Menanti Magrib di Ujung Lumpur, Senja Ramadan dan Luka Ekosistem Pesisir Batam

8 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Senja menggantung pelan di langit pesisir Kampung Tua Patam Lestari, Kecamatan Sekupang, Kota Batam. Air laut yang surut membuka hamparan lumpur luas, memperlihatkan akar-akar bakau yang tersisa dan perahu-perahu kecil yang kini bertumpu diam di dasar muara.

Di antara deretan rumah panggung dan pelantar kayu yang menghadap laut, Ramadan hadir dengan cara yang sederhana sunyi, namun penuh makna.

Di atas jembatan kecil yang membelah kampung, seorang pria lanjut usia duduk bersandar pada sepeda motornya. Tatapannya jauh, menembus garis cakrawala yang perlahan meredup jelang magrib. Angin asin berembus lembut, membawa aroma laut dan sisa-sisa kehidupan pesisir yang tak lagi seramai dulu.

Momen itu menjadi potret ngabuburit warga kampung tua, tanpa hiruk-pikuk pusat kota, tanpa riuh berburu takjil di pasar dadakan.

Di sini, menunggu azan adalah tentang duduk diam, memandangi laut dan membiarkan waktu berjalan apa adanya.

Amriullah, warga Patam Lestari, mengatakan kebiasaan ini sudah turun-temurun dilakukan masyarakat pesisir, terlebih saat Ramadan.

“Kalau menjelang magrib, banyak warga duduk-duduk di jembatan atau di pelantar. Sambil lihat laut surut, rasanya lebih tenang. Anginnya sejuk, jadi waktu terasa cepat sampai azan,” ujarnya.

Namun di balik ketenangan itu, ada kegelisahan yang sulit disembunyikan. Laut yang mereka pandangi saban hari tak lagi sama seperti dulu.

“Ikan hasil tangkapan sudah berkurang. Entah ke mana mereka pergi. Mungkin sudah tak betah, alam mereka rusak karena pencemaran. Tanaman mangrove juga banyak yang habis,” kata Amri pelan.

Bagi sebagian warga yang tak memiliki penghasilan tetap, laut adalah harapan. Saat hasil tangkapan menurun, Ramadan terasa lebih panjang. Bukan hanya karena menahan lapar dan dahaga, tetapi juga karena ketidakpastian nafkah.

Kontras dengan kawasan perkotaan di Batam yang dipenuhi pekerja dan pusat perbelanjaan, di pesisir kampung tua ini waktu seakan berjalan lebih lambat. Tak ada gemerlap lampu reklame, hanya cahaya senja yang memantul di alur sungai kecil yang berkelok di antara lumpur.

Perahu-perahu yang biasanya terapung kini menunggu pasang, seperti para nelayan yang menunggu rezeki kembali datang.

Laut surut di waktu senja memang menghadirkan panorama khas indah dalam kesederhanaannya.

Namun keindahan itu menyimpan cerita tentang ekosistem yang kian tergerus. Mangrove yang dahulu rapat kini menipis. Air yang dulu jernih perlahan berubah keruh.Meski demikian, warga tetap setia pada cara mereka merayakan Ramadan.

Duduk memandang laut, meresapi detik-detik terakhir sebelum azan berkumandang, menjadi bentuk syukur sekaligus doa: agar alam kembali pulih, agar ikan-ikan kembali mendekat, dan agar kampung tua ini tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Senja pun turun sepenuhnya. Di antara rumah panggung dan pelantar kayu, suara azan magrib sebentar lagi memecah hening. Di ujung lumpur yang mengering, warga Kampung Tua Patam Lestari menutup hari dengan harapan yang sama bahwa esok, laut akan kembali ramah.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |