IPO Perusahaan AI Melejit di China, Investor Asing Masih Sulit Ikut Berpartisipasi

3 months ago 58

Liputan6.com, Jakarta - Penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di China tengah mengalami lonjakan besar dan mencetak keuntungan signifikan. Saham MetaX Integrated Circuits melonjak hampir 700% saat debut di Bursa Shanghai, sementara Moore Threads naik lebih dari 400% pada hari pertama perdagangan.

Tingginya minat investor domestik terhadap saham teknologi membuat peluang ini sulit diakses oleh investor asing. Investor ritel luar negeri secara umum tidak diperbolehkan mengikuti IPO di pasar China daratan. 

"Hal ini bahkan tidak mungkin dilakukan. Kecuali mereka membuka rekening di broker China," kata Direktur Eksekutif China Fortune Securities Company Chris Zhang, dikutip dari CNBC International, Selasa (23/12/2025).

Pembukaan rekening pialang domestik mensyaratkan kepemilikan rekening bank China, yang biasanya membutuhkan bukti tinggal atau visa jangka panjang.

Selain itu, investor asing juga harus sudah memiliki saham A-share sebelum dapat mengikuti undian IPO. Hambatan lainnya, sebagian besar bank asing tidak memiliki kerja sama dengan pialang China, sehingga proses ini sulit dilakukan investor ritel luar negeri.

Panduan resmi Pemerintah Kota Shanghai menyebutkan hanya kelompok tertentu warga asing yang bisa membuka rekening saham A, seperti penduduk tetap, pekerja di China, atau karyawan luar negeri dengan skema insentif saham.

Bagi investor global, Stock Connect menjadi jalur paling umum untuk mengakses saham China melalui Hong Kong. Namun, skema ini tidak memberikan akses langsung ke IPO atau saham yang baru tercatat. 

"Stock Connect tidak berfungsi karena saham-saham yang baru dicatatkan belum termasuk dalam Stock Connect. Biasanya diperlukan waktu beberapa minggu hingga bulan jika saham tersebut memenuhi syarat," ujar Kepala Investasi Skybound Capital, Theodore Shou.

Masuknya saham ke Stock Connect bergantung pada syarat tertentu, seperti nilai pasar dan likuiditas, yang membutuhkan rekam jejak perdagangan. Karena itu, akses investor asing ke saham baru sering tertunda.

Eksposure Investor Retail

Investor ritel asing masih dapat memperoleh eksposur terbatas melalui dana luar negeri yang berinvestasi pada saham A dan biasanya ikut serta dalam IPO STAR Market. STAR Market sendiri merupakan papan teknologi di Shanghai yang berfokus pada sektor strategis seperti semikonduktor dan AI, dengan aturan akses yang lebih ketat bagi investor asing. 

“Namun, partisipasi tersebut bersifat tidak langsung, sangat terbatas, dan sebagian besar tidak berarti,” kata Shou, karena porsi IPO dalam dana relatif kecil.

Sementara itu, investor institusi besar dapat berpartisipasi langsung melalui skema Qualified Foreign Institutional Investor (QFII). Program ini memungkinkan institusi global tertentu berinvestasi di saham domestik China, termasuk IPO, tetapi tidak ditujukan bagi investor individu. Pesertanya mencakup bank investasi besar dan bank sentral.

Skema QFII dan RQFII mewajibkan persetujuan regulator, penunjukan kustodian dalam negeri, serta registrasi valuta asing. Meski tidak menetapkan batas minimum aset secara eksplisit, pemohon harus memiliki kondisi keuangan yang kuat, tata kelola yang baik, dan rekam jejak kepatuhan yang bersih.

China Siap Tindak Tegas Penyebar Hoaks di Pasar Saham

Sebelumnya, Otoritas sekuritas China berencana meningkatkan pengawasan terhadap berita palsu di pasar saham yang semakin marak akibat penggunaan kecerdasan buatan (AI). 

Menurut laporan media pemerintah, regulator akan bekerja sama dengan kepolisian dan otoritas dunia maya untuk menindak tegas para pelaku penyebaran informasi menyesatkan yang dapat merugikan investor.

Dilansir dari Yahoo Finance, Senin (17/3/2025), Securities Times melaporkan pengawas sekuritas akan menerapkan kebijakan "menindak lebih awal, menindak tegas, dan menindak langsung" guna mencegah penyebaran berita palsu yang dapat memanipulasi pasar. 

Shanghai Securities News menambahkan AI kini menjadi alat baru untuk menciptakan dan menyebarkan informasi yang menyesatkan. Pelaku pasar yang kurang berhati-hati bisa terjebak dalam janji investasi menggiurkan yang ternyata hanya manipulasi belaka.

Kemunculan DeepSeek

Tren ini semakin terlihat dengan munculnya perusahaan AI China seperti DeepSeek, yang membuat investor ritel dan manajer dana mulai mengandalkan AI untuk mengevaluasi perusahaan dan mengambil keputusan investasi. 

Namun, penggunaan teknologi ini juga menimbulkan risiko besar, terutama jika investor terjebak oleh informasi palsu yang dibuat oleh AI.

Sebagai langkah pencegahan, Komisi Pengawasan Sekuritas Tiongkok akan lebih aktif dalam mengklarifikasi rumor yang beredar di pasar saham. Securities Times menegaskan bahwa regulator akan memperkuat edukasi serta panduan bagi investor untuk meningkatkan kesadaran mereka terhadap informasi yang tidak valid.

Langkah ini diumumkan bertepatan dengan peringatan Hari Hak Konsumen Sedunia pada 15 Maret, sebuah momentum tahunan yang dimanfaatkan oleh pemerintah China untuk meningkatkan kesadaran akan perlindungan konsumen, termasuk dalam dunia investasi.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |