bukti berupa gunting juga sudah kami amankan," kata Fabian.

Menurut keterangan saksi, usai kejadian korban sempat dibawa oleh dewan guru ke Puskesmas Biha, Kecamatan Pesisir Selatan. Namun, nyawa korban tidak tertolong.

"Korban meninggal dunia dalam perjalanan, jadi ketika sampai di puskesmas sudah dinyatakan meninggal," ungkap Fabian.

Diejek Miskin dan Difitnah Hamil

Kasus serupa terjadi di SMAN 9 Bandar Lampung. Seorang siswi sekolah tersebut berinisial MR menjadi korban bullying karena berasal dari keluarga kurang mampu, bahkan dirinya difitnah tengah hamil dan dipanggil dengan sebutan 'miskin hama'.

Sang ibu, EN (40), menuturkan anaknya kini semakin tertutup setelah menjadi korban perundungan di sekolah.

"Dia malu, katanya difitnah hamil dan diejek karena kami orang tidak mampu. Semenjak itu gak mau keluar rumah," ucap EN.

Kepala Dinas PPPA Bandar Lampung, Maryamah mengaku pihaknya telah mendatangi rumah korban bersama psikolog untuk melakukan asesmen awal. Dari pemeriksaan itu, MR mengaku sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan sejak pertama masuk sekolah.

"Korban merasa minder karena kondisinya berbeda dengan teman-temannya. Kami berikan penguatan mental agar ia lebih percaya diri,” kata Maryamah, Sabtu (20/9/2025) silam.

Dia bilang, korban lebih terbuka ketika berbicara dengan psikolog.

"Ini membuktikan adanya perundungan, meskipun pihak sekolah sempat membantah," ungkapnya.

PPPA juga memfasilitasi pertemuan antara korban dan para siswa yang diduga sebagai pelaku. Dalam pertemuan yang disaksikan orang tua masing-masing, para pelaku sempat menyangkal sebelum akhirnya mengakui perbuatannya dan meminta maaf.

Maryamah menegaskan pendampingan terhadap MR tidak berhenti sampai di sini.

Pihaknya akan terus memantau perkembangan kasus ini dan berkoordinasi dengan Dinas PPPA Provinsi Lampung untuk memperluas sosialisasi pencegahan perundungan di sekolah.

"Penguatan mental tidak bisa instan. Butuh dukungan keluarga, lingkungan, dan sekolah. Harapan kami MR tetap semangat belajar dan bisa tumbuh menjadi pribadi yang tangguh," tegasnya.

Bullying Juga Terjadi di Ponpes

Pendidikan pondok pesantren juga tidak menjamin anak didik terbebas dari perilaku bullying. Di Lombok NTB misalnya, seorang santri berusia 13 tahun menjadi korban perundungan teman sekolahnya hingga meninggal dunia.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (Kanit PPA) Polres Lombok Tengah Aiptu Pipin Setyaningrum membenarkan terjadinya peristiwa itu. Pipin menyebut, korban mengalami sejumlah penganiayaan berat hingga akhirnya tewas.

"Korban ditendang pelaku dan terbentur tembok, sehingga meninggal dunia," katanya.

Peristiwa bermula ketika korban dan terduga pelaku seorang pria mengalami cekcok, setelah sebelumnya saling bullying di asrama tempat mereka sekolah atau di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Janapria, Minggu (3/8/2025).

"Akibat perkelahian itu korban meninggal dunia," ungkap Pipin.

Setelah kejadian perkelahian tersebut, korban sempat dibawa ke puskesmas, namun nyawa korban tidak bisa diselamatkan.

Setelah mendapatkan informasi terkait kasus tersebut, pihaknya melakukan upaya pemanggilan terhadap terduga pelaku maupun pimpinan pondok pesantren serta pihak keluarga korban.

Namun, terduga pelaku yang masih di bawah umur belum diamankan dan pihak korban telah menerima peristiwa ini sebagai musibah.

"Kasus ini delik murni, bukan delik aduan, sehingga tetap dilakukan upaya hukum," katanya.

Pipin juga mengatakan sesuai undang-undang, atas perbuatannya terduga pelaku bisa dijerat dengan pasal 80 ayat 3 yang menyebabkan orang meninggal dunia dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Mengapa Anak Suka Membully?

Bullying atau perundungan merupakan masalah serius yang berdampak besar pada kesehatan mental dan emosional anak-anak. Menurut data terbaru Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang 2023 terdapat sekitar 3.800 kasus perundungan di indonesia, dengan hampir separuhnya terjadi di lembaga pendidikan (sekolah).

Dari data tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa fenomena bullying di kalangan anak-anak telah menjadi masalah yang mendalam dan kompleks. Anak-anak dapat melakukan bullying karena berbagai alasan yang seringkali berkaitan dengan kebutuhan psikologis dan lingkungan mereka. 

Dikutip dari berbagai sumber, ada beberapa faktor mengapa anak suka membully di sekolah:

1. Pengaruh Lingkungan Keluarga

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh konflik atau kekerasan cenderung lebih mungkin terlibat dalam perilaku bullying. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan bahwa kekurangan kasih sayang dan ketidakstabilan emosional di rumah bisa memicu anak untuk menunjukkan dominasi di luar rumah sebagai bentuk kompensasi.

2. Kebutuhan Akan Kekuasaan dan Kontrol

Bagi beberapa anak, bullying bisa jadi cara untuk mendapatkan perhatian atau merasa berkuasa. American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa perilaku ini sering kali merupakan respons terhadap perasaan rendah diri atau ketidakmampuan dalam aspek lain dari kehidupan mereka.

3. Pengaruh Teman Sebaya

Teman sebaya memiliki pengaruh besar dalam perilaku anak. anak-anak mungkin membully untuk mendapatkan penerimaan dari kelompok mereka atau karena tekanan dari teman-teman sebayanya. National Bullying Prevention Center menyatakan bahwa pengaruh kelompok sebaya memainkan peran penting dalam pembentukan perilaku bullying.

4. Eksposur Terhadap Konten Negatif

Paparan terhadap kekerasan melalui media seperti film atau video game dapat memengaruhi perilaku anak. menurut American Academy of Pediatrics, anak-anak yang sering terpapar kekerasan dalam media cenderung lebih mungkin meniru perilaku tersebut dalam kehidupan nyata.

5. Masalah Psikologis dan Emosional

Anak-anak yang mengalami gangguan psikologis atau emosional seperti gangguan kecemasan atau depresi mungkin terlibat dalam perilaku bullying sebagai cara untuk mengatasi perasaan mereka. Child Mind Institute mencatat bahwa bullying bisa menjadi mekanisme pertahanan untuk anak-anak yang merasa tertekan atau tidak aman.

Cara Menangani Bullying

1. Pendidikan dan Kesadaran

Pendidikan adalah langkah awal yang sangat penting dalam mengatasi bullying. Meningkatkan kesadaran di kalangan anak-anak, orang tua, dan pendidik tentang dampak bullying dan pentingnya empati dapat membantu mencegah perilaku ini. 

2. Penerapan Kebijakan Anti-Bullying di Sekolah

Sekolah harus memiliki kebijakan anti-bullying yang jelas dan konsisten. Kebijakan ini harus mencakup prosedur pelaporan, investigasi, dan tindakan disipliner untuk menangani kasus bullying. StopBullying.gov merekomendasikan adanya kebijakan yang melibatkan seluruh komunitas sekolah untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung.

3. Dukungan untuk Korban

Korban bullying memerlukan dukungan emosional dan psikologis yang memadai. orang tua, guru, dan konselor sekolah harus bekerja sama untuk memberikan dukungan kepada anak-anak yang menjadi korban bullying. National Institutes of Health (NIH) menyarankan terapi konseling dan dukungan kelompok sebagai cara efektif untuk membantu korban pulih dari dampak bullying.

4. Pelibatan Orang Tua dan Komunitas

Orang tua memiliki peran penting dalam pencegahan dan penanganan bullying. Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak serta antara orang tua dan sekolah sangat penting. UNICEF menekankan bahwa komunitas juga memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman untuk anak-anak.

5. Mempromosikan Empati dan Keterampilan Sosial

Mengajarkan keterampilan sosial dan empati sejak usia dini dapat membantu mencegah perilaku bullying. Program-program yang fokus pada pengembangan keterampilan sosial dan emosional, seperti program pembelajaran sosial dan emosional (SEL), dapat memberikan anak-anak alat untuk berinteraksi dengan cara yang positif. Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL) merekomendasikan implementasi program SEL di sekolah untuk mendukung perkembangan emosional dan sosial anak.

Menangani bullying memerlukan pendekatan yang holistik dan terkoordinasi antara keluarga, sekolah, dan komunitas. Dengan memahami penyebabnya dan menerapkan langkah-langkah yang efektif, setiap orang dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung untuk anak-anak.

Akademisi UGM Nur Haidam seperti dikutip dalam jurnalnya, Selasa (30/9/2025) mengatakan, perilaku bullying yang masih kerap terjadi pada anak usia sekolah, memberikan banyak dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak, baik perkembangan psikomotor maupun psikologis.

"Jika dilihat dari beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya perundungan, salah satunya adalah kurangnya pendidikan empati terhadap orang lain," katanya.

Hal ini tentu terkait pemahaman moral. Anak yang memiliki pemahaman moral yang tinggi akan menilai suatu perbuatan apakah itu bernilai baik atau buruk. Secara tidak lansung anak akan menjaga perilakunya agar tidak melukai atau menyakiti perasaan orang lain, atau dengan kata lain tidak akan melakukan perilaku bullying terhadap temannya.

"Hal ini tentu berbeda dengan anak dengan pemahaman moral yang rendah, setiap tindakannya tidak akan dipikirkan sehingga mereka akan cenderung melakukan perilaku bullying," ungkapnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |