Proyeksi 2026: Emiten Emas Dinilai Prospektif di Tengah Ketidakpastian Global

1 month ago 34

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa menilai emiten berbasis emas berpeluang menjadi pilihan menarik bagi investor pada 2026. Prospek emiten emas ini dinilai sejalan dengan potensi berlanjutnya ketidakpastian global yang masih membayangi perekonomian dunia.

Dalam kondisi ketidakpastian, emas kerap menjadi aset yang diminati investor sebagai instrumen perlindungan nilai. Hal ini dinilai dapat mendorong peningkatan minat terhadap emiten yang memiliki keterkaitan langsung dengan komoditas emas di pasar modal.

“Emiten berbasis emas berpeluang menarik di 2026, terutama apabila ketidakpastian global masih berlangsung. Emas umumnya akan dipilih investor untuk menyiasati keadaan tersebut dengan menjadikannya safe haven,” ujar Reydi kepada Liputan6.com, Kamis (1/1/2026).

Ia menyebut meningkatnya minat investor terhadap emas berpotensi berdampak pada permintaan komoditas tersebut. Kondisi ini dinilai dapat memberikan ruang bagi emiten terkait emas untuk mencatatkan kinerja yang lebih baik.

“Hal ini akan meningkatkan permintaan emas ke depan dan meningkatkan margin emiten yang terkait emas di IHSG,” kata dia.

Selain emas, Reydi juga menyoroti sektor-sektor lain yang dinilai memiliki peluang meraih keuntungan, yakni komoditas energi sebagai lindung nilai ketidakpastian global, sektor keuangan yang berpotensi terdorong pelonggaran suku bunga, serta sektor konsumer ritel yang ditopang oleh daya beli domestik.

Harga Emas dan Perak Turun di Akhir Tahun 2025, Ternyata Gara-gara Ini

Sebelumnya ditulis harga emas dan harga perak dunia melemah pada perdagangan Rabu (31/12/2025), setelah investor melakukan aksi ambil untung menyusul reli tahunan yang bersejarah. Tekanan terhadap harga komoditas logam mulia ini juga datang dari langkah CME Group yang kembali menaikkan margin kontrak berjangka logam mulia untuk kedua kalinya dalam sepekan.

Dikutip dari CNBC, Kamis (1/1/2026), harga emas di pasar spot turun 0,1% ke level USD 4.339,89 per ounce pada pukul 08.50 waktu AS (ET). Pelemahan ini memperpanjang tren penurunan jelang pergantian tahun, setelah emas mencetak level terendah dalam sepekan pada sesi sebelumnya.

Sementara itu, harga perak spot anjlok tajam 5,6% ke USD 72,15 per ounce. Penurunan ini memangkas sebagian keuntungan setelah perak sempat menembus USD 80 per ounce di awal pekan—level tertinggi yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Meski terkoreksi, pergerakan tersebut terjadi di penghujung tahun yang luar biasa bagi logam mulia. Sepanjang tahun ini, harga emas telah melonjak lebih dari 64% dan berada di jalur kinerja tahunan terbaik sejak 1979, sekaligus mencatatkan tiga tahun berturut-turut di zona positif.

Reli emas ditopang berbagai faktor, mulai dari pemangkasan suku bunga AS, ketegangan tarif perdagangan, hingga kuatnya permintaan dari produk exchange-traded fund (ETF) serta bank sentral global.

Kinerja Perak Lampaui Emas

Kinerja perak bahkan jauh melampaui emas pada 2025. Logam ini, yang beberapa hari terakhir mengalami volatilitas tinggi, diperkirakan membukukan kenaikan hampir 150% secara tahunan—terbaik sejak 1979.

Lonjakan harga perak dipicu kombinasi pasokan yang ketat, tingginya permintaan dari India, kebutuhan industri, serta kebijakan tarif.

Dampak Kebijakan CME Group ke Trader

Di sisi lain, CME Group—salah satu bursa perdagangan komoditas terbesar di dunia—menyatakan pada Selasa bahwa margin untuk kontrak berjangka emas, perak, platinum, dan paladium akan kembali dinaikkan setelah penutupan perdagangan Rabu.

Dalam pernyataannya, CME menyebut keputusan tersebut diambil “as per the normal review of market volatility to ensure adequate collateral coverage” atau sebagai bagian dari peninjauan rutin terhadap volatilitas pasar guna memastikan kecukupan jaminan.

Kebijakan ini berarti para trader harus menyetor dana jaminan lebih besar saat membuka posisi, untuk mengantisipasi risiko gagal bayar ketika kontrak jatuh tempo. Sebelumnya, kenaikan margin yang dilakukan CME di awal pekan juga sempat memicu penurunan tajam harga emas dan perak berjangka pada perdagangan Senin.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |