Private Placement, SDMU Bakal Terbitkan 1,11 Miliar Saham

3 months ago 61

Liputan6.com, Jakarta - PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU) mengumumkan rencana pelaksanaan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Perseroan akan menerbitkan sebanyak 1.115.466.100 saham baru seri B. Aksi korporasi ini setara dengan 49,56 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan. 

Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (22/12/2025) manajemen menyebutkan bahwa PMTHMETD dilakukan melalui konversi utang menjadi saham. Seluruh saham baru tersebut akan diambil bagian oleh Iloe Mien Sasminto yang merupakan pihak terafiliasi perseroan. 

Pelaksanaan konversi utang menjadi saham sekaligus pencatatan saham tambahan di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 6 Januari 2026. Adapun pengumuman hasil pelaksanaan PMTHMETD akan dilakukan pada 8 Januari 2026. 

Perseroan menetapkan harga pelaksanaan PMTHMETD sebesar Rp 55 per saham. Penetapan harga tersebut dilakukan berdasarkan kesepakatan para pihak dan mengacu pada ketentuan Bursa Efek Indonesia yang berlaku.

Sehubungan dengan aksi korporasi tersebut, perseroan telah memperoleh persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan pada 17 Oktober 2025. Persetujuan ini diberikan sesuai dengan ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan terkait PMTHMETD. 

Setelah pelaksanaan PMTHMETD, modal ditempatkan dan disetor penuh PT Sidomulyo Selaras Tbk akan meningkat menjadi Rp 169,29 miliar.

Sidomulyo Selaras (SDMU), Rencanakan PMTHMETD Senilai Rp 61,35 Miliar

Sebelumnya, PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU) berencana melakukan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 2,27 miliar saham baru seri B. 

Saham yang akan diterbitkan merupakan saham baru seri B dengan nilai nominal Rp25, berbeda dari saham seri A yang saat ini bernilai nominal Rp100. Persetujuan atas perubahan klasifikasi saham ini juga menjadi salah satu agenda RUPSLB.

Aksi korporasi ini dilakukan sebagai langkah strategis untuk memperbaiki posisi keuangan perusahaan melalui konversi utang kepada kreditur menjadi saham.

Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan, utang yang akan dikonversi senilai Rp61,35 miliar berasal dari pinjaman yang telah melalui beberapa kali pengalihan hak tagih, mulai dari Bank Permata, SC Lowy, Layman Holdings Pte. Ltd., hingga terakhir kepada Tjoe Mien Sasminto (TMS) yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama sekaligus pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 38,36%.

"Perseroan memiliki modal kerja bersih negatif sebesar Rp51,33 miliar per 31 Maret 2025. Dengan konversi utang menjadi saham, struktur permodalan akan membaik dan beban keuangan menurun, sehingga mendukung profitabilitas," demikian disampaikan manajemen dalam keterbukaan informasi.

Fasilitas Kredit

Utang yang dikonversi merupakan bagian dari fasilitas kredit yang diperoleh pada 2012 dan telah direstrukturisasi beberapa kali. Dalam kesepakatan terbaru pada Juni 2025 yang diubah pada 15 Juli 2025, TMS menyetujui konversi utang menjadi saham, dengan harga pelaksanaan Rp27 per saham—di bawah harga pasar per 16 Juli 2025 yang tercatat Rp40 per saham di Bursa Efek Indonesia.

Jika konversi disetujui dalam RUPSLB yang akan digelar 22 Juli 2025, maka TMS akan memperoleh hingga 2,27 miliar saham baru atau setara 66,68% dari total saham setelah PMTHMETD. Hal ini akan menyebabkan dilusi kepemilikan bagi pemegang saham eksisting.

Namun demikian, manajemen menegaskan bahwa tidak akan terjadi perubahan pengendalian karena TMS tetap menjadi pengendali utama pasca-konversi.

Aset dan ekuitas perusahaan juga akan mengalami perbaikan signifikan. Liabilitas akan turun dari Rp109,1 miliar menjadi Rp47,79 miliar, dan ekuitas naik dari Rp29,41 miliar menjadi Rp90,76 miliar. Rasio utang terhadap ekuitas pun turun drastis dari 371,11% menjadi 52,66%.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |