IHSG Fluktuatif di Tengah Tekanan, Deretan Saham Ini Layak Dicermati

3 months ago 48

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pergerakan fluktuatif sepanjang perdagangan saham pada periode 8–12 Desember 2025 dengan kecenderungan melemah.  Meski demikian, IHSG sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High) di level 8.777, diiringi aksi beli bersih investor asing (net buy) senilai Rp 892 miliar.

Selama sepekan terakhir, sebanyak enam sektor berhasil mencatatkan penguatan, sementara sektor lainnya mengalami koreksi. Sektor energi menjadi pendorong utama kinerja IHSG dengan kenaikan tertinggi sebesar 6,49%. 

Penguatan ini terutama ditopang oleh lonjakan saham BUMI yang melonjak sekitar 54,62%, seiring spekulasi pelaku pasar terkait peluang besar saham tersebut untuk masuk ke dalam indeks MSCI Standard Cap. Saat ini, saham BUMI telah tercatat dalam MSCI IMI dan MSCI Small Cap Index.

Retail Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Indri Liftiany Travelin Yunus menyebutkan pergerakan IHSG pada pekan lalu tertopang sejumah sentimen yakni The Fed yang memangkas suku bunga -25bp ke level 3,50%-3,75% (inline dengan estimasi) di tengah perbedaan pendapat internal dengan voting 9-3. Selain itu, ada juga sentimen JOLTs Job Opening Amerika Serikat bulan Oktober yang naik tipis ke level 7,670 jt (vs. September 7,658 jt)

Dari dalam negeri, pasar turut dipengaruhi oleh meningkatnya Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia pada November ke level 124, dibandingkan Oktober yang berada di posisi 121,2. 

Selain itu, sentimen positif juga datang dari rencana pertemuan perwakilan dagang Amerika Serikat, Jamieson Greer, dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada pekan ini, guna menyelamatkan kesepakatan dagang yang terancam gagal akibat dugaan penundaan realisasi komitmen penghapusan hambatan non-tarif oleh Indonesia.

Saham yang Dapat Dicermati

Adapun proyeksi market pekan ini (15-19 Desember 2025), Indri mengimbau para trader dan investor untuk memantau sejumlah sentimen kunci mulai dari Non Farm Payrolls Amerika Serikat Oktober dan November yang akan dirilis bersamaan dengan forecast terjadi penurunan drastis hingga level 55.000.

JPFA

Buy JPFA (Current Price: 2.640, Entry: 2.640, Target Price: 2.800 (+6,1%), Stop Loss: < 2.560 (-3,0%) dan Risk to Reward Ratio = 1:2,0). Indri menyebut PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) membentuk pattern bullish falling wedge dan berada dalam kondisi low risk sehingga layak buy.

MEDC

Buy on Breakout MEDC (Current Price: 1.315, Entry: 1.340, Target Price: 1.445 (+7,8%), Stop Loss: < 1.290 (-3,7%) dan Risk to Reward Ratio = 1:2,1). Menurut Indri, Saham PT Medco Energi Internasional Tbk secara teknikal candlesticknya membentuk marubozu dan kini telah terjadi inflow, sehingga potensi breakout cukup besar.

INKP

Buy INKP (Current Price: 8.200, Entry: 8.200, Target Price: 8.800 (+7,3%) dan Stop Loss : < 8.000 (-2,4%) dan Risk to Reward Ratio = 1:3,0). Indri menuturkan, secara teknikal saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) telah memperlihatkan adanya technical reborn dan menariknya net profit pada 9M25 naik 44,15% karena penurunan beban lain-lain.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Kinerja IHSG pada 8-12 Desember 2025

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis pada perdagangan saham 8-12 Desember 2025. Kenaikan IHSG sepekan didorong rilis data makro China hingga the Federal Reserve (the Fed) pangkas suku bunga.

Adapun pada awal pekan, tepatnya 8 Desember 2025, IHSG dan kapitalisasi pasar mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah masing-masing pada level 8.710,69 dan sebesar Rp 16.004 triliun.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (13/12/2025), IHSG naik 0,32% dan ditutup ke level 8.660,49 selama sepekan ini. Kenaikan IHSG ini menyusut dari pekan lalu. IHSG pekan lalu melonjak 1,46% ke posisi 8.632,76.

Kapitalisasi pasar BEI juga menguat 0,24% menjadi Rp 15.882 triliun dari pekan lalu Rp 15.844 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG menguat 0,32% tetapi disertai oleh munculnya tekanan jual. Pihaknya menyebutkan sejumlah sentimen yang mempengaruhi IHSG sepekan. Pertama, rilis data makro China seperti neraca dagang yang relatif meningkat. Kedua, rilis data pekerjaan Amerika Serikat (AS) yang melemah, tetapi tetap terjadi ada pemangkasan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) menjadi 3,75% meski data makro AS dikatakan belum stabil menurut ketua the Fed Jerome Powell.

Sentimen IHSG Lainnya

"Faktor ketiga, penguatan harga komoditas emas global yang berpengaruh postiif ke emiten emas,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

 Kenaikan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian BEI dengan peningkatan sebesar 41,95% menjadi Rp 30,28 triliun dari Rp 21,34 triliun pada pekan lalu.

Peningkatan juga dialami rata-rata volume transaksi harian bursa pekan ini sebesar 27,92% menjadi 59,35 miliar saham dari pekan lalu 46,39 miliar saham. Rata-rata frekuensi transaksi harian meningkat 20,16% menjadi 3,2 juta kali transaksi dari 2,66 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Selama sepekan, investor asing beli saham Rp 1,42 triliun. Aksi beli saham oleh investor asing ini lebih kecil dibandingkan pekan lalu mencapai Rp 2,48 triliun.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |