Kasus Super Flu Merebak dari Bali hingga Bandung, Ini Sederet Faktanya

1 day ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Kasus Super Flu merebak di sejumlah daerah. Penyakit ini tidak hanya menyerang orang tua, namun juga anak-anak dan remaja.

Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa Super Flu bukan virus baru. Super Flu merupakan jenis influenza yang telah ada dan dikenal selama puluhan tahun.

Dalam dunia kesehatan, Super Flu dikenal dalam istilah Influenza A atau nama lainnya adalah H3N2.

Masyarakat dapat melakukan upaya pencegahan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta mematuhi protokol kesehatan apabila menderita flu, seperti menggunakan masker saat berinteraksi dengan orang lain.

Selain itu, menjaga ketahanan tubuh dengan makan makanan bergizi, lalu istirahat yang cukup serta beraktivitas fisik secara teratur dan terukur.

"Kalau kondisi badan kita sehat dan baik, makan cukup, tidur cukup, dan olahraga cukup, harusnya enggak ada masalah. Belum ada yang dilaporkan meninggal karena ini memang flu seperti yang biasa," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Informasi dirangkum Liputan6.com, berikut kasus-kasus penyebaran Super Flu di sejumlah daerah:

Dua Kasus Positif di Bali

Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali menemukan dua kasus positif Super Flu atau influenza A (H3N2) subclade K yang dialami pasien di Denpasar.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali I Gusti Ayu Raka Susanti menuturkan, dua kasus tersebut dialami pasien pada bulan Oktober 2025 yang saat ini sudah dipastikan sembuh.

“Kami sudah lakukan penyelidikan epidemiologi, sudah kami telepon bahwa pasiennya sudah sembuh dan sudah kembali beraktivitas seperti biasa,” kata I Gusti Ayu Raka.

Dinkes Bali menyatakan dua pasien yang sempat positif Super Flu tersebut berjenis kelamin laki-laki, berusia 40-45 tahun, tidak memiliki riwayat bepergian ke keluar negeri, dan saat sakit ia dirawat di RSUD Wangaya sebagai rumah sakit daerah yang memiliki sentinel ilisari atau penanganan untuk influenza berat.

Kedua pasien Super Flu itu juga dipastikan bukan keluarga atau memiliki hubungan, sehingga ketika hasil laboratorium nasional menunjukkan mereka positif, Dinkes Bali langsung melakukan survailans terhadap keluarga di sekitarnya.

“Kami juga sudah telusuri di sekitarnya itu tidak ada yang mengeluh keluhan yang sama influenza,” ucap Raka Susanti.

Begitu pula di rumah sakit, ketika Oktober 2025 kedua pasien dirawat, mereka datang dengan kondisi influenza disertai sesak atau radang paru sehingga mereka diberikan terapi dan ditempatkan di ruang isolasi.

Sepanjang 2025 lalu Dinkes Bali telah menyerahkan 126 sampel diduga influenza tipe A ini ke laboratorium rujukan nasional dan dipastikan hanya dua yang positif.

Pasien di Batam Menderita Flu Berat dan Nyeri

Kasus dugaan suspek Super Flu juga ditemukan di Provinsi Kepulauan Riau. Dinkes setempat telah mengirimkan sampel seorang pasien dewasa itu ke Kemenkes untuk diperiksa lebih lanjut.

Kepala Dinkes Kepri Bisri mengatakan pasien berasal dari Kota Batam tersebut, menderita flu berat dengan disertai nyeri, pusing dan mual, setelah pulang umrah. Pasien menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Batam.

"Kami masih menunggu hasil pemeriksaan sampel dari labor kesehatan Kemenkes, guna memastikan apakah pasien itu terkena Super Flu atau bukan," kata dia di Tanjungpinang.

Ia menyampaikan jika hasil pemeriksaan sampel menunjukkan pasien tersebut terkontaminasi Super Flu, akan dilakukan upaya penelusuran terhadap keluarga atau orang-orang terdekat pasien, karena penyakit ini bisa menular dengan cepat kepada orang di sekitarnya.

Meski demikian, kata dia, belum tentu orang terdekat pasien ikut terserang flu karena tergantung dengan daya tahan tubuh masing-masing.

"Super Flu ini sama dengan sakit flu biasa. Cuma gejalanya sedikit lebih berat. Orang-orang dengan daya tahan tubuh kuat, tak akan terjangkit flu," ujarnya.

Bisri mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan terhadap penyakit Super Flu yang belakangan merebak di sejumlah wilayah di Indonesia. Berdasarkan catatan Kemenkes, sekitar 62 kasus Super Flu per Desember 2025.

10 Pasien di RSHS Bandung

Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menangani sebanyak 10 pasien bergejala Super Flu pada awal Januari 2026. Ketua Tim Infeksi Penyakit Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS Bandung Yovita Hartantri mengatakan, jumlah tersebut baru teridentifikasi pada awal tahun ini dengan variasi usia dan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

“Jumlah kasus yang kami tangani sekitar 10 kasus di awal Januari ini,” kata Yovita.

Yovita menjelaskan dari 10 pasien tersebut, dua di antaranya merupakan bayi, masing-masing berusia sembilan bulan dan satu tahun, satu pasien berusia 11 tahun, lima pasien berada pada rentang usia 20 hingga 60 tahun, serta dua pasien berusia di atas 60 tahun.

Ia menyebutkan gejala yang dialami pasien bervariasi. Namun, Super Flu dikenal sebagai virus yang cepat berevolusi sehingga berpotensi menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan influenza musiman.

“Kalau dibandingkan dengan flu musiman, gejalanya memang bisa lebih berat. Terutama pada kelompok usia lanjut atau pasien dengan penyakit penyerta, perawatannya bisa lebih lama dan berisiko menimbulkan kondisi berat hingga kematian,” ujarnya.

Kondisi Terkini Pasien Super Flu di Malang

Dinkes Kota Malang memastikan kasus Super Flu dalam kondisi terkendali dan semua pasien telah dinyatakan sembuh.

"Satu di September, satu di Oktober, kemudian sisanya di November. Itu (pasien) sudah termonitor terkendali dan dalam kondisi sembuh," kata Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif.

Seluruh orang yang sempat menjalani kontak erat dengan pasien juga sudah dilakukan pemeriksaan.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, jumlah kasus Super Flu di Jawa Timur total mencapai 18 orang, dan 17 di antaranya ada di Kota Malang.

Husnul menjelaskan temuan kasus tersebut berasal dari hasil pemeriksaan dan pengambilan sampel terhadap pasien dengan gejala influenza like illness (ILI) di Puskesmas Dinoyo, dan severe acute respiratory infection (SARI) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Saiful Anwar.

Sampel pasien diambil dalam rentang waktu tiga bulan, yakni September, Oktober dan November.

"ILI ada gejala batuk, demam, nyeri tenggorokan, nyeri kepala, suhu di atas 38 derajat. Di RSSA (RS Saiful Anwar) itu SARI, jadi gejala sindrom infeksi yang berat," ujarnya.

Kemudian, sampel yang telah diambil oleh petugas dari dua fasilitas kesehatan di Kota Malang dikirimkan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) untuk dilakukan pemeriksaan dan diteruskan ke Balai Besar Laboratorium Biologi di Jakarta untuk dilakukan pengurutan genome keseluruhan atau whole genome sequencing (WGS).

Penggunaan metode WGS untuk benar-benar memastikan apakah sampel pasien yang diambil terpapar super flu atau tidak.

"Desember dan Januari belum dapat informasi," ucapnya.

Meski dinyatakan terkendali, Dinkes Kota Malang tetap melakukan edukasi kepada masyarakat tentang Super Flu. Hal itu untuk mengantisipasi munculnya kekhawatiran dan keresahan publik terhadap penyakit ini, sama seperti saat mewabahnya COVID-19.

Kasus Super Flu di Yogyakarta

Satu kasus Super Flu tercatat di Kota Yogyakarta. Kasus ini terjadi pada bulan September 2025, dan baru terkonfirmasi belakangan.

"Yang bersangkutan sekarang sudah sembuh, sudah tidak ada gejala-gejala yang mengarah ke influenza," kata Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit, Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Dinkes Kota Yogyakarta Lana Unwanah.

Menurutnya, Super Flu merupakan self-limiting disease atau penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya, terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang baik.

"Self-limiting disease itu juga tergantung daya tahan tubuh kita. Kalau misalnya kita dalam kondisi prima daya tahan tubuhnya, insyaallah sebetulnya bisa sembuh sendiri," ujar Lana.

Lana menuturkan, Super Flu memiliki gejala yang cenderung lebih berat ketimbang flu biasa, seperti sakit kepala yang lebih terasa, serta batuk dengan durasi sakit yang lebih panjang.

Menurut dia, batuk akibat Super Flu bisa bertahan hingga delapan sampai sepuluh hari.

Menurutnya, perbedaan utama super flu dengan Covid-19 terletak pada jenis virus dan lokasi infeksi.

Super Flu disebabkan oleh virus influenza A tipe H3N2, sedangkan Covid-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2.

Dari sisi penyerangan infeksi, influenza umumnya hanya menyerang saluran pernapasan bagian atas dan jarang menyebabkan ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome) atau gangguan pernapasan berat.

"Kalau influenza atau Super Flu ini tidak sampai menyerang saluran pernapasan bagian bawah. Jadi tidak sampai menyebabkan kondisi seperti ARDS yang membutuhkan alat bantu napas," ujar dia.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |