Liputan6.com, Jakarta - Produk kerajinan dan dekorasi rumah (home decor) asal Indonesia kembali membuktikan taringnya di kancah internasional. Salah satunya adalah Nangoma, sebuah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang sukses menyulap kayu bekas menjadi produk bernilai estetika tinggi hingga diminati oleh buyer dari berbagai belahan dunia.
Berlokasi di Jl. Bandulan, Purworejo, Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Nangoma fokus pada produksi home decor, kerajinan, hingga mebel mini. Sang pemilik, Rita Cahaya Sari, menceritakan filosofi unik di balik nama usahanya yang kerap dikira berasal dari bahasa Jepang tersebut.
"Jadi kalau Nangoma itu banyak orang mengira namanya kayak orang Jepang. Itu salah sebenarnya. Filosofinya, 'Nangomah' itu kan dari bahasa Jawa yang artinya di rumah. Ya kita berharap produk-produk dari Nangomah itu bisa memberikan warna juga di rumah-rumah customer," ujar Rita saat berbincang dengan Liputan6.com pada Jumat (22/5) kemarin di tempat usahanya.
Berawal dari Garasi dan Hantaman Pandemi
Sebelum sukses berdiri sendiri, Rita merupakan seorang pekerja di industri mebel di Jogja selama belasan tahun. Dengan modal seadanya dari menyisihkan gaji UMR yang pas-pasan, ia memberanikan diri untuk resign pada tahun 2018 dan memulai usahanya sendiri dari garasi rumah.
Namun, tantangan berat langsung menghadang di awal perjalanannya. Baru setahun berjalan, badai pandemi Covid-19 melanda dunia.
"Kalau mulai usaha sih baru 2018. Jadi ini sial juga sebenarnya, 2018 mulai usaha, setahun setelahnya terhantam Covid. Sebelumnya saya ikut orang hampir belasan tahun di mebel juga. 2018 memutuskan resign, terus mendirikan ini, terus kena Covid. Sudahlah," kenangnya.
Meski begitu, Rita tidak patah arang. Ia sengaja memilih segmen home decor karena pasarnya dinilai lebih fleksibel bagi pelaku UMKM dibanding furniture besar pabrikan. Nangoma fokus memproduksi barang-barang kecil hingga furniture mini seperti stool (kursi tanpa sandaran).
Untuk menjalankan roda produksinya saat ini, Rita dibantu oleh 3 orang karyawan tetap. Jika permintaan sedang melonjak, ia akan mempekerjakan hingga 5 orang karyawan borongan lepas demi menjaga efisiensi modal usaha.
“Kalau karyawan sih, yang pasti itu ada 3. Kalau untuk borongan itu ada 5. Borongan itu kita panggil kalau ada order banyak aja. Kenapa? Karena kembali lagi ya permodalan, Bu Rita nggak mau pusing gitu loh dengan ngerusin karyawan banyak itu. Ya namanya bisnisnya hitung-hitungan ya mas jadi lebih enak borongan lepas sudah selesai urusannya gitu,” jelasnya.
Memanfaatkan Kayu Bekas Rumah hingga Kapal Probolinggo
Keunikan utama dari produk Nangoma terletak pada bahan baku utamanya, yakni kayu recycle atau kayu bekas. Rita berburu material ini dari pembongkaran rumah kuno hingga kayu dari kapal-kapal nelayan di Probolinggo yang sudah bocor atau tidak terpakai.
“Untuk materialnya Bu Rita lebih ke kayu recycle. Kayu recycle itu bu rita dapatkan dari pembukaran rumah, dari kayu-kayu kapal, kapal-kapal dari probolinggo, mana-mana yang mungkin sudah bocor, sudah ini itu Bu Rita ambil, gitu,” terang Rita.
Dari segi harga, dekorasi buatan Nangoma dibanderol mulai dari Rp200 ribuan, tergantung tingkat kesulitan dan jumlah pesanan. Rita juga menekankan bahwa nilai estetika kayu recycle kini sangat tinggi, bahkan kastanya bisa lebih mahal daripada kayu jati baru.
"Nangoma itu mengangkat recycle, jadi orang sekarang kan lagi fomo dengan hal yang bersifat recycle dan sustainable. Apalagi orang luar itu lebih menghargai mengolah barang tidak kepake menjadi fungsional. Barang kita juga handmade, jadi satu produk tidak bakal sama persis dengan produk lainnya," ujarnya.
“Ya harga sih kalau dekorasi itu mulai Rp200 ribuan, tergantung jumlah dan bagaimana kesulitannya dalam membuat produk itu,” tambahnya.
Segmen Pasar hingga ke Luar Negeri
Menariknya, material daur ulang ini justru membuat produk Nangoma sangat diminati oleh pasar luar negeri seperti China dan Spanyol. Bagi mereka, material tersebut menjadi suatu keunikan tersendiri dan memiliki suatu kesenian tinggal tinggi.
"Segmen pasarnya itu lebih ke luar negeri. Karena apa? Kalau di Indonesia, kecenderungannya pengen rumahnya itu dimasukin barang-barang yang mulus sebangsa IKEA, barang pabrikan China. Sementara kalau kayu recycle itu pasti ada bekas tetesan cat atau bekas paku rumah zaman dulu. Nah, justru orang luar itu menyukai keunikan-keunikan seperti itu," jelas Rita.
Tak banyak yang tahu, bahan kayu recyle memiliki nilai jual dan kualitas tertinggi dari kayu lainnya. Bahkan, demi menarik pelanggannya, produk Nangoma bisa dipesan sesuai dengan kebutuhan dan selera pembelinya.
“Kedua kita bisa custom. Jadi misalkan nanti customernya pengen bikin rumah meja, karena rumahku kecil ya bikinkan seperti ini, dengan kayu ini, gitu. Untuk materialnya sih Bu Rita tergantung juga dan permintaan pasar. Jadi usahanya kayu recycle itu lebih mahal daripada kayu jati. Jadi ratenya itu kalau kasta itu kayu recycle baru kayu jati, nanti jati pun ada grade A, grade B, grade C gitu. Jadi nanti customernya usahakan budgetku segini, ya sudah bu Rita hitungkan. Kita hitungkan dulu. Gini-gini baru tentuin harganya,” terang Rita.
Produk unggulannya berupa pot kayu dan kerajinan burung rajin dipesan secara berulang (repeat order).
“Produk unggulannya itu simpel sebenarnya. Ada pot sama burung-burung itu produk unggulannya Nangoma itu. Itu malah sering dipesan berulang-ulang oleh orang china, orang spanyol gitu mas,” paparnya.
Tantangan Logistik hingga Proses Produksi
Menembus pasar ekspor bukan berarti tanpa hambatan. Rita mengaku tantangan terbesar yang dihadapinya adalah preferensi pasar lokal yang masih minim terhadap barang antik, serta tingginya risiko pengiriman barang.
"Masalah pengiriman itu risiko rusaknya lebih banyak karena kurir terkadang asal-asalan. Kedua, biasanya di harga. Harga pengiriman itu sering kali lebih mahal daripada harga barangnya sendiri," ungkapnya.
Untuk pemasaran ekspor, Nangoma mengandalkan korespondensi email, situs web. Proses produksinya sendiri memakan waktu sekitar 8 minggu setelah deposit, di mana 2 minggu pertamanya dihabiskan khusus untuk proses oven agar kelembapan kayu benar-benar aman di angka 12 persen.
“Cara pemasarannya sih biasanya kita kalau yang luar itu lewat email. Kalau pemasarannya juga lewat pameran gitu. Pameran di International Furniture gitu atau kan ada website juga. Nanti ada catalognya disana lengkap dengan harganya tinggal dipilih barang yang mau,” kata Rita.
“Proses produksinya itu 8 minggu setelah deposit. Karena kalau proses kayu kan harus di oven dan sebagainya biasanya. Apalagi kayu jati ya. Kalau jati mau nih kayu-kayu tebangan baru itu loh mas. Itu tuh biasanya 8 minggu, 2 minggu itu untuk di oven, biar kayu itu kering. Kering itu untuk mengambil emsi kelembapan kekeringan kayu itu sampai 12 persen. Itu aja 2 minggu. Belum nanti ya proses-prosesnya lainnya. Itu yang paling aman tuh kalau ngambil order dari luar itu, ya itu 8 minggu tuh aman,” terangnya.
Turut Aktif dalam Pameran Bergengsi
Di ranah domestik, Nangoma juga aktif mengikuti pameran-pameran besar, termasuk program kurasi ketat Brilianpreneur yang diselenggarakan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Jakarta setiap Desember, serta ada juga keikutsertaan dalam pameran furniture internasional yang rutin digelar setiap bulan Maret.
“Bu Rita itu pernah ikut Brilianpreneur. Jadi itu dari BRI juga. Di BRI itu ada program pameran besar banget itu, seluruh Indonesia kan itu harusnya tiap Desember, cuman kemarin tuh ada terus ada yang, ini loh mas, yang tanah longsor di Aceh, Sumatera itu loh, nah akhirnya tuh di-cancel tahun lalu tuh. Brilianpreneur Jadi semua UKM dari seluruh Indonesia itu, dikurasi sama BRI, jadi kita ngirim barangnya ke Jakarta. Kurasi, oh ini masuk, ini enggak, gitu,” ujarnya.
“Ada juga pameran internasional itu tiap Maret jadi itu ada pameran terbesar furniture and home decor itu loh mas jadi seluruh buyer dari seluruh dunia itu ke Indonesia untuk lihat pameran itu jadi itu rutin tiap tahun itu di bulan Maret,” lanjutnya.
Upgrade Ilmu Lewat BRIncubator hingga Sukses Mejeng di RuBy Yogyakarta
Langkah Nangoma untuk terus memperkuat fondasi bisnisnya kian mantap setelah bergabung dalam program BRIncubator. Melalui wadah inkubasi yang diinisiasi oleh BRI ini, Rita Cahaya Sari mengaku mendapatkan banyak sekali suntikan ilmu dan keterampilan baru melalui berbagai pelatihan intensif yang disediakan.
Bagi Rita, seluruh materi pelatihan yang diwadahi oleh pihak BRI menjadi sarana penting bagi dirinya untuk terus meng-upgrade kemampuan, terutama dalam hal strategi pemasaran dan manajemen bisnis yang lebih profesional. Ilmu-ilmu baru tersebut dirasakannya sangat krusial untuk mempertahankan sekaligus memperluas pasar Nangoma yang kini sudah berhasil merambah ranah internasional.
"Ikut BRIncubator itu benar-benar membuka mata ya. Di sana, pihak BRI mewadahi kami dengan banyak sekali pelatihan dan ilmu yang sangat bermanfaat. Bagi Bu Rita, ilmu-ilmu itu jadi modal utama buat upgrade kemampuan, terutama dalam mengelola dan memasarkan produk Nangoma yang pasarnya sudah merambah ranah internasional. Jadi biar ndak jalan di tempat saja." Terang Rita.
Tak hanya dibekali teori dan pelatihan berkala, Nangoma juga difasilitasi dengan ruang pameran yang strategis. Rita berkesempatan langsung untuk memamerkan produk-produk handmade ramah lingkungannya di Rumah BUMN BRI Yogyakarta atau yang akrab dikenal sebagai RuBy. Wadah nyata ini menjadi etalase penting yang semakin meningkatkan nilai jual dan mendekatkan produk kerajinan daur ulang asli Sleman tersebut kepada para pencinta home decor serta calon buyer potensial.
"Ditambah lagi, Bu Rita juga senang sekali karena mendapat kesempatan berharga untuk memamerkan produk di Rumah BUMN BRI Yogyakarta atau RuBy yang ada di jalan Sagan itu. Fasilitas seperti ini yang membuat kami sebagai UMKM merasa sangat terbantu untuk naik kelas," ungkap Rita." tandasnya.
Dapatkan Pekerjaan Layak di Nangoma
Di balik kesuksesan besar produk recycle Nangoma menembus pasar internasional, ada dedikasi luar biasa dari para perajin lokal yang bekerja di balik layar. Salah satu sosok penting tersebut adalah Yono, karyawan setia yang telah mencurahkan keterampilan dan kreativitasnya di Nangoma selama hampir tiga tahun terakhir.
Bagi pria yang akrab disapa Pak Yono ini, Nangoma bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan rumah kedua yang memberikan penghidupan sangat layak. Setiap hari, mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, rutinitasnya diisi dengan ketelitian: memilah kayu-kayu bekas pilihan, lalu merakitnya menjadi produk kerajinan tangan bernilai seni tinggi.
Dunia perkayuan sendiri sebenarnya bukan hal baru bagi Pak Yono. Meniti profesi sebagai tukang kayu sudah menjadi jalan hidup yang ia pilih sejak lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).
"Saya merasa mendapatkan pekerjaan yang sangat layak di sini. Bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, memilah kayu lalu membuatnya jadi produk itu sudah jadi kebiasaan saya dari lama, bahkan sejak lulus SMA saya memang sudah bekerja sebagai tukang kayu," ungkap Pak Yono.
Meski enggan membeberkan nominal upahnya secara blak-blakan, Pak Yono mengaku sangat bersyukur. Penghasilan yang ia bawa pulang dari Nangoma terbukti lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Rasa nyaman dan ketenangan dalam bekerja inilah yang membuatnya terus betah berkarya, melahirkan produk lokal berkualitas global bersama sang pemilik, Ibu Rita.
Cara Mudah Menjadi Inkubator BRI
Terdapat cara mudah untuk menjadi bagian dari peserta BRIncubator. Mengutip laman resmi media sosial Instagram Rumah BUMN Yogyakarta, program ini terbuka bagi berbagai bidang usaha, mulai dari Food & Beverages, Fashion & Beauty, Home Decor hingga bisnis Craft.
Berikut Langkah Pendaftaran Awal yang Bisa Dilakukan Pelaku Usaha UMKM:
1. Lakukan pendaftaran di laman resmi linkumkm.id, lalu lengkapi data diri pribadi.
2. klik ceklist pada bagian bawah dan pastikan anda telah membaca dan memahami Syarat & Ketentuan dan Kebijakan Privasi
3. Kemudian Klik “Daftar”
4. Lakukan aktivasi akun pada E-mail yang terdaftar pada website
5. Setelah akun diaktivasi, anda dapat masuk ke website
Setelah berhasil masuk atau mendaftar pada laman website, Anda bisa melakukan tindakan lanjutan dengan melakukan klik pada bagian banner bertuliskan BRIncubator.
Setelahnya Ikuti Langkah Berikut:
1. Anda telah sampai pada halaman pendaftaran
2. Lengkapilah data anda yang terdiri dari:
- Profil Diri
- Profil Usaha
- Tentang Produk
- Profil Bank
3. Pastikan anda telah mengisi seluruh data dengan benar
4. Klik “Selanjutnya” pada masing masing Sub-Pertanyaan
5. Dan setelah semuanya terisi, akan muncul tulisan “Selamat!! Anda telah terdaftar pada Program 2026”.
Setelah semua proses dilakukan, usaha Anda pun telah siap menjadi bagian dari anggota BRIncobator 2026. Nantinya, para mentor yang memiliki pengalaman di bidang bisnis dan usaha akan memberikan pelatihan guna meningkatkan kapasitas bisnis menuju kesuksesan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6826820/original/016446300_1779615644-nangoma.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6935907/original/083142600_1779704888-WhatsApp_Image_2026-05-23_at_11.14.33_PM__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6959345/original/013296400_1779725259-339609.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6960479/original/076080900_1779726324-1001291107.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6472307/original/050579400_1779333496-nasi_serbu__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6484204/original/035365800_1779343397-gorengan_asep__6_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6713100/original/048395500_1779530236-ffgrth.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6309311/original/038081100_1779183456-WhatsApp_Image_2026-05-19_at_16.12.18__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6395987/original/093822900_1779270855-agar-tak-tertipu-ini-beda-uang-palsu-dan-asli.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6505400/original/089646500_1779362850-RS_Muhammadiyah_Lamongan_dan_Lazismu_Jatim_menggelar_makan_bakso_gratis_di_Yayasan_Bberkas_Bersinar_Abadi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6501550/original/001476500_1779357696-IMG_20260521_162332.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6468486/original/045621400_1779330369-658238.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6419443/original/068101800_1779289758-TES_123.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6400221/original/029795200_1779274292-Koperasi_Merah_Putih_di_Pati_menghadap_ke_sawah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6399583/original/088348400_1779273717-gempa_bima.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6307684/original/013837200_1779181923-WhatsApp_Image_2026-05-19_at_16.03.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6321223/original/082127100_1779196165-WhatsApp_Image_2026-05-19_at_20.02.41.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2408415/original/054935400_1542192174-Pasar-saham-Indonesia5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4883222/original/037561100_1720093648-20240704-IHSG-ANG_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3068178/original/077295500_1583319244-20200304-Dilanda-Corona_-IHSG-Ditutup-Melesat-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4215634/original/079831800_1667629579-Antusias_Warga_Perpanjang_SIM_di_Pelayanan_SIM_Keliling_Polresta_Bogor_Kota-Aida-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5384514/original/093137400_1760785093-Kepala_Eksekutif_Pengawasan_Perilaku_Jasa_Keuangan__Edukasi_dan_Perlindungan_Konsumen_OJK_Friderica_Widyasari_Dewi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460685/original/076880100_1767264471-close-up-man-preparing-steal-motorcycle.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5458903/original/073984900_1767108528-Tito_Karnavian.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4938277/original/097146100_1725613636-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_15.36.00.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3356531/original/022216000_1611299595-20210122-IHSG-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/702138/original/ilustrasi-migas-chevron-140703-andri.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5016222/original/090950100_1732188163-20241121_113330.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1505536/original/011475000_1486967390-Pembukaan-Saham3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477336/original/028314700_1768817019-P90627558_highRes_bmw-m-electrified-01__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485810/original/029404300_1769561690-Pabrik_sandal_Swallow_terbakar__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5043495/original/027763400_1733818356-1733754741839_fungsi-noken-as.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1507264/original/014724800_1487071503-Pasar_saham.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522592/original/086641300_1772769941-1001716059.jpg)