Cerita Orang Tua di Lampung: Anaknya Ogah Makan Menu MBG, Lebih Lahap Santap Bekal dari Rumah

1 month ago 39

Liputan6.com, Jakarta Program makan bergizi gratis (MBG) yang digadang-gadang pemerintah untuk menunjang gizi pelajar justru menuai kecemasan. Dalam sebulan terakhir, kasus keracunan massal akibat konsumsi MBG mencuat di berbagai daerah di Lampung.

Alhasil, tak sedikit orang tua memilih menyiapkan sendiri menu makan siang demi melindungi buah hati mereka.

Seperti yang diungkapkan Novi (40), warga Bandar Lampung. Sejak awal program MBG digulirkan September 2025 lalu di sekolah anaknya, ia berpesan pada putrinya yang duduk di kelas IV SD untuk tidak menyantap makanan tersebut.

"Anak saya cuma diaduk-aduk saja makanannya, lalu dimasukin ke wadah kosong dan dibawa pulang. Karena khawatir keracunan, saya ajarkan lebih baik dibuang saja kalau tidak dimakan," ujar Novi saat berbincang dengan Liputan6.com, Rabu (1/10/2025).

Lebih Lahap Makan Bekal dari Rumah

Bagi Novi, langkah ini bukan tanpa alasan. Sejak masih TK, putrinya memang terbiasa membawa bekal dari rumah.

Menu pun selalu disiapkan sesuai permintaan sang anak. Mulai dari nasi dengan lauk rumahan, roti isi, hingga spaghetti sederhana.

Semua ia masak sendiri, tanpa membeli makanan siap saji.

“Lebih bersih dan jelas kualitasnya. Anak juga lebih lahap makan bekal buatan sendiri,” tuturnya.

Novi juga sempat dibuat geleng-geleng kepala ketika putrinya pulang membawa buah kelengkeng dari jatah MBG. Jumlahnya hanya tiga butir, itupun dalam kondisi tak segar.

“Kalau buah, saya lebih suka beli sendiri yang masih fresh, potong, simpan di kulkas. Jadi pas dibawa ke sekolah masih segar,” tambahnya.

Cerita serupa datang dari Tomy Saputra (38), warga Kabupaten Pesawaran. Kedua anaknya yang duduk di sekolah dasar juga rutin membawa bekal yang dimasak sang istri.

“Alhamdulillah anak-anak lebih suka makan bekal buatan ibunya. Kalau menu MBG, mereka bilang kurang selera,” kata Tomy.

Menurutnya, bekal dari rumah bukan hanya soal rasa, tapi juga kesehatan dan kebersihan. Ia tak menampik perasaan was-was tiap kali melihat berita keracunan MBG yang menimpa pelajar di Lampung.

“Khawatir banget. Lihat di TV sama medsos, ada siswa yang sampai pingsan usai makan MBG. Bulan ini saja sudah beberapa kali terjadi,” ungkap dia.

Minta Pemerintah Perbaiki Kualitas MBG

Tomy menilai, pemerintah seharusnya lebih memperhatikan kualitas dan proses distribusi MBG. Ia mengusulkan agar program tersebut melibatkan pelaku UMKM kantin sekolah.

“Kalau dibuat langsung di kantin sekolah, menunya bisa lebih higienis dan sesuai selera anak. Atau kalau tidak, lebih baik dana MBG diberikan ke orang tua, biar mereka yang masakin. Orang tua lebih tahu apa yang disukai anak-anaknya,” katanya.

Di tengah pro-kontra pelaksanaan program MBG, para orang tua seperti Novi dan Tomy memilih langkah praktis: kembali pada bekal dari rumah.

Bagi mereka, keamanan dan kenyamanan anak saat makan di sekolah jauh lebih penting ketimbang sekadar mengejar program.

Sebelumnya, Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal angkat bicara terkait maraknya kasus keracunan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah.

Dia menilai, persoalan tersebut muncul akibat kelalaian petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak menjalankan standar operasional prosedur (SOP) dengan baik.

“Ketika ada human error atau SOP yang sedikit saja tidak dijalankan, langsung terjadi kejadian luar biasa,” ujar Mirza usai memimpin Rapat Evaluasi Program MBG, Selasa (30/9/2025).

Mirza menerangkan, sejak Januari hingga 27 Agustus 2025, pelaksanaan program MBG berjalan tanpa kendala karena SOP dari Badan Gizi Nasional diterapkan dengan ketat.

“Artinya, ketika SOP dijalankan, selama delapan bulan tidak ada kasus keracunan atau zero accident,” jelas dia.

Namun situasi berubah setelah SOP mulai diabaikan. Kasus pertama terjadi pada 28 Agustus 2025 dan terus berulang hingga saat ini.

“Sampai hari ini sudah ada tujuh lokasi kejadian dengan total korban sekitar 500 orang. Ada yang dirawat dua hari, ada juga yang cukup diperiksa di puskesmas lalu pulang,” paparnya.

Mirza menegaskan, seluruh petugas SPPG wajib kembali bekerja sesuai aturan agar kasus serupa tidak terus terulang.

“Kita menekankan agar seluruh SPPG mengembalikan pola kerja seperti delapan bulan lalu. SOP harus dijalankan dengan sangat ketat,” tegasnya.

Selain itu, dia menginstruksikan seluruh kepala daerah, dinas kesehatan, puskesmas, hingga instansi vertikal di Lampung untuk memperketat pengawasan di dapur MBG.

“Mulai hari ini saya minta seluruh jajaran melakukan pengawasan penuh di setiap dapur MBG,” ucapnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |