IATA Gandeng Anak Usaha UNTR Garap Proyek Pertambangan, Segini Nilainya

3 months ago 63

Liputan6.com, Jakarta - PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) melalui anak usaha PT Arthaco Prima Energy (APE) resmi menjalin kerja sama pertambangan batu bara dengan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining), anak usaha United Tractors.

Ruang lingkup kerja sama tersebut meliputi jasa pertambangan batu bara dan kegiatan pengupasan lapisan penutup (waste removal). Adapun perjanjian kerja sama dilakukan pada Selasa, (23/12/2025).

Perjanjian ini memiliki jangka waktu lima tahun terhitung mulai Januari 2026 dengan nilai kontrak sebesar Rp 5 triliun, di mana KPP Mining akan bertindak selaku kontraktor jasa pertambangan di wilayah izin usaha pertambangan operasi produksi (IUP-OP) APE yang berlokasi di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Adapun selama masa kontrak, target produksi batu bara ditetapkan mencapai 33,6 juta metrik ton (MT) dengan target produksi pada tahun pertama 2026 sebesar 3 juta MT atau dengan total volume material yang akan dikelola selama periode kerja sama mencapai 140,9 juta bank cubic meter (BCM).

“Kerja sama ini merupakan salah satu wujud nyata IATA dalam memperkuat operasional, meningkatkan efektivitas dan efisiensi serta memaksimalkan skala produksi batu bara melalui IUP Arthaco Prima Energy yang telah memasuki fase produksi komersial,” ujar Direktur Utama IATA, Suryo Eko Hadianto dalam keterbukaan informasi BEI, Selasa (23/12/2025).

Ia menuturkan, melalui kolaborasi strategis dengan pelaku industri pertambangan terkemuka, pihaknya yakin kinerja operasional IATA dapat semakin optimal, berkelanjutan dan bernilai tambah.

Sementara itu, Presiden Direktur KPP Mining, Wahyu Widaryanto menuturkan, KPP Mining berkomitmen untuk menyediakan layanan jasa pertambangan yang andal dan terintegrasi.

“Kerja sama ini menambah nilai strategis kami dalam memperluas portofolio proyek, sekaligus mengoptimalkan kapabilitas operasional KPP Mining,” kata dia.

Gerak Saham

Ia mengatakan, pihaknya senantiasa menjunjung keunggulan operasional melalui penerapan standar keselamatan yang tinggi, praktik pertambangan berkelanjutan serta pengembangan kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan.

Pada penutupan perdagangan saham Selasa pekan ini, saham IATA ditutup naik 5,26% ke posisi Rp 140 per saham. Harga saham IATA dibuka menguat dua poin ke posisi Rp 135 per saham. Saham IATA berada di level tertinggi Rp 142 dan level terendah Rp 131 per saham. Total frekuensi perdagangan 4.432 kali dengan volume perdagangan 1.347.596 saham. Nilai transaksi Rp 18,6 miliar.

Sementara itu, harga saham UNTR melemah 0,58% ke posisi Rp 29.800 per saham. Harga saham UNTR dibuka turun ke posisi Rp 29.850 per saham dari penutupan sebelumnya Rp 29.975. Saham UNTR berada di level tertinggi Rp 30.250 dan level terendah Rp 29.675 per saham. Total frekuensi perdagangan 3.042 kali dengan volume perdagangan saham 25.610 saham. Nilai transaksi Rp 76,4 miliar.

OJK Restui Rights Issue IATA, Catat Jadwal Eksekusinya

Sebelumnya, PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) atau telah memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tanggal 20 Februari 2025, untuk melaksanakan Penawaran Umum Terbatas III dengan mekanisme Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

Dalam aksi korporasi ini, IATA akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 20.190.596.389 saham Seri B, atau sebesar 44,44% dari total modal disetor setelah PUT III.

Rasio pembagian dalam rights issue ini adalah 5:4. Artinya, setiap lima saham lama akan mendapatkan empat HMETD). Selanjutnya, setiap 1 HMETD berhak untuk membeli 1 saham baru yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan pemesanan pelaksanaan HMETD.

"Dengan harga eksekusi HMETD sebesar Rp 63 per saham, IATA menargetkan penghimpunan dana segar hingga Rp 1,27 triliun. Seluruh dana yang diperoleh setelah dikurangi dengan biaya-biaya emisi terkait, akan digunakan sebagai modal kerja Perseroan termasuk untuk melakukan trading batu bara," ungkap Investor Relations PT MNC Energy Investments Tbk, Gladys Levina dalam keterangan resmi, Jumat (21/2/2025).

Prospek Usaha Batu Bara

Perseroan meyakini bahwa bisnis batu bara akan terus berkembang positif pada tahun 2025, didukung oleh permintaan yang stabil dan strategi operasional yang efisien, meskipun dihadapkan pada fluktuasi harga, kenaikan biaya bahan bakar, tarif royalti, peraturan terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang baru, serta biaya operasional lainnya.

Batu bara merupakan sumber energi terjangkau dan bahan bakar utama untuk sektor kelistrikan di beberapa negara besar seperti China dan India. Badan Energi Internasional (IEA) memprediksi permintaan batu bara global akan mencapai 8.801 juta ton pada 2025 atau bertambah 0,34% dibandingkan tahun 2024.

China sebagai konsumen batu bara terbesar dunia, diproyeksikan akan mengonsumsi sebesar 4.940 juta ton (56%), sedangkan India sebagai konsumen batu bara terbesar kedua diperkirakan mencapai konsumsi sebesar 1.363 juta ton (15%) pada 2025.

Batu Bara

Di Indonesia, batu bara masih menjadi pondasi utama dalam bauran energi, terutama dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional, di mana 67% pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan batu bara sebagai sumber energi.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan produksi batu bara Indonesia mencapai 735 juta ton pada 2025, meningkat dari target 2024 sebesar 710 juta ton.

Dari total target produksi 2025, sekitar 240 juta ton dialokasikan untuk kebutuhan domestik, sementara 495 juta ton ditujukan untuk pasar ekspor. Di tahun 2024, ekspor menyumbang 66,8% dari total penjualan batu bara IATA. Dari seluruh penjualan ekspor tersebut, India menempati urutan pertama dengan 35,5%, diikuti oleh China sebesar 20,3%, Vietnam 10%, dan negara-negara lainnya 1%.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |