Hartadinata (HRTA) Optimistis Sambut 2026, Industri Emas Nasional Masuk Fase Baru

3 months ago 61

Liputan6.com, Jakarta - Prospek industri emas Indonesia dinilai memasuki fase baru menjelang 2026. Momentum ini ditopang oleh tren global dan kebijakan domestik yang semakin menekankan penguatan nilai tambah di dalam negeri. Kondisi tersebut turut menjadi peluang strategis bagi PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) sebagai salah satu pelaku utama industri emas nasional.

Direktur Investor Relations Hartadinata, Thendra Crisnanda, menyebut harga emas dunia hingga akhir 2025 masih bertahan di level tinggi. Kondisi ini didorong oleh pembelian agresif bank sentral global, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

“Kami melihat emas semakin diposisikan sebagai aset strategis jangka panjang, bukan hanya instrumen lindung nilai saat krisis. Permintaan yang kuat dari bank sentral dan investor global menunjukkan adanya pergeseran cara pandang terhadap emas, terutama di tengah meningkatnya tekanan utang dan ketidakpastian ekonomi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (22/12/2025).

Laporan World Gold Council dan Reuters mencatat bank sentral dunia masih melanjutkan pembelian emas dalam volume besar hingga akhir 2025. Di Amerika Serikat, lonjakan utang pemerintah yang terus meningkat memperkuat daya tarik emas sebagai penyimpan nilai jangka panjang, sekaligus menopang prospek industri emas global.

Kebijakan Pajak Ekspor Emas

Di dalam negeri, arah kebijakan pemerintah turut mendukung penguatan industri emas nasional. Pemerintah Indonesia menetapkan kebijakan pajak ekspor emas yang akan berlaku mulai 2026, dengan tarif 7,5 persen hingga 15 persen, bergantung pada tingkat pemrosesan dan harga emas global.

Hartadinata menilai kebijakan ini berpotensi mempercepat pembentukan ekosistem emas nasional yang lebih seimbang. Dorongan peningkatan pemrosesan emas di dalam negeri dinilai sejalan dengan kebutuhan industri saat ini.

“Dorongan untuk meningkatkan pemrosesan emas di dalam negeri sejalan dengan kebutuhan industri saat ini. Dengan rantai pasok yang lebih kuat, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan menciptakan nilai tambah yang lebih besar,” jelas Thendra.

Sebagai perusahaan emas terintegrasi, Hartadinata memfokuskan bisnisnya pada pasar domestik. Hingga kuartal III-2025, porsi ekspor perseroan tercatat hanya sekitar 0,39 persen, seiring pengembangan ekosistem Bullion Bank dan peningkatan kapasitas fasilitas refinery untuk mendukung kebutuhan dalam negeri.

Harga Emas

Dari sisi harga, emas masih sangat dipengaruhi kebijakan moneter global. Per 22 Desember 2025, harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi di level USD 4.400 per ons, naik 3,97 persen secara bulanan. Sementara harga emas dalam Rupiah mencapai Rp 2.374.443 per gram, menguat 4,7 persen secara month to date.

Kenaikan harga ini dipicu pemangkasan suku bunga The Fed yang menurunkan real yield ke kisaran 3,50–3,75 persen. Di sisi lain, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Kombinasi penurunan suku bunga AS dan fluktuasi Rupiah membuat harga emas dalam negeri menguat lebih tinggi, sekaligus menjaga daya tariknya sebagai aset lindung nilai. Hartadinata menilai emas akan tetap relevan sepanjang 2026, seiring dinamika kebijakan moneter global.

“Dengan berbagai faktor tersebut, kami melihat emas akan tetap relevan sebagai aset strategis. Fokus kami ke depan adalah memastikan kesiapan operasional dan ekosistem agar dapat menangkap peluang pertumbuhan secara berkelanjutan di tengah perubahan struktural industri emas,” tutup Thendra.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |