Data Ekonomi AS hingga The Fed Bayangi Wall Street Pekan Ini

3 months ago 54

Liputan6.com, Jakarta - Setelah pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi oleh Federal Reserve (the Fed), perhatian kemungkinan akan terfokus pada manuver seputar ketua the Fed berikutnya untuk menggantikan Jerome Powell. Pada laporan Jumat malam pekan lalu menunjukkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melihat Kevin Hassett atau Kevin Warsh akan ditunjuk untuk posisi tersebut.

Kalender ekonomi minggu ini juga akan terus membahas data yang tertunda akibat penutupan pemerintah. Laporan pekerjaan November dijadwalkan rilis pada Selasa dan data inflasi November akan dirilis Kamis pagi.

Dari korporasi, pelaku pasar pada Rabu akan menghadapi laporan hasil kuartalan Micron (MU), sementara pada Kamis akan mendapatkan hasil dari Accenture (ACN), NIKE (NKE), FedEx (FDX), dan pemilik Olive Garden, Darden Restaurants (DRI).

Mencari Pengganti Jerome Powell

Pemangkasan suku bunga seperempat poin oleh Komite Pasar Terbuka Federal pada Rabu menandai pemangkasan suku bunga ketiga pada 2025. Hal yang paling kontroversial tahun ini di antara komite, dengan tiga suara menentang yang terbagi di kedua sisi langkah tersebut.

Kini, perhatian pasar beralih ke potensi pemotongan suku bunga pada 2026, The Fed memproyeksikan hanya satu, dan drama seputar siapa yang akan dipilih Presiden Trump untuk menggantikan Ketua Jay Powell ketika masa jabatannya berakhir pada Mei.

Pasar taruhan menunjukkan Kevin Hassett, direktur Dewan Ekonomi Nasional, sebagai favorit utama. Polymarket memberinya peluang 73% untuk mendapatkan nominasi pada Jumat pagi.

Sebuah laporan pada Jumat sore dari Wall Street Journal menempatkan Kevin Warsh, mantan anggota dewan Gubernur The Fed, kembali dalam persaingan. "Saya pikir Anda memiliki Kevin dan Kevin. Mereka berdua — saya pikir kedua Kevin hebat," kata Trump kepada Journal. "Saya pikir ada beberapa orang lain yang hebat."

Sentimen Lainnya

Setelah laporan itu, peluang Hassett dan Warsh agak mendekat, dengan Hassett memiliki peluang mendekati 57% untuk mendapatkan nominasi sementara Warsh berada di angka 39%. Sebelum laporan tersebut, Warsh diperkirakan memiliki peluang sekitar 15% untuk mendapatkan nominasi.

Analis Macquarie, Therry Wizman menuturkan, Warsh dan Hassett sama-sama dipandang sebagai pihak yang cenderung mendukung preferensi Trump untuk suku bunga yang lebih rendah.

"Ekspektasi ini telah membantu memperkuat sekeranjang mata uang internasional terhadap dolar AS karena pasar valuta asing memperhitungkan dampak dari sekutu Trump yang memimpin The Fed, ujar Thiery.

Whizman menuturkan, bukan hanya prospek Hassett yang menyebabkan USD melemah terhadap mata uang lain, tetapi sifat reli valuta asing yang luas dalam beberapa hari terakhir menunjukkan kepada pelaku pasar hal itu kemungkinan juga didorong oleh berita seputar pemimpin The Fed berikutnya.

Sementara itu, dari Eropa, Bank Sentral Eropa akan gelar pertemuan terakhir pada 2025, dan pertemuan puncak Uni Eropa di Brussels pada Kamis pekan ini. Para pemimpin Eropa diharapkan membahas tantangan paling mendesak mengenai kondisi di Ukraina.

Wall Street Tergelincir Usai Investor Lepas Saham Teknologi

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan saham Jumat, 12 Desember 2025. Koreksi wall street terjadi seiring investor terus keluar dari saham teknologi dan beralih ke sektor-sektor bernilai di pasar.

Mengutip CNBC,  Sabtu (13/12/2025), indeks S&P 500 melemah 1,07% dan berakhir ke posisi 6.827,41. Indeks Nasdaq terpangkas 1,69% menjadi 23.195,17. Indeks Dow Jones merosot 245,96 poin atau 0,51% menjadi 48.458,05 setelah mencetak rekor tertinggi intraday baru pada awal sesi perdaganagn.

Indeks Russell 2000 susut 1,51% menjadi 2.551,46. Namun, indeks saham sempat mencapai rekor tertinggi baru selama perdagangan saham.

Selama sepekan, indeks S&P 500 dan Nasdaq membukukan koreksi terbesar. Indeks S&P 500 susut 0,6% dan indeks Nasdaq melemah 1,6%. Akan tetapi, indeks Dow Jones naik 1,1% dalam sepekan.

Sementara itu, perusahaan-perusahaan berkapitalisasi kecil mengungguli perusahaan-perusahaan berkapitalisasi besar, dengan indeks Russell 2000 naik 1,2% minggu ini setelah mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa dan penutupan perdagangan pada Kamis.

Saham Broadcom Merosot 11%

Adapun indeks saham Nasdaq melemah seiring saham Broadcom yang terpangkas lebih dari 11%. Analis menilai koreksi saham Broadcom didorong kekhawatiran tekanan margin. Hal itu terjadi bahkan setelah perseroan melampaui harapan kuartal keempat dan memberikan perkiraan yang kuat untuk kuartal saat ini. Perseroan menyatakan, penjualan chip kecerdasan buatan akan berlipat ganda.

Saat perdagangan, saham terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence menghadapi lebih banyak tekanan. Saham AMD, Palantir Technologies dan Micron mengalami sejumlah koreksi bersama Broadcom. Sektor saham lain yakni sektor keuangan, perawatan kesehatan dan industri menerima sedikit dorong. Di sektor-sektor tersebut, saham Visa, Mastercard, UnitedHealth Group, dan GE Aerospace menjadi pemenang.

“Hari ini adalah hari di mana saham bernilai mengungguli saham pertumbuhan atau growth stock,” ujar Portfolio Manager Argent Capital Management, Jed Ellerbroek dikutip dari CNBC.

“Investor jelas waspada terkait AI, bukan pesimistis secara langsung, tetapi lebih berhati-hati, gugup dan ragu-ragu,” ia menambahkan.

Langkah Investor

Aksi Jumat menandai hari lain dari perdagangan rotasi, karena investor pada Kamis membanjiri saham siklikal yang dianggap lebih sensitif terhadap ekonomi sambil mengambil keuntungan dari saham berorientasi pertumbuhan yang terkait dengan perdagangan AI. Langkah ini diambil setelah Federal Reserve pada Rabu memangkas suku bunga untuk ketiga kalinya tahun ini.

Kenaikan saham Visa dan UnitedHealth, bersama dengan saham lainnya seperti Nike, mendorong Dow Jones untuk ditutup pada rekor tertinggi pada sesi sebelumnya. Indeks S&P 500 juga mencatatkan penutupan tertinggi baru, sementara Nasdaq berakhir lebih rendah karena saham-saham teknologi yang sedang naik daun seperti Alphabet dan Nvidia turun.

"Hal yang sama tidak akan berkinerja lebih baik di pasar bulan demi bulan selamanya, jadi ini normal,” kata Ellerbroek.

"Ini sudah diperkirakan, tetapi tidak beralasan.”

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |