Pasar Modal Raih Kinerja Positif pada 2025, OJK Beri Catatan untuk Indeks LQ45

1 month ago 38

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menilai kinerja pasar modal Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan pertumbuhan positif, namun masih menyisakan ruang perbaikan yang cukup besar, terutama pada saham-saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45.

Mahendra menyampaikan, berdasarkan data penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 30 Desember 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan signifikan sepanjang tahun. Meski demikian, kinerja tersebut tidak sepenuhnya tercermin pada indeks saham berkapitalisasi besar.

“Namun demikian, kita juga melihat bahwa masih banyak ruang perbaikan yang harus dilakukan. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham perusahaan terbesar dan menjadi rujukan investasi fund manager global maupun domestik hanya tumbuh 2,41% jauh di bawah kenaikan IHSG,” ujar Mahendra dalam sambutannya pada acara pembukaan perdagangan perdana pasar modal Indonesia 2026, Jumat (2/1/2026).

Ia juga menyoroti kontribusi pasar saham terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang meningkat tajam pada 2025. Meski kenaikannya dinilai luar biasa, posisi Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan.

“Sekalipun demikian, angka itu masih berada di bawah negara-negara di kawasan kita seperti India 140%, Thailand 101%, dan Malaysia 97% dari PDB mereka masing-masing,” katanya.

Selain itu, Mahendra mencatat porsi transaksi investor ritel di pasar saham domestik terus meningkat signifikan, yang menuntut penguatan perlindungan investor, integritas pasar, serta literasi dan edukasi agar partisipasi investor ritel tetap sehat dan berkelanjutan.

OJK: Kontribusi Pasar Saham ke PDB Indonesia Naik Jadi 72% di 2025  

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan kontribusi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mengalami peningkatan signifikan sepanjang tahun 2025. Kontribusi tersebut naik dari 56% pada akhir 2024 menjadi 72% pada akhir 2025, meski masih berada di bawah sejumlah negara di kawasan.

“Sekalipun demikian, angka itu masih berada di bawah negara-negara di kawasan kita. Seperti India 140%, Thailand 101%, dan Malaysia 97% dari PDB mereka masing-masing,” ujar Mahendra dalam sambutannya pada acara pembukaan perdagangan perdana pasar modal Indonesia 2026, Jumat (2/1/2026).

Mahendra menilai peningkatan kontribusi pasar modal terhadap PDB tersebut menunjukkan masih besarnya potensi pengembangan pasar modal nasional ke depan. Ia menyebut ruang pertumbuhan masih terbuka lebar dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia.

Sejalan dengan itu, Mahendra menyampaikan berbagai indikator kinerja pasar modal Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan yang baik sepanjang 2025, selaras dengan kinerja perekonomian nasional.

“Selaras dengan kinerja perekonomian nasional berbagai indikator kinerja pasar modal Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang baik” kata Mahendra.

Ia menambahkan, penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir 2025 berada di level 8.646,94 atau menguat 22,13% sepanjang tahun. Namun demikian, masih terdapat ruang perbaikan, salah satunya tercermin dari kinerja indeks LQ45 yang hanya tumbuh 2,41%, jauh di bawah kenaikan IHSG.

Selain itu, porsi transaksi investor ritel meningkat pesat dari 38% pada akhir 2024 menjadi 50% berdasarkan data terakhir, dengan komposisi investor yang didominasi generasi Y dan Z.

BEI Pasang Target Indonesia Tembus Top 10 Bursa Dunia di 2030

Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan dapat masuk ke jajaran 10 bursa terbesar dunia dalam lima tahun ke depan melalui penguatan fondasi pasar modal nasional. Target tersebut tertuang dalam Master Plan BEI 2026–2030 yang disiapkan untuk menjaga momentum pertumbuhan pasar modal Indonesia.

Direktur Utama BEI Iman Rachman menyampaikan, pengembangan tersebut diarahkan untuk membangun pasar modal yang semakin inovatif, transparan, inklusif, serta memiliki keterhubungan global. Ia berharap upaya ini dapat memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Melalui Master Plan BEI 2026-2030, kami menetapkan tujuan besar pada tahun 2030, yaitu membangun pasar modal Indonesia yang semakin inovatif, transparan, inklusif, dan terhubung secara global. Harapannya Indonesia dapat masuk ke jajaran Top 10 Bursa Dunia berdasarkan kapitalisasi pasar atau nilai transaksi, sekaligus memberikan manfaat optimal bagi investor, emiten, dan perekonomian nasional,” kata Iman dalam sambutannya pada acara pembukaan perdagangan perdana pasar modal Indonesia 2026, Jumat (2/1/2026).

Dalam mendukung target tersebut, BEI juga menetapkan sejumlah asumsi dan sasaran untuk tahun 2026. Dari sisi transaksi, Bank Indonesia mengasumsikan Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) pada 2026 sebesar Rp 15 triliun. Sementara dari sisi pencatatan, BEI menargetkan total 555 pencatatan efek sepanjang 2026, termasuk 50 saham baru.

Tambah 2 Juta Investor Baru

Selain itu, BEI menargetkan pertumbuhan jumlah investor pasar modal Indonesia dengan menambah 2 juta investor baru pada 2026 melalui pemanfaatan berbagai kanal distribusi informasi.

Iman menegaskan, pencapaian visi jangka panjang tersebut memerlukan dukungan dan kolaborasi dari seluruh stakeholder pasar modal.

“Kami percaya agar terwujud visi ini dibutuhkan sinergi seluruh stakeholder, untuk itu kami sangat mengharapkan dukungan dan kolaborasi dari emiten, anggota bursa, dan seluruh pemangku kepentingan agar Master Plan BEI 2026-2030 dapat terlaksana dengan baik dan memberikan manfaat yang nyata bagi pasar modal Indonesia,” pungkasnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |