Kisah Kemiskinan dari Kudus: Anak 9 Tahun Berat Badan 55 Kg, Tak Bisa Jalan, Tak Sekolah

1 month ago 38

Liputan6.com, Kudus - Kisah keluarga terhimpit kemiskinan terjadi di Kudus. Pasangan suami istri Kasiyan dan Mufiha, warga Desa Prambatan Kidul, Kabupaten Kudus Jawa Tengah ini, tak mampu memberikan pengobatan terbaik bagi putri sulungnya.

Zafira Nur Abida, demikian nama putri Kasiyan dan Mufiha ini menderita yang mengalami obesitas, akibat riwayat cerebral palsy sejak kecil.

Zafira yang kini berusia 9 tahun ternyata memiliki berat badan 55 kilogram. Berat badan Zafira jauh di atas ideal untuk anak seusianya yang seharusnya berkisar 25–30 kilogram.

Kondisi yang dialami Zafira pun sangat memprihatinkan. Ia tak mampu beraktivitas, karena persendian di kedua lututnya tidak normal hingga mengakibatkan tidak bisa berjalan.

Sehari-hari, Zafira hanya bisa beraktifitas di tempat tidur atau duduk di lantai. Mirisnya lagi, bocah berusia 9 tahun ini tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah.

Penderitaan yang menimpa Zafira, berawal dari riwayat Protosio Acetabulli. Selain itu, akibat mengalami Delay Motorik kasar atau kelainan langka pada pinggul- dimana kepala tulang paha menonjol ke rongga panggul melewati garis illioischal yang normal sejak lahir.

Riwayat tersebut membuat putri ke empat pasutri Kasiyan dan Mufiha mengalami keterlambatan pertumbuhan. Ia juga mengalami obesitas berat badan karena minim aktivitas.

Selama 4 tahun ke belakang, kondisi kesehatan Zafira pun tidak terkontrol. Sebab keterbatasan biaya kedua orang tuanya, menjadi alasan tidak mampu membawa Zafira berobat.

Bantuan Datang

Nestapa yang dialami Zafira bocah asal Desa Prambatan Kidul ini, akhirnya sampai di telinga oleh Wakil Bupati (Wabup) Bellinda Putri Sabrina Birton.

Wabup perempuan berlatar Sarjana Kedokteran ini, mengaku mengetahui kondisi Zafira dari aduan warga melalui pesan pribadi di media sosial milik Bellinda.

Bellinda pun bergegas meninjau kondisi Zafira di rumahnya pada Senin (29/9/2025) sore. Ia ditemani Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus dan Kepala Puskesmas Kaliwungu Kudus.

Tak hanya datang melihat, Bellinda juga mengantar Zafira Nur Abida untuk dirujuk ke Poli Spesialias Anak di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus.

“Anak (Zafira) tersebut, diketahui mengalami keterlambatan tumbuh kembang, tidak dapat berjalan, serta tidak bersekolah karena keterbatasan fisik,” ujar Wabup Bellinda.

Menurut Bellinda, berat badan Zafira kini mencapai 55 kilogram dan jauh di atas ideal berat badan untuk anak seusianya yang berkisar 25–30 kilogram.

"Sore ini, kami ke rumah orang tua Zafira setelah menerima laporan dari warga. Kondisinya memang memerlukan perhatian serius. Dulu sempat rutin berobat, tapi empat tahun terakhir berhenti karena terkendala biaya," tutur Bellinda.

Di hadapan kedua orang tua Zafira, Bellinda memastikan bahwa Pemkab Kudus siap menanggung biaya perawatan selama berada di RSUD Loekmonohadi Kudus.

“Alhamdulillah, keluarga Zafira setuju untuk kami bawa ke rumah sakit agar kembali dipantau oleh dokter. Zafira memerlukan pendampingan khusus dalam pendidikan dan psikologis,” tukas Bellinda.

Bellinda berharap kasus obsitas yang diderita Zafira, menjadi pembelajaran bersama bagi masyarakat Kudus akan pentingnya edukasi kesehatan sejak dini.

Ia menyebut, bahwa obesitas bukan hanya soal makan berlebih saja, namun juga minimnya aktivitas dan pengetahuan gizi.

“Karena itu, kami mendorong masyarakat memanfaatkan Posyandu, Puskesmas, serta program kesehatan pemerintah agar anak-anak tumbuh sehat," pinta wabup berusia 26 tahun ini.

Dengan dukungan pembiayaan kesehatan gratis dari Pemkab Kudus, kata Bellinda, proses perawatan Zafira diharapkan bisa berjalan berkesinambungan. Dengan demikian, anak tersebut bisa kembali memiliki kesempatan beraktivitas normal dan menempuh pendidikan.

“Kami akan coba fasilitasi agar tetap mendapat hak pendidikan. Pemerintah siap bantu, semuanya gratis. Jangan sampai ada warga yang tidak tertangani hanya karena faktor biaya,” terang Bellinda.

Tidak Bisa Berjalan Sejak Lahir

Di lain sisi, Suparman yang juga pengasuh Zafira mengungkapkan, kondisi yang dialami anak tetangganya itu sudah dialami sejak lahir.

“Sudah sembilan tahun tidak bisa jalan. Zafira ini anak terakhir dari empat bersaudara, kakak-kakaknya normal semua. Sehari-hari makan normal tiga kali, tapi karena tidak bisa aktivitas, badannya jadi gemuk,” ucap Suparman.

Suparman menceritakan bahwa orang tua Zafira bekerja serabutan dan sering kesulitan mengurus anaknya. Karena itu, Suparman bersama istrinya ikut membantu merawatnya sehari hari.

Sementara itu, Dokter spesialis anak RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, dr. Arief Faiza, Sp.A, membenarkan bahwa Zafira memang membutuhkan penanganan komprehensif.

Arief menyebut bahwa kasus yang dialami Zafira tidak bisa ditangani satu bidang saja. Namun harus berkolaborasi antara dokter anak, ortopedi, gizi klinik, saraf, rehabilitasi medik, serta psikolog. Karena selain masalah fisik, juga ada aspek emosional yang perlu diperhatikan.

Kondisi obesitas pada anak dengan cerebral palsy rentan, kata Arief, rawan menimbulkan sindrom metabolik seperti hipertensi, diabetes dan gangguan kolesterol.

“Semua ini bisa diminimalisir kalau ada pendampingan rutin. Dengan rujukan ini, kami akan mulai lagi proses pemantauan secara berkala kepada Zafira,” tutupnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |