Sultan Soroti Pemerataan Pembangunan Gunungkidul: Tidak Hanya Pantai saja

11 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X menyoroti pentingnya pemerataan pembangunan di Kabupaten Gunungkidul, yang dinilai mengalami kemajuan signifikan dalam satu dekade terakhir. Namun demikian, pertumbuhan tersebut dinilai belum merata dan masih terkonsentrasi di kawasan tertentu, khususnya wilayah pesisir selatan.

Menurut Sultan, kondisi Gunungkidul saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan 10 tahun lalu, terutama dari sisi infrastruktur dan aksesibilitas antarwilayah.

“Kondisi Gunungkidul sudah beda dari 10 tahun yang lalu. Pertumbuhan itu kan ada, jalan infrastruktur mungkin untuk saat ini sudah cukup memadai, biarpun masih bisa dianggap minimal. Tapi untuk mencapai Gunungkidul dari ujung barat, utara, timur, selatan itu sudah ada kemudahan,” ujar Sultan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa tantangan ke depan bukan lagi sekadar pembangunan fisik, melainkan bagaimana memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.

“Sekarang bagaimana pembangunan itu bisa lebih merata, tidak hanya pantai saja. Tapi bisa juga merambah ke yang lain agar warga masyarakat dalam menikmati pertumbuhan itu juga ada pemerataan,” tegasnya.

Sultan mengakui bahwa kawasan pantai selatan Gunungkidul saat ini menjadi magnet pertumbuhan ekonomi yang cukup dominan dibandingkan wilayah lain yang belum tersentuh investasi secara optimal.

“Kalau wilayah pantai selatan itu memang pertumbuhannya jauh lebih besar dibandingkan daerah-daerah di sekitarnya yang mungkin belum ada investasi,” ungkapnya.

Sebagai upaya mempercepat pemerataan kesejahteraan, Sultan mendorong implementasi program Lumbung Mataram yang diharapkan dapat memberdayakan masyarakat di wilayah yang belum berkembang.

“Makanya harapan saya untuk mempercepat itu, saya punya program Lumbung Mataram. Sekarang juga ada koperasi merah putih dan sebagian itu. Dengan Lumbung Mataram ini, mereka yang kurang beruntung itu bisa nanam, kita sediakan awal satu hektar,” jelasnya.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada sektor pertanian, tetapi juga membuka peluang usaha lain seperti peternakan.

“Itu mungkin tidak hanya pertanian, tapi bisa ayam petelur atau ayam potong, karena kami sudah punya kerja sama dengan program Makan Bergizi Gratis. Sehingga duit itu larinya ke desa,” tambah Sultan.

Dia optimistis program Lumbung Mataram mampu menjadi instrumen pemerataan ekonomi berbasis desa yang berdampak langsung pada masyarakat bawah.

“Lumbung Mataram ini akan dipercepat. Ini untuk memberikan pemerataan kesejahteraan bagi masyarakat yang kurang beruntung,” tegasnya.

Terkait kualitas sumber daya manusia (SDM), Sultan menilai sektor pertanian di Gunungkidul tidak mengalami kendala berarti. Namun, tantangan akan muncul ketika daerah mulai bertransformasi ke sektor industri.

“Kalau terkait SDM di Gunungkidul di sektor pertanian tidak ada masalah. Yang akan bermasalah itu pada waktu kita bicara industri,” katanya.

Di sisi lain, Sultan juga menyinggung kondisi fiskal daerah, terutama dengan adanya pengurangan dana dari pemerintah pusat yang berdampak pada program pembangunan di daerah.

“Sekarang kita didorong karena dana desa bantuan APBN dipotong, maka kami mendorong bagaimana kabupaten/kota juga fokus untuk urusan APBD,” jelasnya.

Dia bahkan menyarankan agar program-program peningkatan SDM yang bersifat pelatihan dapat ditunda sementara waktu, demi mengoptimalkan anggaran pada sektor prioritas.

“Kalau hanya untuk training peningkatan SDM, kalau bisa ditunda ya ditunda, supaya kita bisa memilih yang fokus, yang memang dibutuhkan agar wilayah itu bisa bertumbuh,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sultan mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta yang dinilai cukup tinggi dibandingkan daerah lain, berkat fokus kebijakan pembangunan.

“Kemarin di Jawa, ekonomi yang tumbuh paling tinggi 5,94 itu Jogja. Karena apa? Kita fokus pada pelayanan itu,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung dampak pembangunan infrastruktur strategis seperti jalan tol yang saat ini masih dalam tahap pengerjaan dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

“Mumpung tol itu belum selesai, kira-kira dua sampai tiga tahun ini investasi tol masih keluar triliunan rupiah, jadi membantu pertumbuhan daerah,” jelas Sultan.

Namun, ia mengingatkan bahwa setelah proyek infrastruktur tersebut selesai, pemerintah daerah harus memiliki strategi lanjutan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

“Nanti kalau sudah selesai, saya harus tahu program lain lagi yang bisa menopang, bukan hanya APBD. Karena investasi itu juga memberikan tambahan pertumbuhan ekonomi untuk daerah itu sendiri,” katanya.

Dengan keterbatasan anggaran daerah, Sultan menekankan pentingnya ketepatan dalam menentukan prioritas pembangunan.

“APBD kita punya keterbatasan. Jadi bagaimana kita pandai-pandai, bukan masalah irit, tapi fokus pada yang memang dibutuhkan,” pungkasnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |