Dampak Tarif AS-Indonesia 19%: Sektor Apa yang Paling Diuntungkan dan Dirugikan?

1 month ago 43

Liputan6.com, Jakarta - Kesepakatan tarif resiprokal antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia sebesar 19% dinilai membawa dampak beragam terhadap sektor-sektor di pasar modal. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, memetakan ada sektor yang berpotensi diuntungkan, tetapi tidak sedikit pula yang menghadapi tekanan.

Menurut Nafan, kepastian angka tarif menjadi faktor penting bagi investor dalam membaca arah pasar. Dari sisi sektor yang berpotensi diuntungkan, ia menyoroti energi, khususnya komoditas konvensional seperti batu bara dan gas. Preferensi kebijakan energi di AS dinilai dapat membuka peluang bagi emiten-emiten energi nasional.

Sektor Diuntungkan

"Kalau misalnya jika untuk yang beneficial sector, pasti energy ya karena Trump juga menyukai energi konvensional seperti batu bara, maupun juga gas. Seperti itu, jadi benefit ya kalau untuk emiten-emiten sektor ini,” ujar Nafan kepada Liputan6.com, Jumat (20/2/2026).

Selain itu, crude palm oil (CPO) disebut termasuk komoditas yang dikecualikan dari penetapan tarif. Kondisi ini dinilai memberi peluang bagi produk sawit Indonesia untuk tetap kompetitif di pasar AS, terlebih CPO dianggap lebih efisien dibandingkan sejumlah minyak nabati lain.

Sektor keuangan, terutama perbankan, juga dinilai berada dalam posisi relatif solid. Likuiditas perbankan domestik disebut masih memadai sebagai bantalan menghadapi dinamika global, termasuk kebijakan tarif resiprokal AS.

Sektor yang Dirugikan

Sementara itu, sektor yang berorientasi ekspor ke AS berpotensi menghadapi tekanan. Produk tekstil, garmen, serta manufaktur dengan pangsa pasar besar di Negeri Paman Sam dinilai terdampak langsung kebijakan tarif 19%. Sektor perikanan, termasuk udang, juga berisiko tertekan.

Ia juga mengingatkan potensi penurunan volume ekspor Indonesia ke AS seiring tren pelemahan ekspor yang sudah terlihat sebelumnya, yang berdampak pada penyempitan surplus neraca perdagangan meski masih berada di zona positif. 

“Jadi kalau dengan adanya kepastian, dengan angka yang pasti di 19%, tentunya ada mitigasi resikonya, hemat saya demikian. Seperti itu. Yang jelas memang volume ekspor Indonesia ke AS memang bisa menurun, hemat saya demikian,” jelasnya.

Profitabilitas Bisa Tergerus

Pandangan senada disampaikan Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa. Ia menyebut sektor manufaktur berorientasi ekspor ke AS menjadi kelompok yang paling rentan terhadap kebijakan tarif tersebut.

“Sektor yang berpotensi tertekan adalah yang berbasis ekspor manufaktur ke AS seperti tekstil, alas kaki, furnitur, dan komponen elektronik. Profitabilitas mereka bisa tergerus jika tidak bisa mengalihkan beban tarif. Sebaliknya, sektor komoditas seperti batu bara, nikel, CPO, dan energi relatif lebih defensif tidak sepenuhnya bergantung pada pasar AS,” ujarnya.

Dengan demikian, peta dampak tarif 19% terhadap pasar modal domestik dinilai akan sangat bergantung pada eksposur masing-masing sektor terhadap pasar AS, serta kemampuan emiten dalam melakukan diversifikasi pasar dan efisiensi biaya.

Indonesia Resmi Teken Tarif Resiprokal AS 19 Persen, Ribuan Produk Diatur

Sebelumnya, Indonesia resmi menanyepakati perjanjian perdagangan dengan tarif resiprokal 19 persen dengan Amerika Serikat (AS). Ada 1.819 pos tarif yang diatur dalam kesepakatan dagang kedua negara.

Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Kesepakatan diteken pascaagenda perdana pertemuan Dewan Perdamaian untuk Gaza atau Board of Peace (BoP).

"Indonesia dan Amerika Serikat sepakat untuk memperkuat kerjasama ekonomi," ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam konferensi pers daring, Jumat (20/2/2026).

Dia mengisahkan perjalanan negosiasi yang dimulai sejak April 2025 lalu ketika Donald Trump mengumumkan Indonesia dikenakam tarif resiprokal 32 persen. Negosiasi berujung pada penurynan tarif menjadi 19 persen dengan berbagai ketentuan tambahan lainnya.

"90 persen daripada dokumentasi yang dikirim oleh Indonesia dipenuhi oleh Amerika. Jadi usulan Indonesia dipenuhi oleh Amerika yang tertuang dalam Agreement on Reciprocal Tariff," ucapnya.

Hasilnya, dua Kepala Negara menandatangani ART yang mencakup 1.819 pos tarif. Sebagian komoditas bahkan mendapat pembebasan tarif. "Dalam ART ini ada 1.819 post tarif produk Indonesia baik itu pertanian maupun industri," sambung Menko Airlangga.

Minyak Sawit RI Bebas Tarif Masuk AS

Sebelumnya, sejumlah komoditas pertanian hingga produk manufaktur asal Indonesia tak akan dikenakam tarif bea masuk ke Amerika Serikat (AS). Ada minyak kelapa sawit, kakao, hingga tekstil dan garmen RI yang dibebaskan dari tarif resiprokal AS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan, hal tersebut tertuang dalam Agreement of Reciprocal Trade (ART) yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Total ada, 1.819 pos tarif yang diatur dalam beleid tersebut, minyak sawit, kopi hingga kakao dibebaskan dari tarif.

"Minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang, yang tarifnya adalah 0 persen," ungkap Airlangga dalam konferensi pers daring, Jumat (20/2/2026).

Tekstil dan Garmen Bebas Tarif Bersyarat

Selain komoditas tadi, ada produk lainnya yang juga mendapatkan pembebasan tarif dengan skema berbeda. Yakni, produk tekstil dan garmen asal Indonesia akan mendapat tarif 0 persen dengan kuota tertentu.

"Khusus untuk produk tekstil dan aparel Indonesia, Amerika juga akan memberikan tarif 0 persen dengan mekanisme tarif rate quota atau TRQ," ujarnya.

"Tentunya ini memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor ini, dan kalau kita hitung dengan keluarga, ini sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia," Menko Airlangga Hartarto menambahkan.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |