Biasa Didatangi ASN, Begini Suasana Taman dan Danau di Kawasan Pemprov Banten Saat Pemberlakuan WFH

7 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Suasana kantor organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Banten terlihat sepi di hari pertama pemberlakukan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN), Jumat (10/4/2026). Selain itu, sejumlah taman hingga danau di kawasan pusat pemerintahan provinsi Banten (KP3B) juga ikut sepi dari aktivitas masyarakat umum maupun ASN yang biasanya bekerja sembari melihat hijaunya dedaunan.

Pantauan Liputan6.com pada pukul 13.00 WIB hingga 15.00 WIB, taman dan danau sepi. Di hari-hari normal, kawasan ini ramai didatangi warga. Mereka biasanya duduk santai di taman maupun danau KP3B. 

"Biasanya yang nongkrong ada aja yang jajan es, kopi, ciki-ciki, ini sepi," kata salah satu pedagang di KP3B, Pipin.

Sepinya pembeli juga dirasakan Dwi, warga Baros, Kabupaten Serang, yang berjualan es krim keliling di KP3B.

Dwi mengaku mengetahui hari ini penerapan pertama WFH di KP3B melalui pemberitaan, namun dia tidak mengira pembeli es krim akan menurun.

"Kalau kemarin-kemarin ada pegawai yang beli es krim nong-nong saya ini, katanya kayak waktu mereka kecil beli es krim ini. Tapi ini sepi," terang Dwi.

Di sisi lain, petugas kebersihan masih bekerja menyapu jalanan agar lingkungan perkantoran tetap bersih dari sampah maupun daun yang berguguran.

Sebelumnya diberitakan, Gubernur Banten Andra Soni menetapkan WFH bagi ASN melalui Surat Edaran Nomor 16 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan Tugas Kedinasan bagi Pegawai Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Provinsi Banten dalam rangka Mendukung Percepatan Transformasi Tata Kelola Penyelenggaraan Pemerintahan.

Dalam surat edaran tersebut mengatur pelaksanaan tugas kedinasan ASN dilakukan melalui kombinasi fleksibilitas lokasi kerja, yaitu bekerja dari kantor atau work from office (WFO) dan bekerja dari rumah atau domisili pegawai (WFH).

Secara teknis, ASN melaksanakan tugas kedinasan secara WFO selama empat hari kerja di kantor pada hari Senin, Selasa, Rabu dan Kamis, serta satu hari kerja secara WFH pada hari Jumat.

"Dalam hal terdapat pegawai yang tugas dan fungsinya secara fisik harus bekerja dari kantor, maka pegawai tersebut wajib bekerja dari kantor yang secara teknis diatur oleh pimpinan unit kerja masing-masing," tulis surat edaran tersebut.

Ketentuan ini juga memberikan ruang fleksibilitas bagi ASN dalam menjalankan tugas kedinasan, namun tetap mengedepankan kedisiplinan, akuntabilitas, serta kinerja yang optimal.

Dalam surat edaran tersebut mengatur bagi seluruh ASN, baik yang bekerja dari kantor maupun dari rumah, diwajibkan untuk tetap memenuhi ketentuan jam kerja.

Surat edaran tersebut juga mengatur bagi seluruh ASN untuk melakukan presensi secara digital melalui sistem SIMASTEN sebanyak dua kali, yaitu saat masuk kerja paling lambat pukul 07.30 dan saat pulang kerja paling lambat pukul 17.00 WIB.

Selain itu, ASN diwajibkan untuk selalu aktif dalam komunikasi kedinasan dengan menyalakan alat komunikasi selama jam kerja serta merespons setiap instruksi dan arahan pimpinan secara cepat.

Dalam rangka menjaga efektivitas pelaksanaan kebijakan ini, pejabat pimpinan tinggi madya, pejabat pimpinan tinggi pratama, kepala unit pelaksana teknis, serta kepala cabang dinas diwajibkan tetap melaksanakan tugas dari kantor (WFO), sekaligus melakukan monitoring dan pengawasan terhadap keberadaan, kehadiran, serta kinerja pegawai di unit kerja masing-masing.

Bagi perangkat daerah yang bersifat esensial, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Rumah Sakit Umum Daerah, Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Perhubungan, Kantor Cabang Dinas pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, UPTD pada Badan Pendapatan Daerah, serta UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak, pelaksanaan WFH dibatasi maksimal 20 persen dari jumlah pegawai.

Sementara itu, tenaga kesehatan pada rumah sakit umum daerah, tenaga pendidik dan kependidikan, serta tenaga kebersihan dikecualikan dari pelaksanaan WFH dan tetap melaksanakan tugas dari kantor.

"Pelaksanaan upacara peringatan hari besar nasional yang bertepatan dengan jadwal WFH dilaksanakan secara daring," tulis surat edaran.

Selain itu, pegawai yang berhalangan melaksanakan tugas secara WFH diwajibkan mengajukan cuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam mendukung implementasi kebijakan ini, seluruh pimpinan perangkat daerah diwajibkan untuk menginformasikan mekanisme pelayanan secara daring kepada masyarakat sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.

Kepala perangkat daerah juga diminta untuk dapat mengoptimalkan penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik juga menjadi bagian penting dalam memastikan kelancaran pelaksanaan tugas kedinasan secara fleksibel.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |